Bukitmakmur.id – Longsor di Purbalingga merenggut nyawa satu orang warga setelah tebing di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, runtuh pada Minggu (12/4/2026). Peristiwa nahas yang terjadi sekitar pukul 09.55 WIB tersebut juga mengakibatkan seorang warga lainnya mengalami luka-luka serius akibat tertimpa bebatuan besar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Revon Haprindiat, turun langsung memimpin proses evakuasi. Petugas segera membawa para korban menuju Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bobotsari untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut segera setelah insiden berlangsung.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi warga mengenai potensi bencana di tengah cuaca ekstrem. BPBD Kabupaten Purbalingga terus mengimbau masyarakat agar meningkatkan kapasitas mitigasi mandiri demi menekan risiko fatal yang mungkin muncul saat hujan lebat terjadi sepanjang tahun 2026 ini.
Kronologi Longsor di Purbalingga
Kejadian tanah bergerak ini terjadi secara mendadak di pemukiman warga yang berlokasi di RT 14 RW 5, Dusun Tambleg Pondokangka, Desa Sangkanayu. Kepala Desa Sangkanayu, Ali Nur Setiawan, menjelaskan bahwa material batu berukuran besar meluncur jatuh dari atas tebing tepat mengarah ke rumah warga.
Singkatnya, material bebatuan tersebut menghantam area dapur rumah korban dengan kecepatan tinggi. Saat kejadian berlangsung, para penghuni rumah tidak memiliki waktu luang untuk menyelamatkan diri, sehingga mereka terjebak di dalam bangunan yang porak-poranda oleh hantaman batu besar tersebut.
Berdasarkan laporan di lapangan, warga sekitar bersama perangkat desa segera bertindak melakukan evakuasi secara gotong royong. Mereka membongkar reruntuhan material dapur guna mengeluarkan para korban yang terjepit guna memastikan pertolongan medik sampai dengan cepat.
Data Korban Kejadian Longsor
Berikut adalah catatan identitas korban yang pihak berwajib sampaikan pasca kejadian di Desa Sangkanayu:
| Nama Korban | Keterangan |
|---|---|
| Yanti (37) | Meninggal Dunia |
| Kasini (34) | Luka-luka Serius |
Langkah Mitigasi Cuaca Ekstrem 2026
Pemerintah Daerah melalui BPBD meminta masyarakat agar tetap tenang namun tidak lengah terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah Purbalingga. Langkah mitigasi menjadi kunci utama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan pergerakan tanah atau sekitar tebing curam.
Sebenarnya, apakah warga sudah siap menghadapi risiko geografis di tempat tinggal mereka? Pertanyaan ini memantik urgensi bagi perangkat desa untuk melakukan pemetaan ulang zona bahaya. Selain itu, kolaborasi antara warga dan instansi terkait harus terus konsisten demi meminimalkan dampak buruk bencana alam di masa depan.
Lebih dari itu, Revon Haprindiat menekankan bahwa kesiapan masyarakat sebelum cuaca ekstrem datang sangat menentukan keselamatan jiwa. Warga perlu mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan pada dinding rumah atau permukaan tanah di sekitar tebing.
Pentingnya Kewaspadaan Warga
Tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah, kemandirian warga dalam mitigasi bencana merupakan aset penting. Apabila terjadi cuaca dengan intensitas tinggi, warga sebaiknya segera mencari tempat aman yang jauh dari potensi longsor. Faktanya, kecepatan respon saat bencana terjadi mampu memperbesar peluang keselamatan seluruh keluarga.
Selanjutnya, perangkat desa Sangkanayu terus berkoordinasi dengan BPBD untuk melakukan pemantauan pasca insiden. Kegiatan ini mencakup audit keamanan tebing guna memastikan tidak ada potensi runtuhan susulan yang membahayakan warga di Dusun Tambleg Pondokangka. Keamanan pemukiman tetap menjadi prioritas utama bagi seluruh pihak yang terlibat.
Pada akhirnya, kejadian ini memberikan pelajaran berharga akan pentingnya ketaatan pada protokol keselamatan saat situasi cuaca memburuk. Meskipun alam tidak pernah bisa kita prediksi sepenuhnya, upaya mitigasi yang terencana dengan baik akan mampu menyelamatkan banyak nyawa jika kita semua saling peduli dan waspada.