Bukitmakmur.id – Layanan iklim dan cuaca Eropa Copernicus bersama NOAA memperkirakan pembentukan fenomena El Nino yang sangat kuat dalam beberapa bulan mendatang per April 2026. Peneliti memprediksi intensitas cuaca ini akan menguat secara signifikan menjelang musim dingin akhir tahun nanti.
Para ahli meteorologi memperkirakan fenomena El Nino super ini akan meningkatkan temperatur global secara drastis. Bahkan, lonjakan suhu diprediksi melampaui rekor tahun terpanas yang dunia catat pada 2024 lalu.
Dampak El Nino Super Terhadap Iklim Dunia
El Nino merupakan fenomena pemanasan alami dan siklikal pada sebagian wilayah Samudra Pasifik tengah yang mempengaruhi kondisi atmosfer di seluruh dunia. Selama ini, para ilmuwan menggunakan parameter suhu sebagai acuan utama dalam mengukur kekuatan fenomena tersebut.
Kondisi El Nino muncul saat suhu di bagian tertentu lautan meningkat 0,5 derajat Celcius dari nilai normal. Para pakar mengategorikan fenomena ini sebagai moderat pada level 1 derajat Celcius dan kuat pada level 1,5 derajat Celcius.
Menariknya, baik NOAA maupun Copernicus memproyeksikan El Nino kali ini akan melampaui ambang batas 2 derajat Celcius. Alhasil, banyak pihak mengkhawatirkan dampaknya akan menyaingi rekor panas yang dunia alami pada 2015 dan 2016.
Mekanisme Pemanasan Global dan El Nino
Profesor Meteorologi Universitas Northern Illinois, Victor Gensini, menjelaskan bahwa El Nino melepas panas yang lautan simpan di lapisan atas ke udara. Proses ini menyebabkan suhu global naik dengan jeda waktu beberapa bulan setelah fenomena tersebut muncul.
“El Nino yang kuat berpotensi mendorong suhu global ke level rekor baru pada akhir 2026 dan hingga 2027,” ujar Victor Gensini mengutip laporan PBS pada Jumat, 10 April 2026. Ia menekankan bahwa pergerakan energi dari lautan menuju atmosfer merupakan kunci utama perubahan cuaca ini.
Selain itu, studi pada jurnal Nature Communications Desember lalu menyebutkan bahwa El Nino berskala besar sering memicu pergeseran pola iklim permanen. Kondisi ini mengubah pola normal menjadi kondisi yang berbeda selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.
Analisis Perbandingan Rekor Intensitas El Nino
Data historis menunjukkan bahwa El Nino memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi stabilitas suhu bumi. Berikut ringkasan metrik kekuatan El Nino berdasarkan klasifikasi meteorologi:
| Kategori | Ambang Batas Pemanasan |
|---|---|
| Normal/Ambang | 0,5 derajat Celcius |
| Moderat | 1,0 derajat Celcius |
| Kuat | 1,5 derajat Celcius |
| Prediksi El Nino 2026 | > 2,0 derajat Celcius |
Lebih dari itu, studi pasca-El Nino 2015-2016 membuktikan wilayah Teluk Meksiko mengalami lonjakan suhu yang berkelanjutan. Kondisi ini kemudian berkontribusi terhadap munculnya badai tropis dengan kekuatan lebih besar di sepanjang Pantai Teluk selama tahun-tahun berikutnya.
Kaitan Perubahan Iklim dengan Kekuatan El Nino
Semakin banyak penelitian mengindikasikan bahwa pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam mungkin memperkuat fenomena ini. Meskipun begitu, komunitas ilmuwan iklim menyatakan bahwa hal ini belum sepenuhnya menjadi konsensus global.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Lingkungan dan ilmuwan iklim Universitas Michigan, Jonathan Overpeck, menegaskan argumennya. Ia menyatakan bahwa pemanasan global kini semakin memperkuat fenomena El Nino serta pemanasan atmosfer yang dampaknya menyertai.
“Dunia sudah menyaksikan lonjakan ini pada 2016 dan baru saja pada 2023. Sekarang, kemungkinan besar kita akan menyaksikan rekor suhu global baru jika El Nino yang kuat memang terjadi pada akhir tahun 2026 ini,” imbuh Overpeck.
Langkah Preventif Menghadapi Cuaca Ekstrem
Menghadapi anomali cuaca yang kian intens, berbagai otoritas iklim terus memantau pergerakan suhu permukaan laut secara real-time. Hal ini krusial untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat maupun sektor agrikultur.
Pertama, pemantauan ketat terhadap pergeseran arus laut menjadi prioritas bagi lembaga seperti NOAA dan Copernicus. Kedua, pemerintah serta masyarakat perlu bersiap menghadapi potensi kemarau yang lebih panjang dan kering di berbagai wilayah terdampak.
Terakhir, kesadaran tentang krisis iklim global perlu masyarakat tingkatkan. Dengan persiapan adaptasi yang matang, dampak destruktif dari fenomena cuaca ekstrem ini bisa pihak terkait minimalisasi sedini mungkin sebelum musim dingin tiba.