Beranda » Berita » FOMO dan Hati yang Kosong: Perspektif Alquran Tahun 2026

FOMO dan Hati yang Kosong: Perspektif Alquran Tahun 2026

Bukitmakmur.id – Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) melanda urban di tahun 2026 dengan intensitas tinggi, memicu kegelisahan hati yang tak berujung. Kondisi ini muncul seiring dengan kebiasaan banyak individu menggulir layar tanpa henti untuk memantau aktivitas orang lain, yang justru meninggalkan kekosongan batin meski arus informasi melimpah.

Kondisi hati yang terasa penuh dengan suara namun kehilangan makna ini sejatinya sudah Alquran antisipasi berabad-abad silam. Sebagai , umat bisa menengok kembali firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang menekankan pentingnya mengingat Allah demi meraih ketenangan sejati di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Memahami Akar FOMO dan Kegelisahan Batin

atau perasaan takut tertinggal menjadi bentuk modern dari kegelisahan hati yang kehilangan arah. Fenomena ini sering kali muncul saat seseorang merasa perlu mengetahui segala hal yang dimiliki atau dijalani orang lain melalui layar gawai. Akibatnya, kecemasan muncul tanpa disadari meski penyebab utamanya tampak sepele.

memberikan jawaban atas kegelisahan ini melalui ayat 28 dalam Surah Ar-Ra’d. Allah berfirman: Alladzīna āmanū wa taṭmainnu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭmainnul-qulụb, yang artinya: ‘(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram’.

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan bukan sesuatu yang orang cari di luar diri, melainkan aspek yang individu temukan ke dalam diri sendiri. Dengan berfokus pada zikir, seseorang mampu mengalihkan perhatian dari obsesi membandingkan hidup dengan orang lain menuju hubungan personal dengan Sang Pencipta.

Baca Juga:  Cara Mengurus Surat Pindah Datang Antar Provinsi Secara Online

Rahasia Hati Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Abu Hamid al-Ghazali, dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, memberikan penjelasan mendalam mengenai peran sentral hati bagi manusia. Menurut beliau, hati berfungsi sebagai permata mulia yang dengannya manusia mampu mengenal Tuhannya.

Hati bertindak sebagai pusat makna bagi setiap tindakan manusia. Beliau menulis: I‘lam anna al-qalba huwa al-jawharu asy-syarīfu alladzī bihi ya‘rifu al-insānu rabbah, wa huwa al-mukhāṭabu wal-muṭālabu wal-mu‘ātabu, wa huwa al-mutsābu wal-mu‘āqab. Maknanya, hati adalah sosok yang diajak bicara, yang dituntut, ditegur, menerima pahala, hingga menanggung siksa.

Al-Ghazali menganalogikan hati seperti cermin yang mampu memantulkan cahaya Ilahi. Namun, debu duniawi sering kali mengotori cermin tersebut. Pada tahun , tantangan terbesar bagi manusia adalah menjaga hati dari debu-debu halus berupa FOMO, yang secara diam-diam memadamkan cahaya spiritual di dalam jiwa.

Panduan Mengatasi FOMO dengan Pendekatan Spiritual

Penting bagi setiap individu untuk mengenali kapan hati mulai terasa letih karena terlalu banyak menyerap informasi yang tidak relevan. Berikut adalah langkah praktis yang bisa dilakukan untuk menjaga batin per tahun 2026:

  • Membatasi durasi konsumsi konten digital untuk memberi ruang bagi ketenangan batin.
  • Mengutamakan zikir atau mengingat Allah sebagai prioritas utama saat kecemasan muncul.
  • Mengalihkan perhatian dari menuju kegiatan refleksi diri secara rutin.
  • Menyadari bahwa nilai diri seseorang tidak bergantung pada apa yang orang lain pamerkan.

Tabel berikut merangkum perbedaan antara kecenderungan FOMO dan kondisi hati yang tenteram sebagai pengingat untuk evaluasi diri:

Karakteristik Hati FOMO (Kegelisahan) Tenteram (Zikir)
Fokus Perhatian Dunia luar / Orang lain Diri sendiri & Tuhan
Respons Emosi Letih & Cemas Tenang & Bermakna
Baca Juga:  Cara Daftar Akun Stockbit Untuk Analisis Saham Fundamental dan Teknikal

Pentingnya Mengembalikan Fungsi Hati

Sebagai pusat dari segala perilaku, hati memerlukan perawatan rutin sama seperti tubuh fisik. Alquran dan pandangan ulama terdahulu tetap relevan pada masa kini karena menjawab esensi terdalam manusia, yaitu kedamaian. Di tengah berbagai tuntutan zaman, menggali kembali ajaran spiritual menjadi langkah krusial agar manusia tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Pada akhirnya, ketenangan adalah sebuah pilihan yang memerlukan konsistensi. Seseorang yang mampu mengarahkan hatinya hanya kepada Allah akan merasakan ketentraman yang tidak lagi goyah oleh dinamika media sosial maupun tren yang terus berganti di tahun 2026 ini. Menjaga hati tetap jernih dari debu duniawi adalah investasi berharga bagi kesehatan mental dan spiritual jangka panjang.