Beranda » Berita » Harga minyak dunia melonjak ke US$104 per barel meski ada sinyal negosiasi AS-Iran

Harga minyak dunia melonjak ke US$104 per barel meski ada sinyal negosiasi AS-Iran

Bukitmakmur.idHarga minyak dunia kembali menanjak ke level US$104 pada perdagangan Rabu (1/4) di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan ini melanjutkan reli tajam yang pasar catat sejak awal Maret dan menandai kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah perdagangan energi global per 2026.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 0,63 persen ke angka US$104,63 per barel. Data LSEG sejak 1988 menunjukkan harga Brent sudah melonjak hingga 64 persen sepanjang Maret. Selain itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat untuk pengiriman April naik 0,95 persen ke level US$102,34 per barel, sementara kontrak Juni menguat 0,49 persen menjadi US$93,62 per barel.

Dinamika Pasokan dan Pengaruh Harga Minyak Dunia

Pasar minyak bereaksi keras terhadap ketidakpastian pasokan global meskipun pihak Amerika Serikat dan Iran memberikan sinyal untuk meredam . Para analis LSEG menilai bahwa risiko pasokan tetap tinggi karena minimnya kemajuan nyata dalam jalur diplomasi yang saat ini kedua negara tempuh.

Faktanya, serangan maritim yang berlanjut serta berbagai ancaman terhadap aset infrastruktur energi dunia memicu kekhawatiran pelaku pasar. Analis LSEG dalam catatannya melansir Reuters pada Rabu (1/4) menegaskan bahwa risiko pasokan tetap condong meningkat akibat tiadanya progres diplomasi yang signifikan.

Ketidakpastian ini membuat pasar tetap waspada meski sempat muncul laporan media mengenai kesiapan Iran mengakhiri konflik pada Selasa (31/3). Laporan tersebut sempat menekan dalam durasi singkat sebelum pasar kembali menghargai ancaman nyata terhadap jalur distribusi energi global.

Baca Juga:  HP Lipat Terbaru 2026: Alasan Pengguna Beralih

Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Infrastruktur Energi

Presiden Amerika Serikat Donald sempat menyatakan bahwa operasi militer bisa berakhir dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Akan tetapi, pelaku pasar menilai kerusakan infrastruktur serius dalam kancah perang berpotensi menahan laju pasokan minyak global untuk waktu yang cukup lama.

Lebih dari itu, sebagai jalur vital yang menampung sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG dunia masih belum beroperasi secara optimal. Penutupan jalur ini secara langsung menekan ketersediaan pasokan global dan menjaga harga tetap berada di level tinggi.

Kondisi ini terkonfirmasi melalui survei Reuters yang menunjukkan bahwa produksi minyak anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun hingga 7,3 juta barel per hari pada Maret. Gangguan distribusi akibat pembatasan ekspor memaksa negara-negara produsen mengurangi volume pengiriman secara signifikan.

Revisi Proyeksi Harga Minyak oleh Analis per 2026

Dampak buruk memaksa para analis merevisi naik ambisi proyeksi harga minyak tahunan untuk tahun . Data terbaru dari survei Reuters menunjukkan pergeseran ekspektasi pasar yang cukup drastis dibandingkan bulan sebelumnya.

Singkatnya, rata-rata harga Brent kini mencapai US$82,85 per barel untuk tahun 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 30 persen jika kita bandingkan dengan proyeksi bulan Februari yang hanya berada di level US$63,85 per barel.

Indikator Estimasi Harga (Brent)
Proyeksi Februari 2026 US$63,85 per barel
Proyeksi Maret 2026 US$82,85 per barel

Kenaikan proyeksi sebesar US$19 per barel ini mencatatkan rekor sebagai lonjakan tertinggi dalam data survei bulanan Reuters sejak tahun 2005. Perubahan drastis ini menunjukkan betapa besar pengaruh konflik Timur Tengah terhadap stabilitas energi global per 2026.

Baca Juga:  Panduan Lengkap Melunasi Kredivo Lebih Awal Agar Bunga Tidak Menumpuk

Prospek Pasar di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pasar energi saat ini berada dalam posisi krusial di antara potensi gencatan senjata dan kenyataan pahit kerusakan infrastruktur energi yang ada. Investasi dan perdagangan minyak mentah terus mengalami volatilitas setiap kali ada perkembangan terbaru di jalur diplomasi ataupun konflik fisik.

Langkah-langkah diplomatik antara Amerika Serikat dan mitra internasional lainnya kini menjadi fokus utama bagi para investor yang ingin membaca arah pasar ke depannya. Dengan demikian, pelaku industri energi harus tetap memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz sebagai penentu utama pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional.

Pada akhirnya, para ahli ekonomi tetap menyarankan kewaspadaan tinggi bagi para pemangku kepentingan di . Meskipun terdapat harapan akan berakhirnya perang dalam beberapa pekan ke depan, ketidakpastian pasokan akan tetap membayangi pergerakan selama infrastruktur belum sepenuhnya pulih.