Bukitmakmur.id – Harga minyak dunia kembali mencetak rekor dengan menembus US$115 per barel. Kenaikan harga minyak ini menjadi ancaman serius bagi perekonomian Indonesia, terutama karena ketergantungan impor energi yang masih tinggi. Eskalasi konflik di Timur Tengah disebut menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak per 2026 ini.
Situasi diperparah dengan terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Merah. Lantas, bagaimana dampak lonjakan harga minyak ini terhadap berbagai sektor di Indonesia? Apa saja langkah antisipasi yang perlu pemerintah ambil? Berikut ulasan lengkapnya untuk Anda.
Dampak Harga Minyak Dunia ke Rupiah dan Inflasi
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia menghantam Indonesia dari dua sisi, yaitu pasokan dan harga. Terganggunya pasokan global akibat penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz, bersamaan dengan melonjaknya harga minyak, akan berdampak signifikan bagi negara importir seperti Indonesia.
Fahmy mencatat, tekanan terhadap rupiah sudah terlihat dengan pelemahan hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS. Kondisi ini tentu memperburuk beban pembayaran impor energi. Tidak hanya itu, kenaikan harga minyak juga memicu imported inflation, di mana harga energi yang tinggi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara luas.
Dari sisi fiskal, pemerintah menghadapi dilema besar. Jika harga BBM subsidi dipertahankan, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan membengkak signifikan. Namun, jika harga dinaikkan, dampaknya langsung terasa ke masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok akibat inflasi. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini bisa memicu persoalan sosial.
Dilema Subsidi BBM 2026 dan Realokasi Anggaran
Pemerintah berada di persimpangan jalan terkait subsidi BBM 2026. Mempertahankan harga BBM subsidi berarti mengorbankan APBN yang akan semakin terbebani. Menaikkan harga BBM subsidi berisiko memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Lalu, bagaimana solusinya?
Fahmy menyarankan pemerintah untuk melakukan realokasi anggaran, termasuk memangkas pos belanja yang dinilai kurang prioritas. Langkah ini bertujuan untuk menahan beban fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.
Sektor Manufaktur dan Transportasi Terpukul Kenaikan Harga Minyak
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyoroti dampak signifikan kenaikan harga minyak pada sektor riil, terutama manufaktur. Kenaikan harga energi dan bahan baku akan meningkatkan biaya produksi, khususnya bagi industri dengan intensitas energi tinggi seperti petrokimia. Di sisi lain, pelemahan daya beli membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga jual.
“Margin laba mereka akan tergerus, kalau mereka nggak bisa membebankan biaya ini kepada konsumen,” ujar Fabby.
Selain manufaktur, sektor transportasi dan logistik juga menghadapi tekanan besar. Kenaikan harga BBM non-subsidi akan meningkatkan biaya operasional penerbangan, pelayaran, hingga distribusi barang. Sebagai negara kepulauan, kenaikan ongkos logistik di Indonesia berpotensi langsung mendorong kenaikan harga barang di berbagai daerah.
“Jadi biaya transportasi dan logistik itu akan terkena dampak juga, negatif karena biaya operasionalnya pasti akan meningkat. Itu penerbangan, jasa pengiriman barang, kapal laut,” jelas Fabby.
Ia menambahkan, dampak ke masyarakat tidak selalu terjadi secara langsung, tetapi melalui efek berantai atau second round effect. Kenaikan biaya logistik dan distribusi akan diteruskan ke harga barang konsumsi. Pada akhirnya, masyarakat tetap menanggung kenaikan biaya hidup meski harga BBM subsidi belum berubah.
Pasar Modal dan Sektor Energi di Tengah Ketidakpastian
Pasar modal juga berpotensi tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen risk off membuat investor cenderung menarik dana dari aset berisiko seperti saham. Namun, di tengah situasi ini, sektor energi seperti batu bara justru berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas.
Langkah Strategis Antisipasi Krisis Energi 2026
Fabby menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk meredam dampak lonjakan harga minyak. Langkah-langkah tersebut meliputi:
- Memperbaiki komunikasi publik agar masyarakat memahami potensi krisis dan tidak hanya diyakinkan soal ketersediaan pasokan.
- Menekan konsumsi BBM untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama dalam skenario terburuk jika pasokan global terganggu lebih parah.
- Mencari sumber pasokan alternatif di luar kawasan konflik.
- Mulai membuka opsi penyesuaian harga energi agar beban APBN tidak sepenuhnya tersedot untuk subsidi.
Kesimpulan
Kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan besar bagi perekonomian Indonesia per 2026. Pemerintah perlu mengambil langkah cepat dan tepat untuk meredam dampaknya, mulai dari realokasi anggaran, diversifikasi sumber energi, hingga penyesuaian harga energi yang disertai dengan program perlindungan sosial. Kebijakan yang komprehensif dan komunikasi publik yang efektif menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global.