Bukitmakmur.id – Nilai tukar rupiah menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah pada Selasa, 7 April 2026, dengan posisi penutupan di angka Rp17.105 per dolar AS. Pasar valuta asing mencatat pelemahan mata uang Garuda sebesar 70 poin atau setara dengan 0,41 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Level tersebut menggeser posisi terendah yang pernah rupiah alami pada masa krisis moneter 1998 di level Rp16.800 per dolar AS. Bank Indonesia melalui kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan nilai tukar rupiah pada posisi Rp17.105 per dolar AS saat penutupan perdagangan hari ini.
Dinamika Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah dan Pasar Global
Pelemahan mata uang domestik ini terjadi di tengah performa mayoritas mata uang kawasan Asia yang justru bergerak di zona hijau. Yen Jepang mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,08 persen, sementara baht Thailand naik 0,21 persen. Selain itu, yuan China menunjukkan performa positif dengan penguatan mencapai 0,33 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,77 persen.
Data pasar juga menunjukkan kondisi mata uang lain di Asia yang bervariasi. Peso Filipina mengalami pelemahan sebesar 0,46 persen. Namun, dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing menguat 0,10 persen dan 0,1 persen. Fenomena ini mempertegas tekanan spesifik yang rupiah hadapi dalam perdagangan domestik per 2026.
Performa Mata Uang Negara Maju
Tidak hanya mata uang Asia, mata uang utama negara maju juga kompak menunjukkan tren penguatan saat rupiah justru berada di titik terendah. Euro Eropa mencatatkan kenaikan 0,23 persen, sementara poundsterling Inggris menguat 0,03 persen. Selain itu, franc Swiss mencatat penguatan sebesar 0,18 persen dalam penutupan perdagangan sore ini.
Dolar Australia dan dolar Kanada juga mengikuti tren positif pasar global. Berikut adalah ringkasan pergerakan mata uang dunia saat rupiah melemah:
| Mata Uang | Perubahan (%) |
|---|---|
| Yen Jepang | +0,08 |
| Baht Thailand | +0,21 |
| Yuan China | +0,33 |
| Dolar Australia | +0,12 |
| Dolar Kanada | +0,18 |
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa sentimen geopolitik menjadi pemicu utama fluktuasi nilai tukar saat ini. Kekhawatiran akan eskalasi perang di Timur Tengah mendorong sentimen negatif terhadap aset berisiko. Alhasil, pelaku pasar memilih aset aman (safe haven) seperti dolar AS, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah ke level terdalam pada Selasa, 7 April 2026.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia memberikan beban tambahan bagi anggaran pemerintah Indonesia. Pemerintah hingga saat ini belum menaikkan harga BBM, yang berisiko menekan fiskal nasional. Lukman menambahkan bahwa kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran tahun 2026.
Proyeksi Defisit Anggaran 2026
Banyak pihak memperkirakan bahwa defisit anggaran negara akan tetap melewati ambang batas 3 persen. Situasi ini tetap berlangsung meskipun pemerintah sudah berupaya mengurangi anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Pertanyaannya, mampukah pemerintah mengelola tekanan fiskal di tengah pelemahan mata uang yang bersejarah ini?
Singkatnya, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian mengharuskan setiap pihak tetap waspada. Kebijakan moneter dan fiskal yang tepat sasaran menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi ke depan. Pemerintah tentu berharap pergerakan kurs dapat segera kembali ke titik keseimbangan baru seiring dengan stabilnya tensi di pasar global.