Bukitmakmur.id – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI tengah menjajaki penguatan kerja sama dengan Pemerintah Jepang melalui skema sister park, per 2026. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong taman nasional di Indonesia agar berkelas dunia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah bertemu dengan perwakilan Jepang, termasuk Shichimeko Shuici dan Ikuo Yamada, membahas potensi kerja sama pengelolaan taman nasional yang memiliki karakteristik ekosistem serupa. Selain itu, pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan bilateral di sektor lingkungan hidup dan kehutanan, seiring dengan agenda kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang.
Potensi Kolaborasi Sister Park Indonesia-Jepang
Dalam pertemuan tersebut, Kemenhut mengusulkan kerja sama sister park antara Fuji-Hakone-Izu National Park di Jepang dengan beberapa taman nasional andalan di Indonesia. Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi kandidat kuat dalam kolaborasi ini.
Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa kerja sama ini diharapkan bisa menjadi langkah strategis. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik di bidang perlindungan lingkungan dan pengembangan ekowisata. Menariknya, inisiatif ini juga berpotensi memperkuat posisi taman nasional Indonesia di kancah global.
Dukungan Pemerintah Jepang dan Langkah Selanjutnya
Pemerintah Jepang menyambut baik rencana tersebut dan mendorong tindak lanjut konkret melalui penyelenggaraan technical workshop. Workshop ini akan menjadi tahap awal penting untuk merumuskan kerangka kerja sama yang lebih implementatif dan berkelanjutan, memastikan kolaborasi berjalan efektif dan memberikan dampak positif bagi kedua negara. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang juga menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif ini.
Nota Kesepahaman Konservasi Satwa Liar 2026
Sebelumnya, pada 28 Maret 2026, Kemenhut telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Prefektur Shizuoka terkait perlindungan dan konservasi satwa liar. Nota kesepahaman ini mencakup program breeding loan komodo (Varanus komodoensis), yang menjadi simbol komitmen kedua negara terhadap pelestarian keanekaragaman hayati. Dengan demikian, kerja sama ini semakin mempererat hubungan bilateral Indonesia-Jepang di sektor lingkungan hidup dan kehutanan.
Tantangan dan Harapan dalam Implementasi Sister Park
Meski potensi kerja sama ini sangat besar, tantangan dalam implementasinya juga perlu dipertimbangkan. Koordinasi antarlembaga, perbedaan regulasi, dan adaptasi praktik terbaik dari Jepang ke konteks Indonesia menjadi beberapa hal yang perlu diatasi. Akan tetapi, dengan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak, tantangan ini dapat diatasi dan kerja sama sister park dapat berjalan sukses.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha sebelumnya melaporkan kejadian erupsi Gunung Semeru pada 19 November yang melibatkan sejumlah pengunjung di kawasan Ranu Kumbolo. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan pengelolaan risiko di kawasan konservasi.
Sister Park: Investasi Jangka Panjang untuk Konservasi
Inisiatif sister park ini bukan hanya sekadar kerja sama teknis, tetapi juga investasi jangka panjang dalam konservasi lingkungan dan pengembangan ekowisata berkelanjutan. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman, Indonesia dan Jepang dapat saling memperkuat kapasitas dalam mengelola kawasan konservasi secara efektif dan efisien.
Kesimpulan
Kerja sama antara Indonesia dan Jepang melalui skema sister park menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengelolaan taman nasional. Dengan dukungan penuh dari kedua pemerintah dan partisipasi aktif dari berbagai pihak terkait, inisiatif ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pelestarian lingkungan dan pengembangan ekowisata di Indonesia.