Bukitmakmur.id – Harga minyak mentah dunia yang terus meroket menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Per Senin (30/3/2026), harga minyak dunia telah menembus angka 115 dolar AS per barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Bergabungnya kelompok Houthi dalam konflik Iran versus AS-Israel, dan ancamannya terhadap Selat Bab al-Mandab, semakin memperparah situasi. Ekonom mengingatkan Indonesia untuk bersiap menghadapi berbagai risiko fiskal yang mungkin timbul.
Dampak Perang Timur Tengah ke Harga Minyak Dunia
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memprediksi bahwa perang antara Iran dan AS-Israel akan berlangsung lama. “Kita harus bersiap bahwa harga energi, khususnya minyak dan LPG akan meningkat,” ujarnya saat dihubungi Republika pada Senin (30/3/2026).
Kondisi ini diperburuk dengan potensi penutupan Selat Bab al-Mandab oleh kelompok Houthi. Selat ini merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dunia. Penutupan selat tersebut akan menyebabkan gangguan pasokan dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
APBN 2026 Terancam Jebol?
Harga minyak mentah dunia saat ini jauh di atas asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2026. Pemerintah mengasumsikan harga minyak sebesar 70 dolar AS per barel. Dengan harga yang sudah menembus 115 dolar AS, beban subsidi dan kompensasi energi akan melonjak tajam.
Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit APBN. Wijayanto Samirin dengan tegas menyatakan, “Defisit APBN akan melejit, inflasi akan meningkat, daya beli masyarakat akan melemah.”
Rupiah Ikut Terdampak Kenaikan Harga Minyak
Tidak hanya APBN, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi melemah akibat kenaikan harga minyak. Pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), rupiah sudah menembus level Rp 17.002 per dolar AS. Bahkan, mata uang Garuda ini diprediksi akan terus mengalami koreksi.
Wijayanto Samirin mewanti-wanti, “Rupiah berpotensi semakin tertekan. Jika tidak hati-hati, Indonesia bisa mengalami krisis fiskal yang dapat berujung pada krisis nilai tukar rupiah.”
Solusi Mitigasi Risiko Fiskal 2026
Untuk mengatasi tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas fiskal, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis. Tekanan terhadap rupiah, menurut Wijayanto, sebenarnya sudah ada sebelum perang Iran vs AS-Israel. Namun, konflik ini memperburuk keadaan.
Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain adalah efisiensi anggaran, peningkatan pendapatan negara dari sektor lain, dan optimalisasi penggunaan energi dalam negeri. Pemerintah juga perlu menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Ini dilakukan agar rupiah tidak terus tertekan.
Update Harga Energi & LPG Terbaru 2026
Kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpotensi berdampak pada harga energi dan LPG di dalam negeri. Pemerintah perlu mempertimbangkan dengan cermat kebijakan terkait harga energi.
Tujuannya adalah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal negara. Apakah harga BBM akan naik? Atau subsidi akan ditambah? Kita tunggu saja kebijakan pemerintah terbaru 2026.
Peran Serta Masyarakat dalam Menghadapi Krisis
Dalam situasi ini, peran serta masyarakat juga sangat penting. Masyarakat dapat berkontribusi dengan menghemat energi dan menggunakan transportasi publik.
Selain itu, mendukung produk-produk dalam negeri juga dapat membantu memperkuat perekonomian nasional. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, Indonesia diharapkan dapat melewati tantangan ini dengan baik.
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi ancaman serius bagi stabilitas fiskal Indonesia di tahun 2026. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk memitigasi risiko yang ada. Masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.