Bukitmakmur.id – Harga minyak Brent melonjak 63% sepanjang Maret 2026, yang mana angka tersebut mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak 1988 bagi pasar energi global. Patokan harga Brent untuk pengiriman Mei menanjak sekitar 5% pada hari Selasa dan menyentuh angka USD 118,35 per barel pada penutupan pasar.
Pasar dunia mengamati penuh ketegangan volatilitas instrumen keuangan ini per 1 April 2026. Data CNBC melaporkan, harga minyak untuk kontrak Juni justru mengalami koreksi turun sebesar 3,2% di hari yang sama. Fenomena ini menggambarkan ketidakpastian tinggi yang menyelimuti rantai pasok energi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang makin memanas.
Analisis korelasi harga minyak Brent melonjak dengan pasar energi
Banyak pelaku pasar mencermati perbedaan tajam antara kontrak pengiriman Mei dan Juni tahun 2026 ini. Hal ini membuktikan bahwa situasi di lapangan berubah dengan sangat cepat dalam hitungan jam. Di sisi lain, harga minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami penurunan sebesar 1,46% ke angka USD 101,38 per barel.
Faktanya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) membukukan kenaikan fantastis sekitar 51% sepanjang Maret 2026. Capaian ini membuat Maret 2026 menjadi periode paling menguntungkan bagi aset ini sejak Mei 2020. Banyak investor menyebut situasi ini sebagai pola perdagangan paling ekstrem dalam satu dekade terakhir.
Dampak ketegangan politik terhadap volatilitas harga
Laporan mengenai sikap Presiden Donald Trump dan pemerintah Iran yang membuka peluang mengakhiri perang memicu aksi jual di pasar komoditas. Harga minyak mentah Amerika Serikat dan harga Brent kontrak Juni pun langsung melandai pasca kabar tersebut beredar luas. Pasar menganggap sinyal perdamaian merupakan sentimen negatif bagi lonjakan harga energi yang sudah terlampau tinggi.
Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, memberikan tanggapan tegas terkait dinamika ini. Beliau menekankan bahwa pasar energi baru saja melewati mimpi buruk yang tidak pernah mereka perkirakan sebelumnya. Kini, para pemain pasar berusaha meyakinkan diri bahwa periode mimpi buruk akan segera berakhir.
Pemerintah Amerika Serikat melalui para pejabatnya membocorkan informasi kepada The Wall Street Journal mengenai posisi Presiden Trump. Trump mengaku bersedia menghentikan seluruh operasi Amerika terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup. Informasi ini menjadi titik balik penting bagi pergerakan harga minyak global di awal kuartal kedua 2026.
| Indikator Komoditas | Perubahan Harga per Maret 2026 |
|---|---|
| Minyak Brent (Maret 2026) | +63% (Kenaikan terbesar sejak 1988) |
| Minyak WTI (Maret 2026) | +51% (Terbaik sejak Mei 2020) |
Risiko berkelanjutan di Selat Hormuz
Selain kabar perdamaian, dunia mencatat insiden serangan terhadap kapal tanker minyak milik Kuwait yang berlabuh di luar Dubai. Pihak Kuwait Petroleum Corporation memastikan tidak ada korban luka maupun tumpahan minyak dalam peristiwa tersebut. Meski begitu, para analis tetap melihat ancaman nyata bagi stabilitas lalu lintas energi di wilayah tersebut.
Ben Emons, CIO di FedWatch Advisors, menilai serangan ini mencerminkan cengkeraman Republik Islam yang semakin ketat di Selat Hormuz. Target sasaran yang tepat berada di luar jalur air utama tersebut memberikan sinyal bahaya bagi suplai minyak dunia. Emons memperingatkan risiko gangguan lebih lanjut jika kedua belah pihak tidak segera menemukan titik temu.
Hasil dari situasi ini adalah terciptanya sebuah permainan geopolitik yang lebih asimetris bagi kekuatan global. Amerika Serikat cenderung memilih langkah penarikan diri sebagai strategi utama untuk memitigasi risiko keamanan. Sementara itu, Iran tetap memiliki motivasi kuat dalam memberikan kerugian bagi lawan-lawannya melalui gangguan pada akses energi.
Prospek pasar energi pasca Maret 2026
Kondisi ekonomi global saat ini sangat terguncang oleh perubahan harga komoditas yang begitu drastis. Investasi pada sektor energi memerlukan konsolidasi mendalam karena risiko ketegangan politik masih tinggi di 2026. Selain itu, para pelaku bisnis industri pun perlu menyiapkan skenario terbaik untuk menghadapi kemungkinan fluktuasi harga bahan bakar lebih lanjut.
Intinya, keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar energi dunia sangat bergantung pada resolusi konflik di Selat Hormuz. Dunia berharap dialog antara pemimpin negara segera memberikan kepastian bagi stabilitas harga minyak dunia di masa mendatang. Dengan demikian, ekonomi global memiliki peluang untuk tumbuh lebih stabil tanpa bayang-bayang krisis energi berkelanjutan.