Bukitmakmur.id – Sebanyak 250 ekor ternak unggul asal Australia tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (30/3) malam, guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Ratusan hewan yang terdiri dari sapi perah, domba, dan unta ini menjadi angin segar bagi peningkatan produksi susu dan daging di Indonesia.
Kedatangan ternak-ternak berkualitas ini merupakan wujud nyata dukungan sektor swasta terhadap program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Selain itu, impor ternak ini juga bertujuan untuk memperbaiki kualitas genetika ternak lokal dan memenuhi kebutuhan satwa untuk sektor pariwisata.
Tujuan Kedatangan Ratusan Ternak Unggul
Direktur PT Tombak Mas Nusantara, Aji Bagus Setiyawan, menjelaskan secara rinci tujuan dari impor 250 ekor ternak unggul tersebut. Aji menuturkan bahwa fokus utama adalah meningkatkan produksi susu dan daging dalam negeri, serta memperbaiki mutu genetik ternak lokal. Tidak hanya itu, kedatangan unta juga ditujukan untuk memperkaya daya tarik wisata di Indonesia.
“Kami membawa beberapa jenis hewan, terutama domba unggul seperti Dorper, Suffolk, dan Texel. Fokus kami adalah pengembangan bibit agar peternak lokal bisa meningkatkan kualitas ternaknya,” ungkap Aji kepada awak media di Bandara Juanda sesaat setelah proses bongkar muat selesai.
Distribusi Ternak Unggul ke Berbagai Daerah
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan yang ketat, seluruh hewan impor ini akan didistribusikan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Domba dan sapi perah akan dikirim ke Malang dan beberapa daerah di Jawa Barat. Tujuan pengiriman ini adalah meningkatkan populasi bibit unggul di wilayah tersebut.
Sementara itu, unta-unta yang didatangkan khusus akan dikirim ke Lembang Zoo, Jawa Barat. Kehadiran unta ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan semakin memperkuat posisi Lembang Zoo sebagai destinasi ekowisata unggulan nasional.
Sapi Perah Friesian Holstein untuk Swasembada Susu
Aji Bagus Setiyawan menekankan pentingnya sapi perah jenis Friesian Holstein dalam upaya mencapai target swasembada susu nasional. Pihaknya berharap, dengan adanya impor sapi perah unggul ini, peternak lokal dapat segera meningkatkan produksi susu dan memenuhi kebutuhan susu nasional yang terus meningkat per 2026.
“Untuk sapi perah, kami ingin mendorong peternak agar bisa segera berproduksi dan memenuhi kebutuhan susu nasional,” imbuhnya.
Masa Karantina untuk Jaminan Keamanan Hayati
Guna memastikan keamanan hayati dan mencegah penyebaran penyakit, seluruh hewan impor tidak langsung dikirim ke lokasi tujuan. Sesuai dengan regulasi pemerintah, hewan-hewan tersebut wajib menjalani masa karantina selama 14 hari di Surabaya.
“Seluruh hewan langsung kami kirim ke karantina di Surabaya selama 14 hari sebelum nantinya didistribusikan ke daerah tujuan seperti Malang dan Lembang,” tegas Aji.
Dukungan untuk Program Pemerintah dan Investasi Peternakan
Langkah impor ternak unggul ini diharapkan dapat mempercepat investasi di sektor peternakan. Selain itu, juga memberikan dukungan terhadap program pemerintah terkait penyediaan makanan bergizi gratis di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kerja sama dengan mitra Australia dan dukungan tenaga ahli kesehatan hewan menjadi kunci keberhasilan impor ini. Pemerintah optimis bahwa sinergi antara sektor swasta dan pemerintah akan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Update Krisis BBM Australia 2026
Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, Australia justru dilanda krisis BBM parah per 2026. Lebih dari 500 SPBU mengalami kekeringan akibat *panic buying* yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Pemerintah Australia bahkan memangkas sementara pajak bahan bakar hingga setengahnya untuk meredam gejolak harga. Dua pemerintah negara bagian, Victoria dan Tasmania, mengumumkan penggratisan biaya transportasi publik sebagai solusi alternatif.
Albanese menyebutkan keterlibatan “positif” dengan Malaysia sebagai pemasok minyak penting bagi Australia, serta dengan kawasan ASEAN yang lebih luas dalam upaya mengatasi krisis ini. Krisis ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya diversifikasi sumber energi dan mitigasi risiko geopolitik.
Kesimpulan
Kedatangan 250 ekor ternak unggul dari Australia menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tahun 2026. Dengan peningkatan produksi susu dan daging, perbaikan genetika ternak lokal, dan pemenuhan kebutuhan satwa wisata, diharapkan Indonesia dapat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya dan meningkatkan daya saing sektor pariwisata. Pemerintah dan pihak terkait terus berupaya untuk memastikan keamanan hayati dan kelancaran distribusi ternak ke berbagai daerah di Pulau Jawa.