Bukitmakmur.id – Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi Kristiana Siste Kurniasanti membagikan panduan bagi para orang tua untuk mendampingi buah hati saat menghadapi tantrum ketika gadget disita pada awal 2026. Fenomena ini sering menciptakan situasi tegang di berbagai ruang keluarga, di mana anak merasa kehilangan akses penuh terhadap dunia digital mereka.
Banyak orang tua mengalami kesulitan emosional saat anak menangis atau membanting pintu karena aturan pembatasan perangkat teknologi. Kristiana Siste Kurniasanti menegaskan bahwa reaksi tantrum tersebut mencerminkan bentuk keterikatan mendalam antara anak dengan kebiasaan, kesenangan instan, serta kebutuhan sosial yang kini berpindah ke ruang digital.
Memahami tantrum anak saat gadget disita
Reaksi agresif anak saat orang tua mengambil ponsel atau tablet muncul karena mereka belum mampu mengelola frustrasi dengan baik. Saat gadget menjadi pusat kehidupan sehari-hari, kehilangan akses tersebut sering memicu kekosongan yang memicu emosi meluap-luap.
Orang tua sering terjebak dalam dilema antara menerapkan disiplin atau memilih ketenangan sesaat dengan memberikan kembali perangkat tersebut. Padahal, tindakan menyerah pada tuntutan anak justru memperkuat perilaku tantrum sebagai metode efektif untuk mengendalikan situasi di masa depan.
Peran orang tua sebagai penuntun emosi
Para ahli menekankan pentingnya peran orang tua bukan sekadar sebagai pembuat aturan, melainkan sebagai penuntun emosi bagi anak. Membatasi penggunaan teknologi tanpa pemahaman yang cukup akan memperbesar konflik di dalam rumah tangga secara signifikan.
Sebaliknya, membiarkan anak menggunakan perangkat tanpa batasan jelas juga membuka celah ketergantungan yang tidak sehat. Orang tua perlu menempatkan diri sebagai pendamping yang tenang agar anak memahami batasan perilaku yang wajar.
Strategi menghadapi tantrum dengan konsistensi
Konsistensi menjadi kunci utama dalam mendidik anak agar mengerti batas penggunaan teknologi di tahun 2026. Orang tua perlu menerapkan aturan yang tetap dan tidak berubah-ubah setiap hari agar anak dapat menyesuaikan diri dengan pola kehidupan secara bertahap.
Berikut adalah langkah-langkah praktis dalam membangun konsistensi di ruang keluarga:
- Menentukan jadwal waktu bermain yang tegas untuk setiap anggota keluarga
- Menetapkan lokasi penggunaan perangkat di area terbuka, seperti ruang tengah atau ruang keluarga
- Membatasi aktivitas digital pada jam-jam tertentu setiap malam guna menjaga kualitas istirahat
Selain langkah-langkah di atas, orang tua harus menjaga ketenangan diri saat menghadapi ledakan emosi anak. Menghindari amarah balik atau kepanikan membantu anak belajar bahwa tantrum tidak akan mengubah aturan yang sudah orang tua tetapkan sebelumnya.
Menghadirkan alternatif pengganti gadget
Aturan disiplin hanya akan berhasil apabila orang tua memberikan alternatif aktivitas yang menarik untuk mengisi kekosongan saat gadget tidak tersedia. Tanpa adanya pengganti, anak akan merasa bosan dan cenderung kembali menuntut akses digital sebagai pelarian.
Interaksi langsung melalui percakapan ringan, kegiatan fisik bersama, atau permainan edukatif menjadi pilihan yang sangat efektif. Kehadiran orang tua secara utuh dalam aktivitas tersebut secara perlahan mengalihkan fokus anak dari hiburan layar menuju interaksi dunia nyata yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, kesabaran dan kehadiran orang tua menjadi kunci utama dalam mengubah dinamika keluarga yang kini sering didominasi oleh cahaya layar. Dengan menerapkan metode pendampingan yang konsisten, orang tua dapat membimbing anak agar mampu mengelola penggunaan teknologi secara bijak di masa depan.