Bukitmakmur.id – Semarang, Jawa Tengah – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara di SD Negeri Lempongsari, Semarang per 15 Maret 2026. Alhasil, kantin sekolah kembali ramai diserbu siswa yang mencari alternatif makanan.
Penghentian program MBG ini menjadi sorotan setelah inspeksi mendadak menemukan kondisi dapur yang tidak memenuhi standar kebersihan dan gizi. Selain itu, keluhan terkait kualitas menu juga telah berlangsung sejak akhir 2025. Namun, perbaikan yang dijanjikan tidak kunjung membaik.
Kantin Kembali Jadi Andalan Siswa
Senin pagi, 30 Maret 2026, suasana kantin SD Negeri Lempongsari terlihat lebih sibuk dari biasanya. Anak-anak mengerumuni etalase makanan, memilih jajanan favorit mereka. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya mereka terima setiap pukul 07.00 pagi tidak ada hari itu. Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa kantin kembali menjadi pilihan utama bagi siswa untuk mengisi perut di sekolah.
Guru Kelas V SD Negeri Lempongsari, Umi Mahmudah, mengungkapkan bahwa masalah MBG sudah berlangsung lama. Keluhan mengenai kualitas makanan bahkan sudah disampaikan sejak akhir 2025. “Namun, perbaikan itu tidak bertahan lama,” ujar Umi.
Keluhan Kualitas Makanan Bergizi Gratis
Umi menjelaskan bahwa beberapa menu yang diterima siswa tidak memenuhi standar makanan bergizi. Selama bulan Ramadan 2026, misalnya, menu yang diberikan cenderung berupa gorengan, nugget, atau makanan olahan berminyak. Lebih dari itu, buah yang diberikan pun terkadang dalam kondisi kurang layak, bahkan ada yang sudah busuk. Tidak hanya itu, pihak sekolah juga pernah menemukan nasi goreng basi dan roti berjamur.
“Temuan-temuan itu membuat guru harus berulang kali mengingatkan siswa agar tidak memakan makanan yang dirasa tidak layak,” tegasnya.
Pihak sekolah sudah sering menyampaikan keluhan kepada pengelola dapur MBG. Akan tetapi perbaikan hanya terjadi sementara dan kemudian kembali seperti semula.
Inspeksi Badan Gizi Nasional Ungkap Fakta Memprihatinkan
Keluhan dari sekolah dan penerima manfaat terus menumpuk hingga akhirnya dilakukan inspeksi dari pusat. Puncaknya, inspeksi mendadak Badan Gizi Nasional (BGN) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Lempongsari mengungkap kondisi yang memprihatinkan. Ruangan dapur sempit dengan alur kerja berantakan, kebersihan rendah, dan ditemukan bahan makanan yang sudah membusuk di chiller dan freezer.
Selain itu, proses pemorsian makanan disebut dilakukan di lantai balkon. Sementara relawan tidak menggunakan masker maupun alat pelindung diri. Instalasi pengolahan air limbah juga tidak tersedia, dan grease trap dalam kondisi kotor.
Temuan tersebut membuat Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional dapur MBG sejak 15 Maret 2026.
Harapan akan Perbaikan Program Makan Bergizi Gratis
Bagi Umi, makanan untuk anak sekolah bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga harus higienis dan bergizi. Ia berharap evaluasi yang dilakukan pemerintah benar-benar membawa perubahan. Dengan demikian, program yang tujuannya baik tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh siswa.
Salah satu orang tua siswa, Elly, mengaku anaknya memang tidak selalu menghabiskan makanan dari program tersebut. Ia menilai menu yang diberikan terkadang kurang menarik. Ia mencontohkan menu roti isi abon yang pernah diterima anaknya. Menurutnya, isi roti terlalu sedikit sehingga anak tidak tertarik menghabiskannya. “Akhirnya, makanan sering dibawa pulang atau tidak dimakan sama sekali,” katanya.
Sejak MBG dihentikan sementara, Elly memilih membekali anaknya dari rumah. Sesekali anaknya tetap jajan di kantin bersama teman-temannya.
Baik pihak sekolah maupun orang tua sebenarnya tidak menolak program MBG. Mereka justru berharap program tersebut tetap berjalan, namun dengan perbaikan kualitas, kebersihan, dan kandungan gizi makanan.
Evaluasi dan Perbaikan Program Makan Bergizi Gratis
Penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Lempongsari menjadi momentum penting untuk evaluasi menyeluruh. Fakta bahwa keluhan mengenai kualitas makanan sudah berlangsung sejak akhir 2025 menunjukkan adanya masalah sistemik yang perlu segera diatasi.
Inspeksi Badan Gizi Nasional (BGN) yang menemukan kondisi dapur tidak higienis semakin memperkuat urgensi perbaikan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa program MBG di masa depan benar-benar memenuhi standar gizi dan kebersihan.
Kesimpulan
Penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Lempongsari Semarang menjadi pelajaran berharga. Pemerintah perlu segera berbenah dan memastikan program serupa di masa depan berjalan dengan standar gizi dan kebersihan yang ketat. Dengan begitu, tujuan mulia untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dapat tercapai secara optimal. Pihak sekolah dan orang tua berharap program ini akan segera kembali berjalan dengan kualitas yang lebih baik demi kesehatan dan perkembangan anak-anak.