Beranda » Berita » Kasus Korupsi Dibahas Bupati Lebak Saat Halal Bihalal

Kasus Korupsi Dibahas Bupati Lebak Saat Halal Bihalal

Bukitmakmur.idKasus korupsi di Kabupaten Lebak kembali mencuat setelah Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, menyinggung masa lalu Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, di depan para (ASN). Peristiwa ini berlangsung di Pendopo Kabupaten Lebak, Banten, pada Senin (30/3/2026) pagi saat agenda halal bihalal perayaan 1447 H.

Hasbi Jayabaya melontarkan pernyataan tersebut saat memberikan pidato di hadapan ratusan pegawai pemerintah daerah. Awalnya, bupati mengkritik kebiasaan yang sering memanggil pejabat ke ruangannya. Hasbi menganggap tindakan tersebut melanggar ketentuan dalam Pasal 66 UU yang mengatur tata kerja birokrasi pemerintahan.

Ketegangan memuncak ketika Hasbi menambahkan sindiran pribadi terkait latar belakang Amir Hamzah sebagai eks narapidana. Bupati tersebut mengklaim Amir Hamzah beruntung bisa menjabat posisi wakil bupati, meskipun memiliki rekam jejak kriminal di masa lalu. Pernyataan ini memicu amarah besar dari sang wakil bupati di lokasi acara.

Kronologi Kasus Korupsi yang Diungkit Bupati

Pihak Bupati Lebak merujuk pada masa lalu Amir Hamzah yang pernah terjerat kasus hukum berat. Amir Hamzah memang pernah terlibat dalam skandal suap sengketa Pilkada Kabupaten Lebak tahun 2013. Kasus tersebut melibatkan tokoh besar saat itu, yaitu pengusaha Chaeri Wardhana alias TCW dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar.

Pengadilan menjatuhkan vonis pidana penjara selama 3 tahun 5 bulan kepada Amir Hamzah pada 21 Desember 2015. Sejak saat itu, Amir menjalani masa hukumannya hingga selesai. Namun, pembahasan kembali mengenai kasus ini di depan publik pada tahun 2026 menimbulkan gejolak baru di lingkungan Pemkab Lebak.

Baca Juga:  Tragedi Praka Farizal Gugur di Lebanon Saat Salat Isya

Hasbi Jayabaya berdalih bahwa intonasi bicaranya semata-mata menunjukkan nada apresiasi. Menurut versinya, seorang mantan warga binaan yang berhasil mencapai posisi wakil bupati merupakan sebuah prestasi tersendiri. Meski demikian, pihak Amir Hamzah menanggapi narasi tersebut sebagai serangan pribadi yang sangat tidak etis di forum formal.

Reaksi Keras Wakil Bupati Amir Hamzah

Amir Hamzah segera merespons ucapan Hasbi sesaat setelah pidato selesai. Dia mencoba menegur Bupati Lebak atas pilihan kata yang dianggapnya merendahkan martabatnya sebagai pejabat publik. Menariknya, upaya konfrontasi tersebut tidak berjalan lancar karena keluarga dan para pegawai segera melerai situasi di Pendopo Kabupaten Lebak.

Setelah merasa tidak nyaman lagi berada di lokasi, Amir Hamzah memutuskan meninggalkan kantor bupati. Dia segera pulang ke kediamannya dengan perasaan kesal atas insiden yang baru saja terjadi. Amir menilai sikap bupati tersebut mencerminkan kepemimpinan yang kurang bijaksana dan tidak menghargai sesama rekan kerja.

Berikut ringkasan mengenai posisi dan status yang memicu tersebut:

Pihak Terkait Jabatan Inti Perselisihan
Hasbi Jayabaya Bupati Lebak Menilai wakil bupati melanggar UU ASN & membahas masa lalu
Amir Hamzah Wakil Bupati Lebak Merasa terhina secara pribadi di depan khalayak umum

Dampak Sikap Bupati Terhadap Keharmonisan Pemerintah

Amir Hamzah menyatakan bahwa ini bukan kali pertama bupati bersikap kurang sopan. Dia menyebut Hasbi sering menggunakan bahasa yang tidak pantas, bahkan saat rapat resmi di berbagai dinas. Lebih dari itu, Amir berpandangan bahwa bupati yang lebih muda darinya harus menunjukkan etika komunikator yang lebih baik kepada wakilnya.

Pernyataan bupati yang menyebutkan kata “elu” dan menyinggung status mantan narapidana di depan para ASN terasa seperti bentuk penghinaan yang fatal. Amir Hamzah menegaskan bahwa urusan pribadi tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan tugas kepemerintahan. Oleh karena itu, dia merasa perlu angkat bicara kepada media setelah kejadian tersebut.

Baca Juga:  Alternatif Impor Minyak Indonesia Aman Usai Berbagai Strategi Bahlil

Ketidakharmonisan antara dua pimpinan daerah ini tentu memunculkan spekulasi mengenai efektivitas koordinasi birokrasi di Lebak pada 2026. Banyak pihak khawatir jika pertikaian publik ini berlanjut, maka pelayanan kepada masyarakat akan terganggu. Situasi internal Pemkab Lebak mendadak menjadi sorotan pasca hari raya .

Langkah Ke Depan bagi Pemerintahan Lebak

Singkatnya, insiden ini menciptakan preseden buruk dalam pemerintahan daerah. Etika komunikasi sangat penting dalam menjaga stabilitas kepemimpinan. Terlebih lagi, posisi bupati dan wakil bupati merupakan lambang kesatuan dalam melayani publik, yang seharusnya terjaga dari perselisihan personal.

Masyarakat kini menanti bagaimana kedua belah pihak menyelesaikan ketegangan ini secara elegan. Apabila perseteruan ini terus berlanjut, masyarakat mengkhawatirkan kinerja birokrasi di daerah tersebut. Pada akhirnya, profesionalisme tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan warga Kabupaten Lebak terhadap pemimpinnya.