Beranda » Berita » Eskalasi konflik Israel-Hizbullah Mengancam Keselamatan Unifil

Eskalasi konflik Israel-Hizbullah Mengancam Keselamatan Unifil

Bukitmakmur.id – Eskalasi Israel-Hizbullah secara resmi menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan personel Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) per tahun 2026. Tentara Israel dan kombatan Hizbullah kerap melancarkan serangan udara serta tembakan proyektil di dekat area operasi misi perdamaian dunia tersebut sehingga membahayakan nyawa para penjaga perdamaian.

Kandice Ardiel selaku Juru Bicara UNIFIL menyampaikan kekhawatiran mendalam pada Minggu (5/4/) terkait intensitas baku tembak di Lebanon selatan. Ardiel menegaskan bahwa insiden tersebut mengakibatkan sejumlah personel PBB gugur serta mengalami luka-luka akibat serangan yang menyasar atau mendekati posisi misi.

Selain itu, kedua pihak yang bertikai kerap meluncurkan serangan tepat dari lokasi dekat tempat tinggal pasukan penjaga perdamaian. Akibatnya, posisi mereka memicu datangnya tembakan balasan yang mengancam zona-zona sensitif PBB. Lebih dari itu, Ardiel menekankan kewajiban seluruh pihak untuk menghormati status kekebalan wilayah yang berada di bawah naungan PBB.

Situasi Krisis Keamanan di Lebanon Selatan

Konflik yang kian memanas sejak awal Maret 2026 ini memaksa mendesak penghentian segera segala bentuk kekerasan. Selain itu, mereka menuntut pihak terkait mengambil langkah konkret menuju gencatan senjata permanen karena PBB meyakini absennya solusi militer untuk mengakhiri perselisihan ini.

Faktanya, operasi melalui serangan udara dan darat di Lebanon selatan terus menggempur wilayah tersebut sejak insiden lintas batas Hizbullah pada 2 Maret 2026. Menariknya, agresi ini berlangsung meskipun kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata sejak November 2024. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti bahwa perpanjangan konflik hanya memperburuk dampak kemanusiaan secara luas.

Baca Juga:  Kereta Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, KAI Lakukan Pengalihan

Berikut adalah ringkasan insiden krusial yang terjadi sepanjang periode konflik terbaru 2026:

Peristiwa Tanggal 2026
Serangan udara Israel di pusat Beirut (Hotel Ramada) Minggu, 8 Maret
Dukungan penuh Teheran terhadap kelompok perlawanan Sabtu, 12 Oktober

Dampak dan Respons Internasional

Human Rights Watch menyatakan bahwa Israel secara luas menggunakan fosfor putih di Lebanon selatan. Praktik ini nyata mengancam warga sipil dan memicu gelombang pengungsian massal di berbagai sepanjang perbatasan. Sementara itu, agresi berkepanjangan di Gaza menjadi akar penyebab gelombang kekacauan baru di Timur Tengah.

Indonesia sendiri mengambil langkah tegas dengan mendesak menggelar rapat darurat guna membahas situasi di Lebanon. Selain itu, para pakar menyoroti tantangan besar dalam melakukan investigasi objektif terhadap serangan yang membidik personel UNIFIL selama periode 2026 ini.

Duka Mendalam bagi Prajurit Perdamaian Indonesia

Bangsa Indonesia berduka atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI yang mengemban dunia di Lebanon Selatan. Sabtu malam (4/4/2026), dua peti jenazah prajurit berbalut bendera Merah Putih tiba di Base Ops Lanud Adisutjipto Yogyakarta untuk prosesi penghormatan terakhir.

Keluarga korban, termasuk Iskandarudin, merasakan kesedihan mendalam atas kehilangan putra tercintanya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar. Jenazah Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditia Iskandar sendiri tiba di Bandara Husein Sastranegara Bandung pada waktu yang sama. Panglima TNI memimpin langsung upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra sebagai bentuk penghargaan negara atas dedikasi mereka.

Seruan Logistik dan Masa Depan Perdamaian

Di tengah kekacauan, Aoun menyerukan dukungan logistik internasional untuk memperkuat tentara Lebanon. tersebut dianggap krusial demi menjaga stabilitas internal di tengah gempuran serangan militer yang tidak henti-hentinya menargetkan infrastruktur vital masyarakat.

Baca Juga:  Tarik Pasukan Perdamaian dari Lebanon Jadi Desakan MPR ke Pemerintah

Intinya, situasi ini menuntut peran aktif komunitas global untuk segera melakukan intervensi damai. Terakhir, penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah menjadi satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan pasukan pemelihara perdamaian serta melindungi warga sipil dari kehancuran lebih lanjut di Lebanon Selatan.