Bukitmakmur.id – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengenang sosok Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan Indonesia, sebagai ilmuwan besar yang menguasai masalah pertahanan dari perspektif geopolitik global. Juwono Sudarsono meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia tersebut meninggalkan warisan penting dalam sejarah pertahanan dan pendidikan nasional. Pemakaman dijadwalkan pada Minggu, 29 Maret 2026, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Mahfud Memuji Dedikasi Juwono di Kementerian Pertahanan
Mahfud MD, yang menggantikan Juwono Sudarsono di awal pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengungkapkan rasa hormatnya kepada pendahulunya. “Beliau seorang ilmuwan besar yang menguasai masalah pertahanan dari optik geopolitik global,” ungkap Mahfud saat dikonfirmasi melalui Antara.
Dalam setiap kesempatan berbicara, Mahfud selalu menonjolkan karakter unik Juwono. Dirinya menekankan bahwa Juwono adalah tokoh yang sangat tepat mengemban posisi strategis pada zamannya. “Orangnya santun, bicaranya tidak meledak-ledak, tetapi daya tariknya luar biasa kuatnya,” kenang Mahfud dengan penuh apresiasi.
Mahfud MD sendiri menjabat sebagai Menteri Pertahanan setelah Juwono pada tahun 2000. Pengalaman langsung bekerja dengan Juwono memberikan wawasan mendalam tentang kualitas kepemimpinan dan intelektualitas mantan mentan tersebut. Faktanya, kepribadian tenang Juwono terbukti efektif dalam menangani isu-isu pertahanan yang kompleks.
Karir Juwono Sudarsono di Berbagai Jabatan Pemerintah
Juwono Sudarsono menjalani karir panjang dalam layanan publik, memegang sejumlah posisi strategis. Beliau menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid (Presiden ke-4 RI) dan terus melanjutkan jabatan tersebut pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang merupakan Presiden ke-6 Indonesia.
Selain di bidang pertahanan, Juwono juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Presiden BJ. Habibie (Presiden ke-3 RI). Pengalaman berganda ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kapabilitas intelektual dan manajerial Juwono dalam menangani portofolio yang berbeda-beda.
Lebih dari itu, Juwono sempat menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup menjelang runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto (Presiden ke-2 RI). Perjalanan karirnya mencerminkan fleksibilitas dan kedalaman pemahaman tentang berbagai sektor strategis nasional.
Kontribusi Akademik Juwono di Universitas Indonesia
Selain deretan posisi pemerintahan, Juwono Sudarsono juga dikenal sebagai akademisi terkemuka. Beliau menjabat sebagai Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia, salah satu institusi pendidikan tertinggi di negeri ini. Posisi akademis ini menunjukkan pengakuan atas keahlian dan dedikasi Juwono dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Pemikiran Juwono tentang geopolitik dan hubungan internasional menjadi referensi penting bagi banyak mahasiswa dan peneliti di Indonesia. Perspektifnya yang global namun tetap mempertimbangkan konteks lokal menciptakan keunikan dalam analisis masalah-masalah strategis nasional dan internasional.
Konfirmasi Resmi Kabar Duka Juwono Sudarsono
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, secara resmi mengonfirmasi berita meninggalnya Juwono Sudarsono. Informasi duka ini beredar melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk grup pesan singkat, sebelum akhirnya dikonfirmasi oleh pihak resmi.
Waktu meninggalnya Juwono, yakni Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB, ditetapkan berdasarkan dokumen medis Rumah Sakit Pondok Indah. Pemilihan lokasi pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata mencerminkan penghormatan terhadap kontribusi Juwono kepada negara selama beberapa dekade.
Warisan Juwono dalam Sejarah Pertahanan Indonesia
Juwono Sudarsono meninggalkan warisan mendalam dalam arsitektur pertahanan dan keamanan nasional. Pendekatan ilmuwan dalam memandang masalah pertahanan membedakan Juwono dari tokoh-tokoh sejawatnya. Beliau tidak hanya mengandalkan pengalaman lapangan, tetapi juga dasar intelektual yang kuat dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
Intelektualisme Juwono terbukti mempengaruhi cara berpikir generasi penerus, baik dalam institusi pemerintah maupun akademik. Prestasi beliau sebagai akademisi sekaligus praktisi membuat namanya tetap relevan dalam diskusi-diskusi tentang keamanan dan pertahanan nasional hingga tahun 2026 ini.
Dengan meninggalnya Juwono Sudarsono, Indonesia kehilangan salah satu pemikir strategis terbaik yang mampu menghubungkan teori dengan praktik pemerintahan. Mahfud MD dan banyak tokoh lainnya akan terus mengingat kontribusi luar biasa Juwono terhadap institusi pertahanan dan pendidikan nasional.