Bukitmakmur.id – Pangeran Jayakarta memimpin perlawanan sengit melalui taktik gerilya melawan pasukan Belanda di Batavia selama 80 tahun, termasuk di wilayah Jatinegara. Sejarawan Betawi Alwi Shahab dalam bukunya berjudul Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia menjelaskan bahwa pemimpin lokal ini memilih Jatinegara sebagai basis pertahanan setelah peristiwa 30 Mei 1619.
Pasukan Belanda di bawah kendali Jan Pieterszoon Coen berhasil mengalahkan Pangeran Jayakarta di ibu kota saat itu. Akibat kekalahan tersebut, sang Pangeran menyingkir dan membuka kawasan hutan jati yang rimbun sebagai pusat pemerintahan dalam pengasingan.
Strategi Pangeran Jayakarta dan Asal Usul Nama Jatinegara
Pangeran Jayakarta memberi nama wilayah tempat pengungsiannya sebagai Jatinegara yang bermakna negara sejati. Hal ini membuktikan bahwa pemerintahan sang Pangeran masih berjalan meskipun Belanda mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Langkah ini juga menjadi simbol perlawanan tanpa henti terhadap kolonialisme selama delapan dekade.
Selain itu, pengikut setia sang Pangeran ikut membuka lahan hutan belukar tersebut untuk keperluan tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, keturunan mereka tumbuh besar dan menetap di sana, membentuk sebuah perkampungan yang masyarakat kenal sebagai Jatinegara Kaum. Menariknya, wilayah ini pada mulanya hanya menampung keluarga serta pengikut Pangeran Jayakarta, sebelum akhirnya penduduk luar daerah menetap di sana pula.
Riwayat Meester Cornelis dalam Sejarah Jatinegara
Sebuah pandangan lain mengenai asal-usul nama wilayah ini muncul dari keberadaan hutan jati yang lebat di masa kolonial. Sejarah mencatat bahwa seseorang bernama Meester Cornelis van Senen membeli sebidang tanah di sekitar aliran sungai Ciliwung pada tahun 1661. Peristiwa ini terjadi jauh setelah Pangeran Jayakarta memulai babad alas di kawasan yang sama.
Cornelis van Senen sendiri merupakan seorang guru asal Pulau Banda, Maluku. Masyarakat memberikan tambahan gelar Meester yang berarti tuan guru karena keahliannya dalam mengajar, khususnya dalam bidang agama. Dengan demikian, warga saat itu lebih sering menyebut daerah permukiman dan pusat perdagangan tersebut sebagai kawasan Mester atau Meester Cornelis.
Perkembangan Infrastruktur dan Integrasi Batavia
Pemerintah Belanda membangun berbagai sarana transportasi penting di kawasan tersebut seiring meningkatnya aktivitas ekonomi. Pertama, operator meresmikan jalur kereta api yang menghubungkan Jatinegara dengan Jakarta Kota pada 6 April 1875. Kedua, trem uap yang menghubungkan Kampung Melayu atau Meester Cornelis dengan area Kota Intan mulai beroperasi pada 1881.
Lebih dari itu, lokasi ini menjadi bagian dari jalur Anyer-Panarukan yang Daendels bangun untuk mendorong pengembangan perekonomian seluruh Pulau Jawa. Berkat pesatnya pertumbuhan infrastruktur tersebut, Meester Cornelis menjelma menjadi kota satelit Batavia yang paling menonjol pada abad ke-19. Alhasil, pemerintah Belanda memasukkan wilayah tersebut sebagai bagian integral dari kota Batavia pada 1 Januari 1936.
| Peristiwa Penting | Tahun |
|---|---|
| Peresmian jalur kereta api | 1875 |
| Operasional trem uap | 1881 |
| Integrasi ke wilayah Batavia | 1936 |
| Penamaan Jatinegara era Jepang | 1942 |
Perubahan Identitas dan Administrasi Kawasan
Nama Jatinegara kembali populer pada tahun 1942, tepatnya saat pendudukan Jepang di Indonesia. Pemerintahaan Jepang berupaya keras menghilangkan semua identitas yang berbau Belanda, sehingga mereka mengganti nama Meester Cornelis secara resmi menjadi Jatinegara. Akan tetapi, perubahan nama ini tidak serta merta menghapus sebutan Mester di kalangan masyarakat lokal.
Sebelumnya, pada tahun 1924, pemerintah sudah menetapkan Mester sebagai nama kabupaten. Wilayah kabupaten ini mencakup empat kawedanan, antara lain:
- Kawedanan Meester Cornelis
- Kawedanan Kebayoran
- Kawedanan Bekasi
- Kawedanan Cikarang
Transformasi administratif ini menunjukkan betapa strategisnya posisi wilayah tersebut bagi pemerintah kolonial dan kemudian bagi pendudukan Jepang. Setiap perubahan nama maupun status kewilayahan mencerminkan dinamika kekuasaan yang pernah singgah di tanah Jatinegara.
Perjalanan sejarah dari masa perjuangan Pangeran Jayakarta hingga era modern 2026 memberikan pelajaran akan pentingnya menjaga narasi lokal. Wilayah ini kini berdiri sebagai saksi bisu kegigihan seorang pemimpin dalam mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan kolonial. Semangat membabad alas yang pernah sang Pangeran tunjukkan tetap menjadi inspirasi berharga bagi generasi masa kini untuk terus membangun bangsa.