Bukitmakmur.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman eskalasi militer keras terhadap Iran dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin waktu setempat 2026. Ia menyatakan kesiapan militer Amerika Serikat untuk menghancurkan infrastruktur vital, termasuk jembatan dan pembangkit listrik di seluruh Iran, apabila Teheran gagal memenuhi tuntutan pemerintah AS sebelum tenggat waktu Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Trump menegaskan bahwa operasi militer skala besar bisa menyasar Iran kapan saja dengan pernyataan kontroversial bahwa seluruh negara tersebut bisa musnah dalam satu malam. Ancaman ini muncul di tengah ketegangan yang kian memuncak setelah Iran menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat dalam konflik yang berlangsung selama 38 hari sejak serangan balasan rudal dan drone Iran ke Timur Tengah.
Lebih dari sekadar ancaman fisik, Donald Trump menuntut jaminan kelancaran lalu lintas minyak bebas di Selat Hormuz. Selat ini memegang peranan krusial bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia. Jika Teheran tetap menolak kesepakatan tersebut, Trump menyatakan bahwa setiap jembatan di Iran akan hancur dan setiap pembangkit listrik akan berhenti beroperasi, terbakar, bahkan meledak secara total.
Mengupas Ancaman Kejahatan Perang Iran oleh Trump
Tindakan mengincar infrastruktur sipil seperti pembangkit energi sering para pengamat anggap sebagai pelanggaran hukum internasional yang berat. Akan tetapi, Trump menepis keraguan tersebut dengan menyatakan bahwa ia tidak mengkhawatirkan label kejahatan perang. Ia justru melontarkan argumen bahwa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir merupakan bentuk kejahatan perang yang sesungguhnya.
Bahkan, Trump melabeli para pemimpin Iran sebagai binatang yang telah membunuh puluhan ribu demonstran. Meskipun jajak pendapat memperlihatkan ketidaksetujuan mayoritas warga Amerika terhadap perang ini, Trump tetap mempertahankan posisi kerasnya. Ia bahkan menyebut kelompok yang menentang perang sebagai orang-orang yang bodoh. Di sisi lain, Rusia dan Iran menyoroti serangan terhadap fasilitas sipil sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan menyerukan penghentian serangan terhadap objek nonmiliter.
Operasi Penyelamatan Berisiko Tinggi dan Dampak Ekonomi
Militer Amerika Serikat berhasil menjalankan operasi penyelamatan berisiko tinggi untuk mengevakuasi dua awak pesawat F-15 yang jatuh di wilayah musuh. Trump memuji misi tersebut sebagai pencarian jarum di tumpukan jerami. Faktanya, operasi ini melibatkan lebih dari 170 pesawat militer AS. Meskipun sukses, dua pesawat angkut sempat terperosok ke dalam pasir dan militer terpaksa meledakkan pesawat tersebut agar musuh tidak bisa menyitanya.
Direktur CIA, John Ratcliffe, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan operasi pengecohan untuk mengelabui pasukan Iran yang juga mencari kedua penerbang tersebut. Selain ketegangan militer, konflik ini memicu lonjakan harga minyak global yang berdampak signifikan. Data menunjukkan daftar 10 negara yang menaikkan harga BBM, termasuk Vietnam, Singapura, dan Australia. Berikut adalah ringkasan ekonomi terkait situasi konflik:
| Indikator Ekonomi | Keterangan |
|---|---|
| Harga BBM | Terjadi kenaikan di 10 negara, termasuk Australia dan Singapura |
| IHSG (13/3/2026) | Melemah 0,32% ke level 7.338 akibat ketegangan global |
Langkah Strategis dan Ketegangan di Selat Hormuz
Pemerintah Amerika Serikat juga mempertimbangkan rencana untuk memungut biaya tol bagi kapal minyak yang melintasi Selat Hormuz. Ironisnya, langkah ini serupa dengan ancaman yang pernah dilontarkan Iran sebelumnya. Sementara itu, Teheran menyatakan bahwa mereka hanya akan membuka jalur Selat Hormuz jika pendapatan dari biaya transit tersebut digunakan untuk membayar ganti rugi perang.
Konflik 2026 ini terus berkembang dengan dinamika baru. Donald Trump memberikan waktu tambahan bagi Iran hingga 6 April. Di sisi lain, Teheran memberikan ancaman bom terhadap hotel yang menampung tentara AS di Timur Tengah. Ketegangan kini meningkat di Teluk Persia, di mana AS mempertimbangkan operasi darat di Pulau Kharg, sementara Iran memperkuat pertahanan dengan memasang ranjau dan sistem rudal MANPADS.
Risiko Nuklir dan Masa Depan Konflik
Presiden Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang jeda serangan ke fasilitas energi Iran selama 10 hari. Hal ini terjadi di tengah peringatan dari IAEA mengenai risiko radiasi nuklir yang bisa timbul di Bushehr. Teheran terus menguraikan tuntutannya berdasarkan kepentingan nasional dan menyampaikan aspirasi mereka melalui pihak ketiga agar dunia internasional memahami posisi mereka.
Pada akhirnya, komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi selama 2026 menjadi perhatian utama di tengah gejolak pasar global. Pertanyaan besarnya, apakah eskalasi ancaman ini akan bermuara pada dialog atau kehancuran total yang Trump gambarkan? Hingga saat ini, situasi di kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketidakpastian yang berisiko mengguncang ekonomi dan stabilitas global lebih jauh.