Beranda » Berita » Laba TINS Melonjak 2026: Intip Proyeksi dan Produksi Bijih

Laba TINS Melonjak 2026: Intip Proyeksi dan Produksi Bijih

Bukitmakmur.id – Direktur Utama PT Timah Tbk (TINS), Restu Widiyantoro, menyampaikan perolehan laba bersih sekitar Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,2 triliun untuk tahun buku 2026 dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI di Kompleks Parlemen , , pada Selasa (31/3/). Pencapaian ini melanjutkan tren positif perusahaan yang sebelumnya mencatat laba bersih Rp 1,19 triliun pada 2024 setelah sempat mengalami kerugian mencapai Rp 449,67 miliar pada 2023.

Restu juga memaparkan realisasi pendapatan perusahaan mencapai angka Rp 12 triliun selama 2026. Data ini menunjukkan kenaikan sebesar 10,5% secara tahunan (yoy) dibandingkan pendapatan Rp 10,86 triliun pada 2024. Meskipun angka laba dan pendapatan mencatat kenaikan, PT Timah Tbk (TINS) masih menghadapi tantangan pada sisi operasional produksi.

Capaian Produksi Bijih Timah dan Tantangan Administratif

Ternyata, operasional perusahaan selama 2026 belum sepenuhnya memenuhi target yang manajemen tetapkan dalam Rencana Kerja dan Perusahaan (RKAP). Fakta di lapangan menunjukkan realisasi produksi bijih timah pada 2026 sebesar 18.635 ton, atau turun 4% dari realisasi 2024 yang saat itu mencapai 19.473 ton. Selain itu, produksi logam timah juga mencatat penurunan sebesar 6% yoy menjadi 17.815 metrik ton dari posisi 18.915 metrik ton pada 2024.

Menariknya, pelemahan angka produksi juga memengaruhi volume penjualan logam timah yang merosot 5% menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan 17.507 metrik ton pada 2024. Kondisi ini terjadi karena manajemen menghadapi kendala administratif pengelolaan material dari smelter timah sitaan pemerintah. Alhasil, sekitar 2.000 ton bijih timah belum memenuhi syarat untuk masuk dalam pencatatan kinerja tahun 2026, padahal potensi produksi sebenarnya mencapai angka 20.000 ton.

Baca Juga:  Kepentingan Aceh di Pusat Menjadi Perhatian Utama Cak Imin

Di sisi lain, manajemen tetap optimistis menyambut tahun depan dengan target produksi yang lebih ambisius. Restu menegaskan kesiapan perseroan untuk mencapai target RKAP produksi bijih timah sebesar 30.000 ton pada 2027. Berikut adalah rangkuman performa PT Timah Tbk dalam beberapa tahun terakhir:

Keterangan 2024 2026 (Update)
Laba Bersih Rp 1,19 T ~Rp 1,1 – 1,2 T
Pendapatan Rp 10,86 T Rp 12 T
Produksi Bijih (Ton) 19.473 18.635

Faktor Pendorong Harga Komoditas dan Prospek Saham

timah dunia yang kini mencapai US$ 45.703 per ton menjadi katalis utama bagi kinerja keuangan perusahaan. Angka ini mencatat penguatan sebesar 3,76% pada hari ini. pasar global memberikan dampak positif terhadap profitabilitas, mengingat struktur biaya operasional perusahaan relatif stabil di kisaran US$ 20.000 per ton.

Analis Fundamental Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memperkirakan kenaikan harga setara US$ 2.000 per ton mampu mendongkrak laba tahun buku ke depan hingga 37%. Selain itu, pemulihan sektor tambang pasca-penertiban tambang ilegal juga memberikan sentimen positif. Proyeksi mencatat volume produksi berpotensi melonjak dari posisi 15 ribu ton pada periode sebelumnya menjadi 45 ribu ton pada periode berikutnya.

Jika tren harga timah tetap berada dalam momentum bullish, laba bersih tahun ke depan bahkan diprediksi mencapai lebih dari Rp 4 triliun. Dengan asumsi kenaikan earnings per share (EPS) ke level Rp 430–450, analis menetapkan target harga saham TINS pada level Rp 4.000 yang dinilai masih sangat rasional. Pendekatan konservatif ini tetap memperhatikan risiko pengelolaan biaya kas perusahaan agar tetap berada dalam kontrol manajemen.

Pada akhirnya, efisiensi operasional dan perbaikan administrasi menjadi kunci utama PT Timah Tbk dalam menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi harga komoditas global. Dengan fundamental yang kuat dan target produksi 30.000 ton di depan mata, perusahaan siap mengejar pertumbuhan nilai bagi para pemegang saham di tahun-tahun mendatang.

Baca Juga:  HP 3 Jutaan Terbaik 2026: Rekomendasi Unggul Performa Gahar