Bukitmakmur.id – Gelombang anti-AS di Pakistan meletup hebat mulai 28 Februari 2026. Masyarakat turun ke jalan sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat bersama Israel yang menyasar Iran pada tanggal tersebut.
Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekerasan massal di berbagai kota besar Pakistan. Situasi ini meningkatkan risiko keamanan signifikan bagi operasional diplomatik dan warga negara asing di wilayah tersebut.
Hanya dalam hitungan jam setelah serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, gelombang massa mendatangi fasilitas diplomatik Amerika. Aksi unjuk rasa kemudian berubah menjadi bentrokan fisik mematikan pada 1 Maret 2026.
Penyebaran Gelombang anti-AS di Pakistan
Demonstrasi pecah serentak di sejumlah kota strategis Pakistan. Masyarakat di Karachi, Islamabad, Lahore, dan Peshawar menunjukkan kemarahan secara terbuka. Wilayah utara seperti Skardu dan Gilgit juga tidak luput dari gejolak massa.
Sebagian besar demonstran berasal dari komunitas Syiah. Mereka menyuarakan solidaritas penuh bagi Iran sembari mengecam tindakan militer tersebut. Selain itu, aksi ini mencerminkan sentimen mendalam yang seketika meluas ke seluruh penjuru negeri.
Di Karachi, massa mencoba menerobos kompleks Konsulat AS hingga mengakibatkan 10 orang kehilangan nyawa dan puluhan lainnya menderita luka-luka. Tidak hanya itu, aparat keamanan di Islamabad terpaksa melepaskan gas air mata serta peluru tajam saat ribuan demonstran berusaha menembus kawasan diplomatik.
Bentrokan ini mengakibatkan serangkaian korban jiwa dan cedera fisik di berbagai lokasi. Secara total, data mencatat sedikitnya 24 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat kerusuhan massal tersebut.
Respons Pemerintah Pakistan Terhadap Krisis
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi berusaha menenangkan situasi dengan menyatakan dukungan moral terhadap masyarakat. Pemerintah mencoba menempatkan diri sebagai pihak yang berempati atas dukacita warga. Akan tetapi, upaya tersebut masih belum mampu meredam emosi massa di lapangan.
Pemerintah Pakistan akhirnya mengerahkan pasukan tambahan guna mengendalikan keadaan. Mereka memberlakukan jam malam selama tiga hari di wilayah Gilgit dan Skardu untuk menghentikan kerusuhan lebih lanjut.
Di Skardu, massa melakukan penyerangan terhadap kantor United Nations Military Observer Group. Kemudian di Gilgit, kerusuhan memicu aksi pembakaran fasilitas publik, termasuk kantor polisi dan berbagai gedung milik pemerintah.
Bahkan, upaya pembakaran serupa terjadi di sekitar area Konsulat AS di Lahore. Pemerintah Pakistan sendiri tetap menempuh jalur diplomatik yang hati-hati di tengah tekanan domestik yang sangat tinggi.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menyatakan kecaman keras terhadap serangan yang menimpa Iran. Ia menyerukan penghentian eskalasi melalui jalur dialog segera. Perdana Menteri Shehbaz Sharif juga mengirimkan pesan belasungkawa atas wafatnya Khamenei dengan menekankan bahwa seorang pemimpin negara seharusnya bukan target serangan militer.
Dampak Operasional Bagi Kepentingan Amerika Serikat
Amerika Serikat segera menanggapi memburuknya situasi keamanan dengan membatasi aktivitas diplomatik secara drastis. Konsulat AS di Karachi menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan staf secara ketat. Di sisi lain, konsulat di Peshawar menghentikan seluruh operasional untuk sementara waktu.
Departemen Luar Negeri AS menerbitkan perintah evakuasi bagi staf non-esensial dari kantor Lahore dan Karachi. Keputusan ini lahir akibat meningkatnya risiko ancaman fisik terhadap perwakilan Amerika di Pakistan. Hingga saat ini, status peringatan perjalanan untuk Pakistan masih bertahan pada Level 3.
Status tersebut mewajibkan warganya mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke Pakistan. Beberapa wilayah bahkan memiliki tingkat risiko keamanan jauh lebih tinggi daripada kondisi normal. Berikut rincian perubahan langkah pengamanan diplomatik tersebut:
| Lokasi | Kebijakan Keamanan |
|---|---|
| Konsulat Karachi | Membatasi staf & evakuasi |
| Konsulat Peshawar | Operasional berhenti sementara |
| Konsulat Lahore | Evakuasi staf non-esensial |
Analisis Dinamika Geopolitik di Pakistan
Dr. Sakariya Kareem, seorang akademisi, menyoroti tantangan berat bagi pemerintah Pakistan dalam menjaga hubungan bilateral dengan Washington tanpa memicu kegaduhan publik. Pemimpin negara kini berada dalam posisi yang sangat sulit.
Menariknya, situasi ini memberi peluang bagi China untuk memainkan peran strategis lebih besar. Dengan melemahnya kehadiran diplomatik AS, posisi Beijing diprediksi semakin kuat di Pakistan. Hal ini berdampak langsung pada kelangsungan proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC).
Kareem menilai bahwa rangkaian peristiwa ini menandai pergeseran besar dalam lingkungan keamanan nasional Pakistan. Kehadiran Amerika kini bukan lagi sekadar mitra diplomatik, melainkan sudah menjadi target sentimen publik.
Pakistan sendiri menempati posisi negara dengan populasi Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran. Kondisi ini membuat sentimen anti-AS di Pakistan cenderung terus bertahan dalam jangka panjang. Pengamat memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi memburuk dalam beberapa minggu ke depan apabila pemerintah tidak bertindak dengan sangat cermat.
Pihak militer maupun sipil harus mengelola ketegangan ini secara hati-hati agar tidak memicu reaksi lokal yang lebih luas. Pada akhirnya, instabilitas di kawasan ini menunjukkan bahwa kehadiran asing akan selalu menghadapi tantangan besar saat api konflik regional berkobar.