Bukitmakmur.id – Aliansi Kolektif Merpati mendirikan tenda di depan Kantor Komnas HAM pada Senin, 6 April 2026, untuk mendesak pengusutan tuntas kasus penyiraman Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Para mahasiswa menuntut kejelasan hukum atas insiden yang melibatkan anggota BAIS TNI tersebut.
Kelompok mahasiswa ini menamai gerakan mereka ‘Tenda untuk Andrie, Tandu untuk Demokrasi’. Aksi ini muncul sebagai reaksi atas berjalannya proses hukum di Puspom TNI selama satu bulan tanpa menunjukkan perkembangan yang signifikan atau transparansi bagi publik.
Dendy, selaku Humas Kolektif Merpati, menyatakan lewat keterangan tertulis bahwa mereka membangun tenda sebagai simbol perlindungan bagi para pembela HAM. Menurutnya, negara dan masyarakat sipil wajib memberikan jaminan keamanan nyata bagi pihak yang berjuang demi hak-hak warga negara saat ini.
Mengupas Kasus Andrie Yunus dan Krisis Demokrasi
Selain menuntut keadilan, Kolektif Merpati menyebut ‘Tandu untuk Demokrasi’ sebagai isyarat keras bahwa kondisi demokrasi Indonesia tengah mengalami krisis serius. Faktanya, nyawa aktivis kini sering menjadi taruhan dalam pertarungan kepentingan elite politik, sementara rakyat kecil terus menjadi pihak yang menanggung beban paling berat akibat ketidakadilan tersebut.
Di sisi lain, koalisi mahasiswa menilai penanganan kasus oleh Puspom TNI tidak berjalan transparan. Hingga detik ini, penyidik belum mengungkap siapa aktor intelektual dan bagaimana rantai komando di balik aksi keji tersebut. Hal ini memicu kecurigaan publik mengenai adanya pihak-pihak yang mencoba menutupi fakta lapangan.
Lebih dari itu, pengalihan kasus ke lingkungan militer memicu kekhawatiran mendalam mengenai praktik impunitas. Apalagi, para pelaku berasal dari institusi yang sama dengan pihak yang memproses hukum. Dengan demikian, situasi ini menunjukkan potensi konflik kepentingan yang sangat serius dan mengancam prinsip akuntabilitas di mata hukum.
Daftar Mahasiswa yang Tergabung dalam Kolektif Merpati
Gerakan ini melibatkan berbagai elemen mahasiswa dari banyak kampus ternama di Jakarta dan sekitarnya. Mereka bersatu karena melihat kasus Andrie Yunus sebagai ujian nyata bagi komitmen negara dalam menjaga hak asasi manusia.
| Kelompok Mahasiswa |
|---|
| Universitas Trisakti, Universitas Nasional, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara |
| STFT Jakarta, Unika Atma Jaya, UNJ, Universitas Indraprasta |
| STIH Jentera, UNS, UIN Jakarta, IPB, Universitas Nahdlatul Ulama |
| Universitas Budi Luhur, Universitas Moestopo |
Tuntutan Kolektif Merpati terhadap Penegak Hukum
Pertama, aliansi mendesak pembentukan Tim Pencari Fakta Independen yang melibatkan unsur masyarakat sipil. Dengan cara ini, transparansi dalam pengungkapan kasus Andrie Yunus bisa lebih mereka jamin dibandingkan jika hanya mengandalkan tim internal.
Kedua, mahasiswa mendorong agar pihak terkait membawa kasus ini ke ranah peradilan umum atau sipil. Mereka menolak keras peradilan militer karena mereka yakini tidak memiliki independensi yang cukup untuk mengadili pelaku dari institusi keamanan.
Ketiga, aliansi mendesak DPR agar segera mempercepat pembahasan dan pengesahan regulasi yang menjamin perlindungan bagi para pembela HAM. Terakhir, mereka menuntut audit menyeluruh terhadap BAIS TNI untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan kewenangan serta mendorong reformasi institusi keamanan secara radikal.
Komitmen untuk Keadilan dan Masa Depan Demokrasi
Dendy menegaskan bahwa tujuan kehadiran mereka di depan Komnas HAM adalah untuk memastikan lembaga tersebut bekerja secara maksimal tanpa ragu. Mereka ingin Komnas HAM menekan pihak terkait agar memproses kasus Andrie Yunus secara akuntabel dan tanpa ada ‘tedeng aling-aling’.
Menariknya, mahasiswa memandang bahwa percobaan pembunuhan terhadap Andrie Yunus bukan sekadar persoalan kriminal biasa. Kasus ini menjadi ujian berat bagi komitmen negara terhadap demokrasi dan hak asasi manusia di tahun 2026 ini. Tanpa pengungkapan kebenaran secara tuntas dan pertanggungjawaban yang adil, negara membiarkan praktik impunitas terus tumbuh subur.
Pada akhirnya, bagi para mahasiswa, keadilan bagi Andrie Yunus merupakan bagian dari perjuangan menjaga demokrasi itu sendiri. Jika keadilan gagal ditegakkan sekarang, perjuangan masyarakat sipil akan semakin berat di masa depan. Kolektif Merpati berikrar akan terus mengawal kasus ini sampai hukum benar-benar menjangkau aktor intelektual yang sebenarnya.