Bukitmakmur.id – Kegagalan pasar keuangan global mengantisipasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran investor pada Senin (13/4/2026). Delegasi AS meninggalkan Pakistan tanpa membawa hasil kesepakatan setelah Iran enggan memberikan komitmen penghentian pengembangan senjata nuklir.
Situasi ini mengecewakan para pelaku pasar yang sebelumnya meningkatkan eksposur aset berisiko. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan delegasi negaranya kembali tanpa membawa progres nyata dari perundingan yang berlangsung sepanjang akhir pekan lalu.
Sentimen Pasar Keuangan Global Terhadap Aset Safe Haven
Analis memantau potensi peningkatan permintaan terhadap aset safe haven karena investor kini mulai menghindari risiko. Secara umum, para ahli memprediksi dolar AS bakal menguat setelah mengalami pelemahan sebesar 1,4 persen selama sepekan terakhir. Selain itu, harga minyak memiliki potensi kenaikan, sementara pasar saham menghadapi tekanan berat.
Obligasi pemerintah AS tampak bergerak variatif karena tarik-menarik antara permintaan aset aman dan kekhawatiran inflasi. Di sisi lain, harga emas berpeluang menguat mengikuti dinamika ketidakpastian geopolitik. Kendati demikian, sebagian analis menilai reaksi pasar mungkin tidak terlalu besar jika investor menganggap kegagalan ini sebagai hambatan sementara dalam proses negosiasi perdamaian.
Dampak Pembicaraan AS-Iran di Selat Hormuz
Analis Capital.com Inc., Kyle Rodda, menyebut pergerakan obligasi pemerintah AS akan sangat bergantung pada harga minyak. Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, ekspektasi inflasi bakal melonjak tajam. Oleh karena itu, kunci pergerakan pasar terletak pada persepsi investor mengenai apakah eskalasi retorika ini akan berkepanjangan.
Selanjutnya, Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana, berpendapat bahwa berakhirnya pembicaraan tanpa kesepakatan mengikis reli pasar sebelumnya. Selat Hormuz tetap menjadi sumber ketidakpastian utama yang memengaruhi sentimen risiko dan potensi reli harga minyak.
| Indeks Saham | Perubahan |
|---|---|
| Dow Jones Industrial Average (DJI) | -0,6% |
| S&P 500 (SPX) | -0,1% |
| Nasdaq Composite (XIC) | +0,4% |
Performa Wall Street dalam Menanti Kepastian
Pasar saham AS atau Wall Street mencatat hasil beragam pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026). Indeks menghadapi ketegangan besar sembari menunggu hasil pembicaraan AS dan Iran. Sebelumnya, pasar sempat mencatatkan pekan terbaik sejak November 2025.
Data mencatat indeks S&P 500 sempat naik 3,6 persen, Dow Jones melonjak 3 persen, dan Nasdaq menguat 4,7 persen sepanjang minggu ini. Ketiga indeks tersebut mencetak kenaikan persentase mingguan terbesar sejak November 2025 sebelum akhirnya ditutup pada level 47.916,57 untuk Dow Jones dan 6.816,89 untuk S&P 500.
Fluktuasi Harga Minyak dan Indeks Dolar
Harga minyak tetap tinggi meskipun sempat anjlok drastis pada Rabu (8/4/2026) setelah Donald Trump membatalkan ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran. Saat ini, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz hanya berada pada sebagian kecil dari tingkat sebelum perang terjadi.
Dinamika harga komoditas dan mata uang menunjukkan pola berikut:
- Minyak mentah AS turun USD 1,30 ke level USD 96,57 per barel.
- Minyak Brent berakhir di USD 95,20 per barel, turun 72 sen.
- Indeks dolar AS turun 0,2 persen menjadi 98,68.
- Euro naik 0,25 persen ke posisi USD 1,1728.
- Dolar AS menguat 0,2 persen terhadap yen Jepang menjadi 159,3.
Pergerakan Imbal Hasil Obligasi dan Logam Mulia
Imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan kenaikan tipis di pasar global. Imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik 2,4 basis poin menjadi 4,317 persen, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun naik 1,1 basis poin ke level 4,909 persen. Imbal hasil obligasi dua tahun yang mencerminkan ekspektasi suku bunga Federal Reserve naik 1,9 basis poin menjadi 3,802 persen.
Di pasar logam mulia, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi USD 4.747,88 per ons. Sebaliknya, harga perak spot justru naik 1,4 persen ke angka USD 76,10 per ons. Investor kini berharap ketegangan ini segera mereda agar stabilitas pasar keuangan global kembali pulih seperti sediakala pada akhir 2026.