Bukitmakmur.id – Lembaga pemeringkat dunia Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) melaporkan penurunan Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia ke level 50,1 pada Maret 2026. Penurunan performa sektor industri ini terjadi seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas rantai pasok global.
Usamah Bhatti, peneliti S&P Global Market Intelligence, mengungkapkan bahwa pecahnya perang di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang menghambat produktivitas manufaktur dalam negeri. Gejolak tersebut memicu kenaikan harga bahan baku sekaligus menekan volume permintaan serta tingkat produksi nasional selama periode triwulan pertama 2026.
Penyebab Kinerja Manufaktur Indonesia Menurun
Penurunan tingkat produksi pada Maret 2026 menghentikan tren kenaikan selama empat bulan berturut-turut. Padahal, sektor ini sempat mencatatkan ekspansi besar pada Februari 2026. Data panelis S&P menunjukkan angka penurunan produksi ini menyentuh level tertajam sejak Juni 2025.
Faktanya, para pengusaha menghadapi kelangkaan pasokan material yang kritis. Selain itu, lonjakan harga bahan baku akibat gejolak perekonomian global memaksa pelaku industri mengubah strategi operasional secara drastis. Gangguan ini pun membuat kapasitas produksi melambat secara signifikan.
Dengan demikian, pelaku manufaktur kesulitan menjaga ritme produksi harian. Berbagai perusahaan kini harus menanggung beban tambahan karena harga input melonjak jauh lebih tinggi daripada periode sebelumnya. Alhasil, banyak perusahaan memangkas target produksi demi menekan kerugian yang lebih besar.
Dampak Penurunan Permintaan terhadap Tenaga Kerja
S&P Global mencatat volume permintaan baru untuk pertama kalinya mengalami pelemahan setelah delapan bulan terakhir. Meskipun terjadi pada kisaran marginal, perubahan ini memberikan dampak luas bagi rantai industri manufaktur nasional. Perusahaan merespons kondisi pasar tersebut dengan menyesuaikan kapasitas operasional secara ketat.
Kondisi permintaan yang berkurang ternyata mengurangi tekanan kapasitas pada perusahaan. Mereka mampu menyelesaikan pekerjaan yang ada, namun stok barang justru menumpuk di gudang karena minimnya penyerapan pasar. Akibatnya, perusahaan terpaksa melakukan pemecatan karyawan dalam skala kecil sebanyak dua kali dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
| Indikator Kinerja | Kondisi Maret 2026 |
|---|---|
| PMI Manufaktur | 50,1 (Turun) |
| Harga Input | Tertinggi sejak Maret 2024 |
| Waktu Pengiriman | Terlambat 6 bulan beruntun |
Gangguan Rantai Pasok dan Harga Material
Pengiriman material menghadapi tantangan serius selama enam bulan berturut-turut pada 2026. Laporan S&P menyoroti bahwa keterlambatan ini merupakan yang paling tajam sejak Oktober 2021. Eskalasi Timur Tengah menghambat jalur distribusi internasional sehingga bahan baku sulit mencapai pabrik tepat waktu.
Selain itu, inflasi harga input mencapai rekor tertinggi sejak Maret 2024. Perusahaan kemudian mengalihkan beban biaya operasional kepada klien. Mereka menaikkan harga produk hasil pabrik setinggi mungkin sejak tahun 2022 untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya bahan baku yang mencekik.
Outlook Produsen dan Harapan Masa Depan
Meski menghadapi tantangan berat, produsen di Indonesia masih menunjukkan optimisme terhadap proyeksi tahun mendatang. Tingkat keyakinan pelaku industri pada Maret 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Perusahaan berharap permintaan domestik segera membaik dan tidak ada lagi eskalasi konflik di Timur Tengah yang memperburuk keadaan.
Namun, sentimen positif ini masih berada di bawah angka rata-rata sehingga pelaku industri harus tetap waspada. Perusahaan berharap stabilisasi ekonomi global segera terjadi demi memulihkan arus logistik. Pada akhirnya, ketenangan di pasar internasional menjadi kunci utama bagi kebangkitan kembali sektor manufaktur di Indonesia agar tidak terus merosot di kawasan ASEAN.