Bukitmakmur.id – Andy Robertson mengakui Mohamed Salah memainkan peran besar dalam perjalanannya di Liverpool sejak tiba dari Hull City. Bek kiri The Reds itu menceritakan bagaimana Salah membantu mengatasi krisis kepercayaan diri di fase awal karirnya bersama klub Merseyside.
Robertson bergabung Liverpool dengan beban psikologis yang lumayan berat. Dia merasa belum memiliki keyakinan penuh terhadap kemampuannya untuk berkompetisi di level elite. Akan tetapi, lingkungan positif di Anfield, termasuk figur-figur berpengalaman seperti James Milner, Jordan Henderson, dan Adam Lallana, membantu membangun mental juaranya.
Meski banyak pemain senior memberikan kontribusi moral, Salah menjadi salah satu sosok paling berpengaruh dalam transformasi Robertson. “Mo dan saya sudah dekat sejak hari pertama. Dia membantu saya sejak saya pertama kali datang,” ungkap Robertson.
Kepercayaan Diri Terbentuk dari Lingkungan Positif
Robertson mengungkapkan bahwa transisi dari Hull bukan sekadar tentang menyesuaikan standar fisik. Nah, aspek mental menjadi tantangan terbesar yang dia hadapi saat memulai karir di Liverpool.
“Saya bergabung dari Hull dan mungkin tidak memiliki kepercayaan diri sebanyak yang seharusnya. Ada beberapa orang yang sangat berpengaruh pada saya di tahap awal itu – James Milner, Jordan Henderson, Adam Lallana – orang-orang baik di sekitar saya,” papar Robertson lebih lanjut.
Selain itu, dukungan mentor-mentor senior membuat Robertson percaya pada potensi dirinya. Mereka secara konsisten menunjukkan kepadanya apa yang mampu dia capai jika fokus dan disiplin. “Mereka memberi saya kepercayaan diri tentang apa yang bisa saya capai dan Mo adalah bagian besar dari itu,” lanjut Robertson.
Salah Sebagai Teladan Dedikasi dan Profesionalisme
Lebih dari sekadar memberikan motivasi verbal, Salah menunjukkan contoh nyata tentang dedikasi sejati terhadap sepak bola. Robertson melihat sendiri bagaimana bintang Mesir itu berkomitmen pada setiap menit latihan dan pertandingan.
“Dengan Mo, setiap menit, setiap hari didedikasikan untuk sepak bola dan itulah mengapa dia dalam kondisi puncak. Dia dalam kondisi luar biasa, sangat jarang cedera dan benar-benar menjaga dirinya,” kata Robertson memuji sikap profesional Salah.
Mentalitas seperti itu, menurut Robertson, sangat penting untuk mencapai puncak industri sepak bola modern. Akibatnya, Salah bukan hanya pemain bintang, tetapi juga menjadi standar hidup profesional bagi rekan-rekannya. “Mentalitas seperti itulah yang Anda butuhkan untuk berada di level elite,” tegas Robertson.
Pengaruh Salah Terhadap Performa Robertson
Dampak kehadiran Salah terhadap Robertson terlihat jelas dalam pencapaian pemain berusia 30 tahun ini. Sejak menerima bimbingan dan dukungan dari winger tersebut, Robertson tampil konsisten di lini pertahanan Liverpool.
Tidak hanya itu, kolaborasi keduanya di sisi kanan serangan Liverpool menciptakan kombinasi yang solid. Robertson mampu memberikan assist berkualitas sementara Salah menjalankan tugas finishing dengan sempurna. Dinamika ini membuat Robertson semakin percaya diri dalam mengambil inisiatif permainan.
Menariknya, pertumbuhan kepercayaan diri Robertson sejalan dengan periode ketika Liverpool mencapai berbagai prestasi bergengsi. Hal ini membuktikan bahwa investasi pada aspek psikologis pemain sama pentingnya dengan latihan teknis dan taktis.
Akhir Era Salah di Liverpool
Setelah sembilan musim bersama The Reds, Mohamed Salah resmi memutuskan mengakhiri perjalanannya. Club dan pemain mencapai kesepakatan untuk berpisah memasuki musim 2026-2027.
Keputusan Salah meninggalkan Liverpool menandai akhir babak penting dalam sejarah klub. Dalam periode tersebut, dia membantu Liverpool meraih berbagai trofi dan mencetak ratusan gol. Selain itu, pengaruhnya terhadap rekan-rekan seperti Robertson terbukti signifikan dalam membangun budaya profesionalisme di Anfield.
Robertson, yang akan tetap mempertahankan posisinya di Liverpool, harus melanjutkan perjalanan tanpa kehadiran mentor dan rekan setim yang begitu berpengaruh ini. Namun, nilai-nilai yang Salah tanamkan selama sembilan tahun bersama akan terus membimbing calon pemimpin baru di klub.
Warisan Kepemimpinan yang Berkelanjutan
Meski Salah akan pergi, dampak kepemimpinannya tidak akan hilang begitu saja dari Anfield. Robertson dan pemain-pemain lain yang pernah merasakan bimbingannya akan meneruskan nilai-nilai profesionalisme yang ditunjukkan sang bintang Mesir.
Oleh karena itu, kehadiran Salah di Liverpool selama sembilan tahun lebih dari sekadar catatan statistik dan trofi. Dia meninggalkan warisan mengenai dedikasi, kerja keras, dan komitmen terhadap keunggulan yang akan membentuk generasi pemain Liverpool di masa depan.
Dengan demikian, kepergian Salah menandai transisi bagi Liverpool menuju era baru. Namun, pembelajaran dan pengalaman yang diperoleh dari kehadiran winger legendaris itu akan terus memandu klub menuju kesuksesan mendatang.