Beranda » Berita » Night Terror pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Night Terror pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Bukitmakmur.id – Dokter Yeni Quinta Mondiani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan fenomena night terror pada dalam diskusi kesehatan terbaru pada tahun 2026. Fenomena anak yang tiba-tiba berteriak histeris atau menunjukkan ketakutan ekstrem saat tidur ini memicu kekhawatiran besar bagi para orang tua di Indonesia.

Kondisi ini membedakan dirinya dari mimpi buruk biasa melalui karakteristik klinis yang spesifik. Pemahaman yang tepat mengenai mekanisme tidur serta pola perkembangan sistem saraf anak menjadi kunci bagi orang tua dalam menghadapi situasi ini tanpa kepanikan yang berlebihan.

Memahami Mekanisme Night Terror pada Anak

Yeni Quinta Mondiani menegaskan bahwa tidur berfungsi sebagai proses biologis krusial untuk pemulihan fisik dan perkembangan saraf. Secara medis, dokter membagi tidur ke dalam dua fase utama, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Proses restorasi tubuh berlangsung selama tahap 3 dan 4 NREM yang orang sering sebut sebagai tidur dalam atau deep sleep.

American Academy of Sleep Medicine mengklasifikasikan night terror pada anak ke dalam kelompok parasomnia. Kondisi ini muncul sebagai gangguan bangun parsial dari fase NREM. Selain itu, episode ini sering terjadi pada sepertiga awal malam, tepatnya sekitar 60 hingga 90 menit setelah anak mulai terlelap.

Menariknya, kondisi ini memiliki pola yang cukup konsisten pada setiap anak. Berbeda dengan mimpi buruk yang biasanya muncul menjelang pagi, gangguan ini melibatkan respon fisiologis yang sangat intens. Hal tersebut menegaskan bahwa orang tua perlu memahami perbedaan antara mimpi buruk dan kondisi ini agar mereka mengambil langkah penanganan yang tepat.

Baca Juga:  Bank Jatim Serahkan CSR Mobil Ambulans untuk Warga Nganjuk

Gejala dan Karakteristik Night Terror

Orang tua sering salah mengartikan gangguan ini dengan kejang karena intensitas reaksinya yang tinggi. Yeni memberikan penjelasan mengenai cara membedakan keduanya agar orang tua memiliki dasar yang kuat dalam melakukan observasi. Berikut adalah rincian perbedaan antara kedua kondisi tersebut yang perlu dipahami secara mendalam:

Aspek Night Terror Kejang
Durasi Relatif lebih lama Cenderung singkat
Pola Gerakan Sangat bervariasi Stereotip atau berpola sama

Kondisi night terror memperlihatkan gerakan tubuh yang beragam saat anak berteriak atau tampak ketakutan. Sebaliknya, kejang menunjukkan pola yang kaku dan serupa pada setiap kejadian. Dengan demikian, orang tua dapat melakukan pemantauan yang lebih akurat sebelum mengambil keputusan untuk membawa anak ke layanan kesehatan.

Langkah Pencegahan dan Penanganan Efektif

Kelelahan atau kurang tidur menjadi salah satu faktor pencetus paling sering dalam memicu episode night terror pada anak. Oleh karena itu, orang tua wajib menjaga kualitas serta durasi tidur anak sesuai kebutuhan usia mereka. tidur yang tenang dan teratur membentuk fondasi utama dalam meminimalisir frekuensi kejadian ini secara jangka panjang.

Jika episode tersebut terjadi, orang tua sebaiknya tetap tenang dan tidak membangunkan anak secara paksa. Tindakan terbaik meliputi pemastian lingkungan sekitar agar tetap aman sehingga anak tidak mengalami cedera akibat gerakan yang tidak sadar. Lebih dari itu, orang tua dapat merekam kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi untuk mempermudah konsultasi dengan dokter spesialis di lain waktu.

Bahkan, pemahaman mengenai kesehatan anak secara menyeluruh juga mencakup aspek lain. Dokter spesialis anak Frieda Handayani menyoroti pentingnya asupan dan komposisi FOS:GOS 1:9 guna mendukung kesehatan usus serta optimalisasi penyerapan nutrisi. Foundation saluran cerna yang sehat mendukung tumbuh kembang anak secara keseluruhan termasuk stabilitas sistem saraf mereka.

Baca Juga:  Cara Daftar Shopee Affiliate Program 2026 Syarat Mudah Tanpa Minimal Followers

Dukungan Emosional dan Lingkungan Aman

Psikolog Michelle Brigitta turut memberikan pandangan mengenai pentingnya stabilitas emosional orang tua dalam mendampingi anak dalam situasi stres seperti ujian . Stabilitas emosi pendamping yang baik menyebabkan proses belajar menjadi lebih efektif dan minim tekanan. Hal ini secara tidak langsung membantu anak mengelola kecemasan yang mungkin terbawa hingga ke waktu tidur mereka.

Singkatnya, para ahli sangat menekankan peran proaktif orang tua dalam menciptakan suasana rumah yang kondusif. Langkah ini meminimalisir potensi gangguan dan perilaku pada anak. Selain itu, kebijakan seperti PP Tunas atau PP Nomor 17 Tahun 2025 yang mendapat dukungan dari psikolog Sani B. Hermawan membuktikan bahwa aspek di ranah maupun fisik memerlukan perhatian serius pemerintah per .

Identifikasi dini terhadap masalah perilaku dan seringkali menjadi kunci sukses penanganan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun memberikan peringatan mengenai risiko child grooming dalam relasi sebaya. Kewaspadaan orang tua dalam memantau modus manipulasi psikologis sangat diperlukan, terutama pada jenjang usia remaja saat ini.

Pematangan Sistem Saraf dan Harapan ke Depan

Penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa pada hampir semua kasus, gangguan tidur ini muncul sebagai bagian alami dari proses pematangan sistem saraf. Seiring bertambahnya usia anak, frekuensi gangguan ini akan berkurang hingga hilang sepenuhnya. Pemahaman rasional serta pola hidup yang teratur memberikan hasil terbaik dalam menunjang kesehatan anak.

Pada akhirnya, konsistensi orang tua dalam menerapkan rutinitas tidur yang sehat berperan sangat vital. Anak membutuhkan stabilitas dalam setiap aspek kehidupannya, mulai dari nutrisi yang tepat, pendampingan emosional, hingga pola istirahat yang terjaga. Dengan pendekatan yang holistik, orang tua membantu anak melewati fase tumbuh kembang dengan optimal dan penuh kasih sayang hingga tahun 2026 dan seterusnya.

Baca Juga:  Tragedi Praka Farizal Gugur di Lebanon Saat Salat Isya