Bukitmakmur.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan taringnya dengan dibuka menghijau pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Performa ini berbanding terbalik dengan kondisi bursa saham di kawasan Asia Pasifik yang justru mengalami penurunan signifikan.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 0,82% ke level 7.149 pada pukul 9.00 WIB. Meski demikian, dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat anjlok 11,16%. Para analis menilai koreksi ini wajar setelah reli panjang yang terjadi sebelumnya.
Sektor Emas Bersinar, Energi Merana
Delapan dari sebelas sektor yang ada di BEI terpantau berada di zona hijau pada perdagangan intraday. Sektor industri emas menjadi primadona dengan kenaikan saham-sahamnya. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) misalnya, naik 2,29% ke level 3.580. Kemudian, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melonjak 3,92% ke level 792, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 2,55% ke level 1.405. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kenaikan harga emas dunia menjadi katalis positif bagi saham-saham emiten emas.
Sebaliknya, saham-saham sektor energi justru mengalami penurunan. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 2,33% ke level 1.885, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 0,31% ke level 1.625, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) turun 1,40% ke level 1.060. Penurunan ini diduga imbas dari sentimen negatif terhadap harga minyak dunia.
Kinerja Bursa Asia Pasifik Memprihatinkan
Kondisi berbeda dialami oleh bursa-bursa saham di Asia Pasifik. Indeks bursa Korea Selatan Kospi memimpin penurunan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak mentah dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian global ini membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
Indeks Korea Selatan Kospi mengalami pelemahan tertinggi di Asia dengan penurunan lebih dari 4%. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga ikut tertekan dengan penurunan lebih dari 3%. Tidak hanya itu, nilai tukar won Korea melemah 0,63% ke level 1.526,9 per dolar AS, menyentuh level terlemah sejak 2009. Akibatnya, Bank Sentral Korea Selatan (BOKS) berencana melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan mata uang won.
Imbas Ketegangan Geopolitik Global ke Pasar Modal
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 2,2% dan indeks Topix melemah 1,4%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,56%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 24.683, turun dibandingkan penutupan terakhir indeks di 24.750,8. Lantas, apa penyebab utama yang melatarbelakangi kondisi ini?
Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan AS akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg, jika Selat Hormuz tetap ditutup dan tidak tercapai kesepakatan damai. Ancaman ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Harga Minyak Mencekik, Ekonomi Terancam
Pernyataan tersebut muncul saat konflik memasuki minggu kelima, di tengah laporan bahwa pemerintah AS mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, yang menjadi pusat utama ekspor minyak Iran. Nah, risiko eskalasi konflik inilah yang membuat investor semakin khawatir.
Gangguan di Selat Hormuz turut mendorong lonjakan harga energi. Adapun Selat Hormuz merupakan jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global melalui laut. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% ke US$ 105,8 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak Mei melonjak 2% ke level US$ 115,17 per barel. Lonjakan harga minyak ini tentu saja akan berdampak pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Prospek IHSG di Tengah Ketidakpastian
Meski IHSG dibuka positif, investor tetap perlu waspada terhadap berbagai sentimen negatif yang berpotensi menekan pasar. Ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga minyak, dan potensi resesi global menjadi faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Bagaimana strategi investasi yang tepat di tengah kondisi seperti ini?
Para analis menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham dan fokus pada perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat. Diversifikasi portofolio juga penting untuk meminimalkan risiko. Selain itu, investor juga perlu memantau perkembangan situasi global dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan bank sentral.
IHSG Hijau di Tengah Bursa Asia Lesu
Singkatnya, IHSG mampu menunjukkan ketahanannya di tengah gejolak pasar global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak. Meski demikian, investor tetap perlu berhati-hati dan selektif dalam berinvestasi. Dengan strategi yang tepat, diharapkan investor dapat meraih keuntungan optimal di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan ini.