Bukitmakmur.id – Sekitar 60 warga Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, menempati tenda pengungsian selama 1,5 bulan terakhir. Bencana tanah bergerak menghancurkan kediaman mereka dan memaksa pemerintah mengevakuasi para warga ke lokasi sementara yang berjarak sekitar 100 meter dari pemukiman asal.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam bagi para penyintas bencana tersebut. Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan kepastian mengenai lokasi relokasi permanen bagi warga yang terdampak. Padahal, rumah-rumah mereka mengalami kerusakan parah akibat pergeseran tanah yang masih berlangsung terus-menerus.
Kondisi darurat di lokasi pengungsian
Saat ini, warga Kampung Sekip menempati lima unit tenda yang berdiri di lahan kosong dengan pepohonan di sekeliling area tersebut. Suprihati, salah seorang warga berusia 51 tahun, menjelaskan bahwa setiap tenda menampung hingga sepuluh orang. Dengan demikian, satu tenda menjadi tempat bernaung bagi dua sampai tiga keluarga secara bersama-sama.
Musim penghujan yang melanda Kota Semarang menambah beban hidup para pengungsi. Air hujan sering menyusup masuk melalui sela-sela jendela tenda, namun warga tidak memiliki pilihan tempat tinggal lain. Meski situasi terasa serba sulit, mereka berupaya menjaga semangat dan tetap beraktivitas sebisa mungkin di area tersebut.
Di sisi lain, kehidupan sehari-hari warga berjalan dengan koordinasi yang cukup rapi di pengungsian. Mereka mengelola dapur umum secara mandiri melalui pembagian tim pagi dan sore. Kegiatan masak bersama ini menciptakan kebersamaan di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.
Fasilitas pendukung di kawasan pengungsian
Selain tenda, pihak terkait menyediakan bangunan semipermanen berdinding seng untuk kebutuhan sanitasi warga. Bangunan ini memiliki sekat yang berfungsi sebagai dua kamar mandi. Di area sekitar, warga memanfaatkan toren berukuran cukup besar sebagai sarana penampung air bersih.
Faktanya, bantuan kebutuhan dasar mengalir secara rutin kepada para warga selama 1,5 bulan masa pengungsian ini. Mereka tidak mengalami masalah kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pihak berwenang memastikan akses listrik tersedia dengan baik di lokasi tenda, sehingga aktivitas warga malam hari terbantu.
Dampak bencana tanah bergerak yang makin parah
Kondisi geologi wilayah Sekip menunjukkan tingkat kerawanan yang cukup tinggi. Suprihati mengungkapkan bahwa tanah di sekitar rumahnya terus mengalami pergerakan dan amblas lebih dalam. Bahkan, jalan di depan rumahnya kini mengalami penurunan hingga mencapai jarak sekitar dua meter.
Oleh karena itu, warga merasa enggan kembali ke lokasi rumah mereka yang lama. Risiko ambruknya bangunan serta ancaman pergeseran tanah yang terus berlanjut membuat rumah-rumah tersebut tidak lagi layak huni. Hingga Kamis, 2 April 2026, warga mengaku hanya bisa berupaya bertahan di pengungsian sambil menunggu langkah lanjutan pemerintah.
Menanti kepastian relokasi pemerintah
Pihak berwenang memberikan informasi kepada warga bahwa mereka wajib meninggalkan tenda pengungsian pada 16 April 2026 mendatang. Namun, janji mengenai kepastian tempat tinggal baru belum menemui titik terang. Warga masih memegang janji pemerintah untuk mencarikan hunian yang lebih aman bagi keluarga mereka.
Selanjutnya, warga hanya bisa berharap pemerintah segera merealisasikan rencana relokasi tersebut sebelum tenggat waktu tiba. Ketidakpastian ini menimbulkan rasa cemas bagi seluruh kepala keluarga yang terdampak bencana tanah bergerak. Mereka menunggu langkah nyata pemerintah dalam menyediakan hunian yang layak dan aman agar bisa memulai kembali kehidupan normal.
Pada akhirnya, nasib 60 warga Kampung Sekip bergantung pada ketegasan kebijakan pemerintah kota setempat. Harapan besar tertuju pada proses relokasi yang transparan agar para warga tidak terus-menerus hidup di bawah tenda darurat. Fokus utama mereka saat ini adalah mendapatkan tempat tinggal permanen yang terbebas dari ancaman bencana susulan.