Bukitmakmur.id – Benjamin Netanyahu terus mengklaim Israel berada dalam posisi unggul dalam konflik yang berlangsung sekitar satu bulan, sekaligus menilai Iran semakin tertekan. Perdana Menteri Israel itu juga menegaskan operasi militer terhadap Iran akan terus dilanjutkan bersama Amerika Serikat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan situasi jauh lebih kompleks dari pernyataan pemerintah.
Tekanan terhadap Israel justru meningkat signifikan dari berbagai penjuru. Negara Timur Tengah itu menghadapi serangan drone dan rudal dari Iran, roket dari Hizbullah Libanon, serta ancaman dari kelompok Houthi Yaman. Kombinasi ancaman berlapis ini memaksa Israel merasionalisasi penggunaan sistem pertahanan udaranya, seperti dilaporkan media internasional pada Minggu 29 Maret 2026.
Ancaman Berlapis dari Tiga Arah Berbeda
Israel menghadapi tekanan militer dari tiga fronte sekaligus. Pertama, Iran terus meluncurkan rudal balistik secara berkala, menciptakan ketegangan konstan di wilayah Israel bagian selatan dan tengah.
Kedua, kelompok Hizbullah di Libanon meluncurkan roket, sementara pertempuran paling intens terjadi di wilayah utara Israel, khususnya sepanjang perbatasan dengan Libanon. Pasukan Israel terus melakukan operasi di Libanon selatan guna membentuk zona penyangga, namun menghadapi perlawanan Hizbullah yang berupaya mempertahankan posisinya di dekat perbatasan.
Ketiga, kelompok Houthi dari Yaman resmi bergabung dalam perang dengan meluncurkan rudal balistik ke Israel bagian selatan. Militer Israel klaim berhasil mencegat serangan Houthi yang menargetkan kawasan Beer Sheba, sementara pada Sabtu 28 Maret 2026 malam, pasukan Israel juga mengumumkan pencegatan drone di atas kota pelabuhan Eilat yang diduga berasal dari Yaman.
Dampak Serangan pada Sistem Pertahanan Israel
Tekanan berlapis dari berbagai arah membuat Israel mulai melakukan rasionalisasi penggunaan sistem pertahanan udaranya. Akibat beban berlebihan dalam menghadapi ancaman rudal dan serangan dari berbagai penjuru sekaligus, Israel tidak bisa mengoperasikan semua sistem pertahanannya pada kapasitas penuh.
Salah satu serangan rudal Iran menghantam kota Beit Shemesh di Israel bagian tengah, menyebabkan kerusakan signifikan dan melukai 11 orang. Dalam satu jam terakhir sebelum laporan rilis, sirene peringatan berbunyi kembali di wilayah selatan Israel, termasuk kawasan Negev, menyusul potensi serangan rudal dari Iran.
Kritik dari Oposisi Domestik Israel
Klaim Netanyahu tentang keunggulan Israel menuai kritik tajam dari kalangan oposisi domestik. Para politisi oposisi menilai situasi di lapangan tidak sepenuhnya mencerminkan pernyataan pemerintah.
Mereka mempertanyakan ketiadaan strategi keluar yang jelas dari konflik berkepanjangan ini. Oposisi juga menuding Netanyahu kerap melebih-lebihkan capaian militer Israel untuk mempertahankan dukungan publik terhadap operasi militer yang sedang berlangsung.
Meskipun demikian, survei menunjukkan dukungan perang dari warga Yahudi mencapai 78 persen pada 2026. Namun, tren penolakan mulai meningkat, terlihat dari ratusan warga Israel yang bentrok dengan polisi saat mengadakan protes antiperang Iran di Tel Aviv pada Sabtu 28 Maret 2026.
Ketegangan Internal dan Persiapan Militer
Selain menghadapi tekanan eksternal, Israel juga mengalami ketegangan internal. Hubungan antara Netanyahu dan Kepala Mossad David Barnea dikabarkan retak akibat saling tuding terkait akurasi intelijen perang Iran dan isu kebocoran informasi di pusat keamanan negara.
Di sisi lain, Pentagon sedang menyiapkan skenario operasi darat di Iran untuk beberapa minggu ke depan. Pemerintah Amerika Serikat mengerahkan ribuan pasukan ke kawasan Timur Tengah untuk mendukung operasi tersebut. Merespons ancaman ini, Militer Iran menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi kemungkinan invasi darat dari AS dan Israel.
Dampak Humaniter dan Perspektif Internasional
Konflik menyebabkan kerugian humaniter yang besar. Menlu Iran Abbas Araghchi melaporkan 600 sekolah hancur dan 1.000 siswa-guru menjadi korban dalam serangan AS-Israel. Laporan ini dipresentasikan di Dewan HAM PBB Jenewa, membawa perhatian komunitas internasional pada dampak konflik terhadap pendidikan dan kehidupan sipil.
Turki, melalui Menlu Hakan Fidan, menyebut Israel sebagai hambatan terbesar perdamaian di Timur Tengah. Turki menilai Israel memanfaatkan politik Amerika Serikat untuk kepentingan agenda strategisnya dan memperpanjang instabilitas regional.
Penutup
Meskipun Netanyahu terus mengklaim keunggulan Israel dalam konflik, dinamika di lapangan menunjukkan situasi jauh lebih kompleks. Israel menghadapi tekanan berlapis dari Iran, Hizbullah Libanon, dan Houthi Yaman secara bersamaan, yang memaksa negara tersebut merasionalisasi pertahanan udaranya. Sementara itu, oposisi domestik mempertanyakan strategi perang pemerintah, dan dampak humaniter terus bertambah dengan seribu nyawa sipil menjadi korban serangan militer.
Prospek penyelesaian konflik masih jauh dari jelas, sementara persiapan militer untuk operasi darat terus dilakukan. Situasi ini menunjukkan bahwa klaim keunggulan Netanyahu tidak sepenuhnya mencerminkan realitas medan pertempuran yang penuh tantangan dan tekanan dari berbagai arah.