Beranda » Berita » Mobil Listrik Hemat BBM: Dunia Untung Triliunan Rupiah!

Mobil Listrik Hemat BBM: Dunia Untung Triliunan Rupiah!

Bukitmakmur.id – Adopsi mobil listrik terus menunjukkan dampak positif. Per 2026, penggunaan kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat 2,3 juta barel minyak per hari secara global. Angka penghematan ini diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 5,25 juta barel minyak per hari pada 2031, berdasarkan skenario pemodelan terbaru 2026 dari BloombergNEF.

Analis minyak , Claudio Lubis, menyampaikan bahwa peralihan ke kendaraan bertenaga baterai akan semakin masif hingga akhir dekade ini. Alhasil, penghematan bahan bakar fosil juga berpotensi meningkat signifikan seiring pertumbuhan adopsi mobil listrik.

Penghematan Bahan Bakar Fosil Terbesar dari Motor Listrik per 2026

Saat ini, menurut perhitungan BloombergNEF, kendaraan roda dua dan roda tiga memberikan kontribusi terbesar dalam penghematan bahan bakar fosil. Hal ini didorong oleh maraknya penggunaan sepeda motor listrik, terutama di negara-negara berkembang.

Angka penghematan minyak pada 2026 didominasi oleh adopsi motor listrik. Kendaraan roda dua dan roda tiga diperkirakan menghemat sekitar 1,14 juta barel minyak per hari. Kemudian, disusul oleh kendaraan pribadi (roda empat) dengan penghematan 926,8 ribu barel per hari, bus 229,8 ribu barel per hari, angkutan umum 217,9 ribu barel per hari, serta truk komersial 194,2 ribu barel per hari.

Proyeksi Penghematan Minyak per 2031: Kendaraan Pribadi Jadi Andalan

Pada 2031, penghematan terbesar diperkirakan berasal dari kendaraan pribadi (roda empat) dengan estimasi mencapai 2,09 juta barel minyak per hari. Selanjutnya, kendaraan roda dua dan roda tiga diprediksi menyumbang 1,35 juta barel per hari, angkutan umum 775,1 ribu barel per hari, truk komersial 721,7 ribu barel per hari, serta bus 315,7 ribu barel per hari.

Baca Juga:  Syarat KUR BCA untuk Nasabah Perorangan 2026, Ini Rincian Lengkapnya!

Faktor yang Mempengaruhi Penjualan Mobil Listrik Global

Beberapa kebijakan berpotensi memengaruhi laju penjualan global tahun ini. Salah satunya adalah kebijakan penghapusan terkait kendaraan listrik di Cina. Perubahan atau pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035 di Eropa juga menjadi faktor penentu. Akan tetapi, melonjaknya bahan bakar akibat perang di Timur Tengah justru memberikan angin segar bagi penjualan mobil listrik.

Mobil Listrik Makin Kompetitif Secara Biaya

Analis di lembaga think tank bidang energi EMBER, Daan Walter, mengungkapkan bahwa kendaraan listrik semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. “Volatilitas harga minyak menandakan kendaraan listrik sebagai pilihan yang masuk akal bagi negara yang ingin melindungi diri dari guncangan masa depan,” kata Walter, seperti dikutip dari Bloomberg.

Adopsi Kendaraan Listrik di Asia Lebih Cepat

Berdasarkan analisis , negara-negara di Asia termasuk yang paling cepat mengadopsi kendaraan listrik. Pada 2026, Cina diperkirakan mencatatkan 50 persen penjualan mobil berjenis mobil listrik (baterai maupun hibrida plug-in) untuk pertama kalinya. Vietnam diprediksi mencapai 38 persen, dan Thailand 21 persen.

Perhitungan EMBER menunjukkan bahwa penghematan minyak karena adopsi kendaraan listrik mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2026. Angka ini lebih rendah dari estimasi BloombergNEF. Perbedaan ini disebabkan karena EMBER juga menghitung penggunaan oleh mobil listrik jenis hibrida plug-in.

Potensi Penghematan Triliunan Rupiah Berkat Mobil Listrik

Jika rata-rata harga minyak US$80 per barel, EMBER memperkirakan Cina bisa menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun karena adopsi kendaraan listrik. Eropa berpotensi menghemat US$8 miliar per tahun, dan India US$600 juta per tahun. Singkatnya, adopsi kendaraan listrik tidak hanya ramah , tetapi juga berpotensi menghemat triliunan rupiah bagi negara-negara di seluruh dunia.

Baca Juga:  Dewas KPK Pantau Tahanan Rumah Yaqut atas Laporan Etik Publik

Dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan, kendaraan listrik semakin menjadi pilihan menarik bagi konsumen dan . Investasi pada infrastruktur pendukung dan insentif yang tepat akan mempercepat transisi ke era kendaraan listrik, menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan hemat .