Bukitmakmur.id – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau INET resmi membatalkan perjanjian penyediaan infrastruktur fiber optik dan layanan IP transit dengan PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) per awal 2026. Keputusan ini mengubah struktur kerja sama antara INET dengan entitas milik pengusaha Hashim Djojohadikusumo, PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau WIFI.
Manajemen INET menegaskan bahwa pembatalan ini tidak memutus seluruh hubungan bisnis dengan grup usaha WIFI. INET justru mengalihkan fokus kolaborasi ke level induk perusahaan, PT Jaringan Infra Andalan (JIA), untuk memperluas cakupan layanan operasional mereka di masa depan.
Tuntasnya Kerja sama INET dengan IJE
Laporan keuangan konsolidasian tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 menunjukkan pembatalan resmi antara INET dan IJE. Kedua pihak menyepakati penghentian perjanjian penyediaan infrastruktur fiber optik pada 2 Januari 2026. Dokumen Berita Acara Pembatalan bernomor BAK/002/SIAP-IJE/I/2026 memperkuat keputusan tersebut pada 6 Januari 2026.
Seiring langkah pembatalan itu, INET menerima pengembalian uang jaminan sebesar Rp 61 miliar tepat pada 6 Januari 2026. IJE sendiri merupakan anak usaha WIFI yang fokus mengelola solusi Information, Communication, and Technology (ICT) untuk mendukung percepatan transformasi digital serta konektivitas nasional.
Selain infrastruktur fiber optik, INET juga membatalkan perjanjian layanan IP transit. Anak usaha INET, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), mengakhiri kontrak dengan IJE sesuai Perjanjian Layanan IP Transit No. 42/PKS/LGL/PFI-IJE/III/2025. Perusahaan menuangkan kesepakatan ini dalam Berita Acara Kesepakatan No. 010/BAK.F/LEGAL/IJE-PFI/II/2026 tertanggal 16 Februari 2026. PFI kemudian mengembalikan seluruh uang muka senilai Rp 48,51 miliar kepada IJE pada 23 Februari 2026.
Strategi INET Mengubah Struktur Kerja sama WIFI
Meskipun terjadi pembatalan dengan IJE, hubungan strategis INET dengan grup WIFI tetap terjaga melalui penyesuaian mitra. Perusahaan memilih PT Jaringan Infra Andalan (JIA) sebagai mitra baru untuk layanan IP transit. PFI menandatangani addendum perjanjian pelayanan dengan JIA pada 6 Februari 2026.
Addendum nomor 111A/PKS/LGL/PFI-JIA/VII/2025/P1 mencatatkan nilai uang jaminan sebesar Rp 269,23 miliar. SVP Corporate Secretary INET, Arki Rifazka, menyatakan bahwa manajemen mempertimbangkan aspek bisnis dan operasional matang-matang sebelum mengambil keputusan ini.
Faktanya, JIA berperan sebagai induk yang menaungi IJE pada lini bisnis Fiber to the Home (FTTH) serta unit usaha lainnya di segmen Fixed Wireless Access (FWA). Arki menjelaskan bahwa pola kerja sama baru ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi kedua belah pihak.
| Aksi Korporasi | Rincian Perubahan Keuangan |
|---|---|
| Pembatalan FO dengan IJE | Pengembalian Jaminan Rp 61 Miliar |
| Pembatalan IP Transit dengan IJE | Pengembalian Uang Muka Rp 48,51 Miliar |
| Addendum Layanan IP Transit JIA | Nilai Jaminan Rp 269,23 Miliar |
Cakupan Bisnis INET dan Jaringan WIFI
Arki menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar penghentian kerja sama, melainkan upaya penyesuaian struktur kontraktual. Skema baru di level JIA memungkinkan cakupan pemanfaatan layanan yang jauh lebih luas pada unit-unit usaha WIFI lainnya. Perusahaan memandang langkah ini sebagai pemenuhan kewajiban pengungkapan dalam laporan keuangan audit tahun 2026.
Secara struktural, JIA merupakan entitas langsung milik WIFI dengan kepemilikan 99,99%. Selain membawahi IJE dengan porsi saham 50,84%, JIA juga menjadi entitas induk bagi perusahaan lain. JIA memiliki PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) sebesar 99,9%, serta PT Investasi Jaringan Nusantara (IJN) melalui kepemilikan di PT Dharma Sinar Semesta (DSS).
Dengan mengikat kontrak bersama JIA, INET secara tidak langsung memperkuat kolaborasi dengan empat entitas besar di bawah payung grup tersebut. Keputusan ini membuktikan komitmen perusahaan dalam menjaga ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan efisien di pasar infrastruktur digital.
Pada akhirnya, efektivitas langkah korporasi ini bakal memberi dampak positif bagi pengembangan konektivitas di tanah air. Sinergi antara para pemain besar industri telekomunikasi tentu krusial untuk menghadapi tantangan digitalisasi yang semakin meningkat sepanjang tahun 2026.