Beranda » Berita » IHSG Tersungkur ke Level 6.969: Saham BUMN Karya Rontok

IHSG Tersungkur ke Level 6.969: Saham BUMN Karya Rontok

Bukitmakmur.id – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG jatuh 0,29% atau 20,27 poin menuju level 6.969 pada Selasa (7/4/2026). Peristiwa ini menempatkan pada titik terendah sejak awal tahun 2026 atau year to date dengan akumulasi penurunan mencapai 19,40%.

Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat sepanjang sesi pertama perdagangan hari ini. Pergerakan negatif ini menyeret sejumlah emiten besar, terutama dari kelompok karya, ke zona merah yang cukup dalam.

IHSG tersungkur ke level 6.969 menjadi sorotan pelaku pasar karena menunjukkan tren koreksi yang persisten. Fenomena ini sekaligus mencerminkan daya tahan pasar yang melemah di tengah dinamika ekonomi domestik sepanjang tahun 2026 ini.

Daftar Saham BUMN Karya yang Tumbang

Emiten sektor infrastruktur dan properti pelat merah mengalami guncangan cukup keras siang ini. Investor terlihat panik melepas posisi kepemilikan mereka pada saham- karya.

PT PP Property Tbk (PPRO) mencatat penurunan tajam sebesar 7,69% hingga mencapai level Rp 24. Selain itu, PT PP Presisi Tbk (PPRE) merosot 4,90% ke posisi Rp 97 per lembar saham. Di sisi lain, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) juga kehilangan nilai sebesar 4,26% dan mendarat pada level Rp 180.

Tidak hanya perusahaan tersebut, PT PP Tbk (PTPP) ikut merasakan tekanan jual dengan koreksi 1,60% ke level Rp 246. Koreksi massal ini menambah beban performa indeks secara keseluruhan pada sesi pertama perdagangan Selasa ini.

Baca Juga:  Tabel Angsuran KUR BSI Syariah 2026 Plafon 100 Juta Tanpa Agunan untuk UMKM

Data Aktivitas Transaksi Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan data perdagangan (BEI), volume transaksi sepanjang sesi pertama mencapai 17,42 miliar saham. Frekuensi perdagangan mencapai 1,12 juta kali dengan total nilai transaksi sebesar Rp 7,23 triliun.

Angka menyentuh Rp 12.232 triliun saat perdagangan berjalan. Lebih lanjut, pergerakan harga saham menunjukkan dominasi tekanan jual dengan rincian sebagai berikut:

Kondisi Saham Jumlah Emiten
Saham Naik 261
Saham Turun 371
Saham Tidak Bergerak 174

Sentimen Negatif pada Berbagai Sektor

Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan signifikan. Catatan menunjukkan delapan dari sebelas sektor di BEI berada dalam zona merah. Sektor industri menjadi salah satu yang paling menderita dengan koreksi 2,12%.

Emiten besar , PT Astra International Tbk (ASII), jatuh 2,87% ke level Rp 5.925. Rekannya, PT United Tractors Tbk (UNTR), turut melemah 2,45% ke level Rp 29.800. Fakta ini memperlihatkan bagaimana sentimen pasar terhadap industri berat sedang menurun.

Di tempat berbeda, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengalami penurunan 1,77% ke level Rp 111. PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) juga melemah 3,65% menjadi Rp 2.110. Apakah penurunan ini akan berlanjut hingga penutupan pasar nanti?

Saham dengan Nilai Transaksi Terbesar

Meskipun pasar sedang terkoreksi, beberapa saham masih menarik minat pelaku pasar dengan nilai transaksi yang cukup tinggi. PT Resources Tbk (BUMI) mencatat nilai transaksi paling besar dengan total Rp 535,71 miliar.

Selanjutnya, PT Rakyat Tbk (BBRI) membukukan nilai transaksi Rp 456,10 miliar. Posisi ketiga ditempati oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (BULL) dengan nilai transaksi Rp 450,92 miliar. Singkatnya, minat pelaku pasar masih tinggi terhadap saham-saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas kuat.

Baca Juga:  Kenaikan Fuel Surcharge Pesawat: Pemerintah Tetapkan Angka 38% Terbaru 2026

Kinerja Pasar Asia dan Pengecualian Saham

Indeks Asia mayoritas menempuh jalur serupa dengan IHSG. Indeks Nikkei melemah 0,17%, sementara Hang Seng terkoreksi 0,70%. Berbeda halnya dengan Shanghai Composite yang mampu berbalik arah dan naik 0,03%.

Beberapa emiten berhasil melawan tren pelemahan pasar hari ini. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melonjak 9,23% menuju level Rp 10.950. Begitu pula PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat 6,76% ke level Rp 1.185. Kinerja positif ini memberikan secercah harapan di tengah badai penurunan yang melanda mayoritas saham.

Investor perlu bersikap cermat dan tetap mengamati perkembangan ekonomi terkini sepanjang tahun 2026. Keputusan investasi yang matang akan membantu pelaku pasar dalam menghadapi volatilitas yang mungkin masih berlanjut dalam waktu dekat.