Bukitmakmur.id – Mata uang Iran mengalami pelemahan signifikan sejak 2026 akibat tekanan geopolitik dan kebijakan ekonomi global yang semakin ketat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang menjalin kerja sama bisnis dengan Iran, menciptakan dampak berlapis pada stabilitas mata uang nasional Iran, yaitu rial.
Kondisi ekonomi Iran terus tertekan, namun ada fenomena menarik yang kerap membingungkan pengunjung asing. Di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan Iran, istilah “rial” hampir tidak terdengar dalam percakapan transaksi sehari-hari. Masyarakat setempat justru lebih akrab menggunakan sebutan “toman” saat menyebut harga barang atau jasa.
Rial Vs Toman: Perbedaan Mendasar Mata Uang Iran
Secara hukum dan administratif, Iran menetapkan rial sebagai mata uang resmi negara. Seluruh aktivitas perbankan, dokumen pemerintahan, hingga pencantuman harga di pusat perbelanjaan modern menggunakan satuan rial dengan kode internasional IRR. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Iran nyaris tidak pernah menyebut istilah “rial” saat bertransaksi.
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada nilai tukar. Satu toman setara dengan 10.000 rial, atau dapat dipahami sebagai rial yang dipangkas empat angka nol. Sistem ini memudahkan masyarakat menyebut harga tanpa menggunakan deretan angka yang terlalu panjang, meskipun secara resmi rial tetap menjadi mata uang negara.
Mengapa Masyarakat Iran Lebih Sering Menggunakan Toman
Fenomena ini tidak terlepas dari tingkat inflasi yang sangat tinggi di Iran. Akibat inflasi berkepanjangan, penyebutan harga dalam rial memerlukan angka yang sangat besar dan sulit diucapkan. Untuk mempermudah penyebutan dan menghindari kebingungan, Iran menerapkan sistem hitung alternatif berupa toman.
Contohnya, jika seorang pedagang menyebut harga barang sebesar 60.000 toman, maka nilai yang harus dibayarkan sebenarnya adalah 600.000 rial. Perbedaan penyebutan inilah yang kerap membuat wisatawan asing kebingungan saat pertama kali berkunjung ke Iran. Masyarakat lokal sudah terbiasa dengan sistem ini karena inflasi telah memaksa mereka beradaptasi dengan cara yang lebih praktis.
Kebijakan Redenominasi Iran 2025-2026
Pemerintah Iran melalui Bank Sentral Iran (Central Bank of Iran/CBI) mulai menggulirkan kebijakan redenominasi sejak 2020 untuk mengakhiri kebingungan yang berlangsung lama. Proses ini kemudian dijalankan secara lebih luas dan bertahap pada periode 2025 hingga 2026.
Melalui kebijakan redenominasi tersebut, Iran secara resmi mengganti satuan mata uang utamanya dari rial menjadi toman versi baru dengan memangkas empat angka nol. Dengan skema ini, 10.000 rial lama kini setara dengan 1 toman baru. Mata uang baru tersebut juga terbagi ke dalam pecahan yang lebih kecil bernama qiran, di mana satu toman terdiri atas 100 qiran.
Dalam masa transisi, uang kertas lama masih tetap berlaku dan beredar bersama uang baru. Sementara itu, uang kertas yang diterbitkan belakangan menampilkan nominal yang lebih kecil, disertai bayangan angka nol sebagai penanda perubahan sistem dan penyesuaian bertahap bagi masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Pelemahan Rial Iran
Sanksi ekonomi internasional yang berlangsung bertahun-tahun menjadi tekanan terbesar terhadap stabilitas nilai tukar rial. Pembatasan ekspor minyak serta tertutupnya akses ke sistem perbankan global menyebabkan pemasukan devisa negara terus menyusut. Akibatnya, kemampuan Iran mempertahankan nilai tukarnya semakin terbatas.
Selain itu, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah memberikan dampak signifikan terhadap kepercayaan pasar. Setiap kali ketegangan politik meningkat, nilai rial hampir selalu kembali tertekan dan mengalami pelemahan lanjutan. Di dalam negeri, laju inflasi yang tinggi dari tahun ke tahun turut menggerus daya beli masyarakat dan memperlemah posisi mata uang secara keseluruhan.
Data mencatat bahwa nilai tukar rial bahkan sempat menyentuh level terendah jika dikonversikan ke euro. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan berat yang dialami perekonomian Iran akibat kombinasi sanksi dan inflasi yang berkelanjutan.
Dampak Redenominasi Terhadap Ekonomi Iran
Kebijakan redenominasi yang berlangsung 2025-2026 dirancang untuk menyederhanakan sistem keuangan nasional dan mengurangi kebingungan. Langkah ini juga bertujuan memudahkan masyarakat dalam bertransaksi dan memahami nilai mata uang mereka sendiri tanpa perlu menghitung deretan angka panjang.
Proses redenominasi bukan solusi langsung untuk mengatasi inflasi, namun merupakan upaya administratif untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang sudah berlangsung lama. Dengan tomon sebagai mata uang resmi baru menggantikan rial, Iran berharap sistem pembayaran dan transaksi keuangan menjadi lebih efisien dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Strategi ini juga membantu dalam menargetkan stabilisasi inflasi ke depannya. Dengan basis mata uang yang lebih sederhana, bank sentral dapat lebih mudah mengkomunikasikan kebijakan moneter kepada publik dan membangun kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional.
Kesimpulan
Pelemahan mata uang Iran mencerminkan tantangan ekonomi kompleks yang dihadapi negara akibat sanksi internasional, inflasi tinggi, dan ketegangan geopolitik. Perbedaan antara rial dan toman bukan sekadar masalah nominasi, melainkan adaptasi praktis masyarakat terhadap realitas ekonomi yang sulit. Kebijakan redenominasi 2025-2026 menunjukkan upaya pemerintah Iran untuk menyederhanakan sistem keuangan dan memudahkan transaksi ekonomi sehari-hari masyarakat.