Bukitmakmur.id – Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, menuduh militer Amerika Serikat menggunakan bom penghancur bunker untuk menyerang Universitas Sharif di Teheran pada Senin pagi, 6 April 2026. Serangan udara ini merusak sejumlah gedung kampus prestisius tersebut hingga ke level di bawah tanah.
Kecaman muncul dari Aref setelah rudal menghantam area pendidikan tersebut. Aref menilai tindakan ini sebagai wujud kegilaan dan ketidaktahuan pihak Amerika Serikat dalam menekan Iran melalui kekuatan militer.
Dampak Serangan Bom Penghancur Bunker di Universitas Sharif
Bom jenis penghancur bunker memiliki kemampuan penetrasi tinggi. Senjata ini menghancurkan bangunan hingga mencapai fondasi terdalam di bawah permukaan tanah. Aref, yang menyandang gelar insinyur dari Universitas Stanford, menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat tidak akan melemahkan posisi Iran.
Pemerintah Iran meyakini bahwa pengetahuan elit pendidikan mereka tidak tertanam di dalam beton. Tekad para profesor dan cendekiawan tetap menjadi benteng kokoh yang tidak akan runtuh oleh serangan bom. Kebiadaban sejarah pun, menurut Aref, tidak mampu merampas ilmu pengetahuan dari masyarakat Iran.
Universitas Sharif memiliki reputasi besar sebagai pusat studi ilmiah unggulan di Iran. Banyak pihak sering membandingkan kampus ini dengan Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di Amerika Serikat. Sejarah mencatat beberapa profesor yang berafiliasi dengan universitas ini pernah menghadapi ancaman pembunuhan setelah muncul tuduhan terkait hubungan dengan program nuklir Iran.
Eskalasi Serangan di Teheran dan Lokasi Lainnya
Teheran mengalami guncangan akibat pemboman besar-besaran pada malam hari. Serangan menghantam bagian timur, selatan, dan barat ibu kota. Selain merusak gedung Universitas Sharif, serangan juga menyasar fasilitas gas di sekitar kampus. Kerusakan gedung-gedung di sekitar area tersebut mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data menunjukkan pola serangan yang kian meluas dalam beberapa minggu terakhir. Amerika Serikat dan Israel menargetkan berbagai infrastruktur krusial, termasuk rumah sakit, sekolah, serta sektor minyak dan baja. Berikut data kerugian dan lokasi terdampak serangan udara per 6 April 2026:
| Lokasi Sasaran | Keterangan Dampak |
|---|---|
| Universitas Sharif | Kerusakan masif, gedung hancur hingga bawah tanah |
| Bandar-e-Lengeh | Enam orang syahid |
| Qom | Lima orang syahid |
| Baharestan | 13 orang syahid, termasuk 6 anak-anak |
Selain Teheran, serangan udara Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut ke berbagai kota lain. Laporan kerusakan parah muncul dari kota Karaj, Shiraz, Isfahan, dan Bushehr. Serangan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di berbagai wilayah yang menjadi target.
Respon Pemerintah Iran dan Tekanan Internasional
Pemerintah Amerika Serikat sejauh ini belum memberikan komentar resmi mengenai serangan terhadap kampus di Teheran. Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz tetap tegang. Iran menolak tawaran gencatan senjata sementara dari Amerika Serikat, sehingga jalur krusial tersebut tetap tertutup.
Apakah tindakan militer ini akan mengubah peta politik Timur Tengah di masa depan? Beberapa analis mencatat bahwa serangan ke sektor pendidikan menunjukkan sasaran yang lebih luas dibanding periode tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Iran di bawah kepemimpinan saat ini terus menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan bagian dari jiwa bangsa yang tidak bisa musnah.
Tekanan internasional kini semakin memuncak setelah insiden di Universitas Sharif. Banyak pihak mengamati bagaimana eskalasi ini berdampak pada stabilitas kawasan. Iran sendiri tetap menempatkan tekad elit pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai benteng utama pertahanan bangsa dalam menghadapi situasi darurat per 2026 ini.
Pada akhirnya, kekuatan militer besar tidak menjamin hancurnya fondasi intelektual sebuah negara. Pemerintah Iran berkomitmen menjaga kelangsungan riset dan pendidikan meskipun di tengah tekanan serangan udara yang masif. Ilmu pengetahuan tetap berakar kuat, dan mereka menolak untuk menyerah pada kebiadaban serangan yang menargetkan masa depan bangsa.