Bukitmakmur.id – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau INET resmi membatalkan perjanjian kerja sama penyediaan infrastruktur fiber optik dan layanan IP transit dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau WIFI pada awal Januari 2026. Langkah ini mencakup penghentian kesepakatan penggunaan kabel serta layanan distribusi data yang sebelumnya kedua perusahaan sepakati untuk memperluas jangkauan konektivitas digital di Indonesia.
Manajemen INET menegaskan bahwa keputusan tersebut muncul dari kesepakatan damai antara perusahaan dan anak usaha WIFI, yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem atau IJE. Pihak manajemen mengungkapkan detail pembatalan melalui keterangan resmi pada Selasa, 31 Maret 2026, yang juga mencakup pengembalian dana jaminan serta uang muka terkait proyek tersebut.
Detail Pembatalan Kerja Sama Fiber Optik INET dan WIFI
Pembatalan ini melibatkan dua kontrak utama antara INET dan IJE. Pertama, kedua pihak membatalkan perjanjian penyediaan infrastruktur kabel fiber optik berdasarkan Perjanjian Kerja Sama bernomor PKS/079/FO/IJE/-SIAP/XII/2025 yang mereka tandatangani sebelumnya. Keputusan ini secara resmi tertuang dalam Berita Acara Pembatalan bernomor BAK/002/SIAP-IJE/I/2026 pada 6 Januari 2026.
Menanggapi pembatalan tersebut, INET langsung mengembalikan uang jaminan senilai Rp 61 miliar kepada IJE pada hari yang sama. Hal ini menandakan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban finansial pasca penghentian proyek infrastruktur kabel tersebut tanpa menyisakan beban bagi kedua belah pihak.
Selain infrastruktur, kedua perusahaan juga sepakat mengakhiri Perjanjian Layanan IP Transit bernomor 42/PKS/LGL/PFI-IJE/III/2025. Proses ini melibatkan anak usaha INET lainnya, yakni PT Pusat Fiber Indonesia atau PFI. Berdasarkan Berita Acara Kesepakatan bernomor 010/BAK.F/LEGAL/IJE-PFI/II/2026 tertanggal 16 Februari 2026, PFI kemudian mengembalikan seluruh uang muka senilai Rp 48,51 miliar kepada IJE pada 23 Februari 2026.
Penyesuaian Strategi Infrastruktur PFI
Di samping membatalkan kemitraan dengan IJE, PFI memilih untuk mengalihkan fokus kerja sama mereka kepada entitas lain, yakni PT Jaringan Infra Andalan atau JIA. Perusahaan melakukan langkah strategis ini lewat penandatanganan addendum atas Perjanjian Layanan IP Transit bernomor 111A/PKS/LGL/PFI-JIA/VII/2025/P1 pada 6 Februari 2026.
Kesepakatan baru ini bernilai Rp 269,23 miliar. Manajemen menetapkan klausul bahwa PFI wajib mengembalikan uang jaminan tersebut apabila infrastruktur layanan IP transit belum siap beroperasi hingga batas waktu 31 Juli 2026. Data berikut merangkum posisi keuangan masing-masing entitas tersebut:
| Keterangan | Nilai (Rp) |
|---|---|
| Pengembalian Uang Jaminan IJE (FO) | 61 Miliar |
| Pengembalian Uang Muka IP Transit | 48,51 Miliar |
| Nilai Kontrak Baru PFI-JIA | 269,23 Miliar |
Kinerja Keuangan INET Selama 2026
Terlepas dari pembatalan kerja sama tersebut, INET membukukan performa yang impresif selama tahun 2026. Laporan keuangan menunjukkan pendapatan neto perusahaan menyentuh angka Rp 91,82 miliar. Capaian ini melambung 201% dari perolehan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 30,44 miliar.
Peningkatan pendapatan terjadi berkat ekspansi kapasitas layanan IP Transit kepada pelanggan institusional baru. Selain itu, lini usaha jasa konstruksi infrastruktur jaringan memberikan kontribusi nyata bagi arus kas perusahaan. Laba bersih perusahaan pun melesat menjadi Rp 24,49 miliar, naik jauh dari angka Rp 1,33 miliar pada 2024.
Direktur Utama INET, Muhammad Arif, menyatakan bahwa tahun 2026 menjadi pembuktian atas fondasi yang mereka bangun sejak tahun-tahun sebelumnya. Perusahaan kini memiliki ekosistem anak usaha dan jaringan kemitraan strategis yang lebih matang. Arif menegaskan komitmen untuk terus menciptakan nilai maksimal bagi para pemegang saham melalui pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kekuatan Neraca dan Investasi Infrastruktur
Kondisi neraca INET tampak sehat dengan total aset konsolidasian yang mencapai Rp 760,37 miliar per 31 Desember 2026. Angka ini bertumbuh signifikan sebesar 231% dibandingkan posisi aset tahun 2024 yakni sebesar Rp 229,85 miliar. Kas dan setara kas pun melonjak hingga Rp 404,44 miliar dari posisi awal Rp 61,91 miliar.
Ekuitas perusahaan juga hampir berlipat dua menjadi Rp 429,21 miliar. Rasio Net Debt to Equity terjaga stabil pada level 17,07%, menunjukkan manajemen utang yang efisien dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 22,20%. Perusahaan mengalokasikan modal besar untuk investasi strategis sepanjang tahun berjalan.
Berikut adalah catatan investasi utama yang perusahaan lakukan sepanjang 2026:
- Pemberian uang muka Indefeasible Right-of-Use (IRU) kabel serat optik bawah laut rute Batam–Singapura senilai Rp 48,51 miliar.
- Peningkatan belanja modal atau capital expenditure mencapai Rp 44,75 miliar, meningkat dari tahun 2024 yang berjumlah Rp 10,13 miliar.
- Pendirian entitas bisnis baru, PT Internet Anak Bangsa (IAB), pada Mei 2026 guna mendukung lini jasa konstruksi telekomunikasi.
- Akuisisi 99,96% saham PT Garuda Prima Internetindo (GPI) pada September 2026 untuk memperluas jangkauan layanan ISP Grup.
Proyeksi Pertumbuhan dan Fondasi Masa Depan
Pembatalan kontrak dengan pihak WIFI tentu membawa dinamika baru dalam alur operasional INET. Namun, portofolio proyek yang lebih luas serta diversifikasi aset membuat perusahaan tetap optimis mengenai target pertumbuhan jangka panjang. Pengalihan fokus ke mitra baru seperti JIA membuktikan bahwa perusahaan tetap agresif dalam mengejar peluang di sektor konektivitas.
Dengan total kas yang sangat kuat, perusahaan memiliki fleksibilitas tinggi untuk mendanai rencana ekspansi selanjutnya. Investasi pada serat optik bawah laut serta akuisisi perusahaan ISP membuktikan niat INET dalam merajai pasar infrastruktur digital. Langkah ini menjamin posisi perusahaan tetap kompetitif di tengah pesatnya kebutuhan akan data dan koneksi berkualitas.
Singkatnya, kondisi korporasi saat ini menunjukkan stabilitas yang terjaga meski sedang melakukan restrukturisasi kontrak. Manajemen berfokus menaruh modal pada aset produktif agar nilai bagi pemegang saham terus meningkat. Masa depan perusahaan akan sangat bergantung pada efektivitas pelaksanaan seluruh proyek infrastruktur tersebut di paruh kedua tahun 2026.