Beranda » Berita » Okupansi Hotel Bandung Melonjak 50 Persen Selama Libur Lebaran 2026

Okupansi Hotel Bandung Melonjak 50 Persen Selama Libur Lebaran 2026

Bukitmakmur.id – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengumumkan hotel bintang tiga hingga bintang lima di Kota mencatat peningkatan okupansi mencapai 50 persen selama libur Lebaran 2026. Peningkatan signifikan ini didorong oleh lonjakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bandung pada periode Idulfitri 2026.

Data menunjukkan pada saat puncak perayaan , tepatnya H+2 dan H+3, tingkat hunian hotel menembus angka 90 persen. Fenomena ini mencerminkan tingginya antusiasme untuk merayakan Lebaran sambil menikmati liburan di Bandung, khususnya dari wisatawan yang berasal dari luar kota.

Okupansi Hotel Mencapai Puncak di Hari-Hari Lebaran

Farhan menjelaskan dalam keterangannya pada Sabtu, 28 Maret 2026, bahwa rata-rata hotel bintang tiga sampai bintang lima mencapai angka yang sangat mengesankan. “Hotel bintang tiga sampai bintang lima di atas 50 persen, rata-rata mendekati 50 persen dengan jumlah kamar yang sangat banyak,” ungkapnya.

Puncak hunian hotel mencapai level tertinggi pada periode H-2 dan H+3, ketika tingkat okupansi melebihi 90 persen. Ini menunjukkan bahwa para tamu hotel lebih memilih menginap di akomodasi berkualitas tinggi selama libur Lebaran 2026.

Wisatawan Jabodetabek Dominasi Kunjungan ke Bandung

Sebagian besar wisatawan yang memadati hotel-hotel Bandung berasal dari luar kota, khususnya dari wilayah Jabodetabek. Mereka memilih Bandung sebagai destinasi liburan Lebaran untuk melepas penat sambil menikmati fasilitas penginapan yang tersedia.

Selain itu, volume mengalami peningkatan sebesar 15 persen selama periode libur Lebaran tahun ini. Data sementara yang Wali Kota sampaikan mencatat total kunjungan mencapai lebih dari 723 ribu orang ke Bandung.

Baca Juga:  April 2026: Jadwal Lengkap Fenomena Langit Malam Spektakuler

Dampak Positif Terhadap Sektor Ekonomi Bandung

Lonjakan okupansi hotel dan volume wisatawan membawa dampak positif bagi perekonomian Kota Bandung. Sektor perhotelan khususnya mengalami peningkatan penerimaan yang signifikan berkat tingginya permintaan akomodasi selama liburan .

Akan tetapi, Farhan mengajak pengusaha hotel untuk tetap mempertahankan kualitas pelayanan agar wisatawan merasa puas. Ini penting untuk membangun kepercayaan dan mendorong kunjungan berulang di masa depan.

Target Pertumbuhan Ekonomi Masih Jauh di Bawah Potensi

Farhan menyampaikan bahwa pertumbuhan Bandung per 2026 masih mencapai angka 5,27 persen. Padahal sebelum pandemi, kota ini berhasil mencapai pertumbuhan hingga 7 hingga 8 persen, menunjukkan masih ada peluang besar untuk meningkatkan perekonomian daerah.

Oleh karena itu, Farhan mengajak pelaku usaha di Bandung untuk berkolaborasi dan mengambil peran strategis. Kolaborasi ini dirasa penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kota yang lebih optimal di tahun-tahun mendatang.

Transportasi dan Industri Pengolahan Menjadi Kendala Utama

Wali Kota mengidentifikasi dua masalah utama yang menghambat perekonomian Bandung. Pertama, sektor terdampak akibat belum optimalnya operasional Bandara Husein Sastranegara yang belum kembali berfungsi penuh.

“Kalau bandara kembali hidup, kontribusi sektor transportasi akan langsung terdongkrak. Ini yang sedang kita perjuangkan bersama pemerintah pusat,” kata Farhan. Aktivasi bandara ini diyakini mampu meningkatkan kontribusi sektor transportasi secara signifikan.

Masalah kedua adalah industri pengolahan yang tidak kunjung berkembang. Pembatasan industri besar di dalam kota mengakibatkan menurunnya kontribusi manufaktur terhadap perekonomian Bandung. Inilah mengapa kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting untuk mengatasi kedua tantangan tersebut.

Dengan peningkatan okupansi hotel hingga 50 persen selama dan total kunjungan lebih dari 723 ribu orang, Bandung menunjukkan potensi kuat sebagai destinasi wisata. Namun, untuk meraih pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi seperti periode pra-pandemi, diperlukan upaya koordinasi antar sektor yang lebih kuat, terutama dalam mengoptimalkan transportasi dan mengembangkan industri pengolahan.

Baca Juga:  Apa Saja Risiko Gagal Bayar Pinjol Legal OJK yang Harus Kamu Tahu?