Beranda » Sosial » Pengertian Desil DTSEN dalam Data Kemensos dan Pengaruhnya Terhadap Penerima Bansos

Pengertian Desil DTSEN dalam Data Kemensos dan Pengaruhnya Terhadap Penerima Bansos

Salah satu topik yang sering dibahas dalam lingkup (bansos) adalah desil DTSEN. Namun, tidak semua orang memahami apa itu desil DTSEN dan bagaimana dampaknya terhadap penerima manfaat bansos. Simak penjelasan lengkap dari Bukitmakmur.id berikut ini…

Ringkasan Cepat: Desil DTSEN adalah sistem pengkategorian data dari Kementerian Sosial yang digunakan untuk menentukan . Desil 1-3 adalah kelompok termiskin yang berhak menerima bansos, sedangkan -10 adalah kelompok lebih mampu yang tidak berhak.

Apa Itu Desil DTSEN?

Desil DTSEN merupakan singkatan dari Decil Tingkat Sosial Ekonomi Nasional. Ini adalah sistem pengkategorian data kemiskinan yang digunakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) untuk mengidentifikasi penerima bantuan sosial (bansos) di Indonesia.

Dalam sistem desil DTSEN, penduduk miskin di Indonesia dibagi menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Kelompok 1 adalah yang paling miskin, sedangkan kelompok 10 adalah yang paling mampu secara ekonomi.

Bagaimana Pengaruh Desil DTSEN Terhadap Penerima Bansos?

Desil DTSEN menjadi acuan utama Kemensos dalam menentukan siapa yang berhak mendapatkan bansos. Kelompok desil 1-3 (30% termiskin) adalah sasaran utama penerima bansos, sedangkan kelompok desil 4-10 (70% lebih mampu) tidak berhak menerima bantuan.

Berikut rincian pengaruh desil DTSEN terhadap penerima bansos:

  • Desil 1-3 (30% termiskin): Masuk kategori miskin dan sangat miskin, sehingga berhak menerima berbagai jenis bansos seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Non Tunai (BPNT), (KIP), dll.
  • Desil 4-10 (70% lebih mampu): Masuk kategori hampir miskin hingga terkaya, sehingga tidak berhak menerima bansos kecuali dalam kondisi khusus tertentu.
Baca Juga:  Cara Mengetahui Apakah Kita Masuk Data Bayar Termin 1 atau Termin 2

Penentuan desil DTSEN didasarkan pada survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemensos. Data ini kemudian digunakan untuk menyusun Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial () yang menjadi database resmi penerima bansos di Indonesia.

Studi Kasus: Dampak Desil DTSEN Terhadap Penerima Bansos

Misalkan Ibu Siti tinggal di Kecamatan Pasirbungur, Kabupaten Cianjur. Berdasarkan survei Kemensos, Ibu Siti masuk dalam kategori desil 2, yang artinya dia termasuk dalam 20% penduduk termiskin di wilayahnya.

Karena Ibu Siti berada di desil 1-3, maka dia berhak menerima berbagai bantuan sosial, seperti:

  • Program Keluarga Harapan (PKH)
  • Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)
  • Kartu Indonesia Pintar (KIP)
  • Bantuan Langsung Tunai () saat pandemi

Namun, jika tetangga Ibu Siti, Bapak Asep, masuk dalam kategori desil 4, maka dia tidak berhak menerima bansos tersebut. Walaupun kondisi ekonomi Bapak Asep juga tergolong tidak mampu, namun karena masuk dalam kelompok desil 4-10, dia tidak termasuk dalam sasaran penerima bansos.

Masalah Umum Terkait Desil DTSEN

Meskipun desil DTSEN menjadi acuan utama dalam penentuan penerima bansos, namun dalam praktiknya masih ditemukan beberapa kendala, antara lain:

  1. Pembaruan Data yang Lambat: yang digunakan Kemensos sering kali sudah tidak akurat, karena proses pembaruan data yang lambat. Akibatnya, ada banyak warga miskin yang seharusnya berhak, namun tidak masuk dalam .
  2. Kesalahan Klasifikasi Desil: Terdapat kasus di mana penduduk yang seharusnya masuk desil 1-3, malah terklasifikasi dalam desil 4-10, sehingga kehilangan hak untuk menerima bantuan.
  3. Kuota Terbatas: Meskipun desil 1-3 berhak menerima bansos, namun jumlah kuota yang disediakan terkadang tidak mencukupi. Hal ini menyebabkan tidak semua penduduk miskin dalam desil 1-3 dapat terlayani.
  4. Ketidaktepatan Sasaran: Di sisi lain, masih ditemukan kasus di mana penduduk yang sebenarnya tidak miskin malah menerima bansos, sementara warga miskin yang seharusnya prioritas justru tidak kebagian.
  5. Keterbatasan Akses: Terutama di daerah terpencil, banyak warga miskin yang kesulitan mengakses informasi dan prosedur pengajuan bansos, sehingga tidak dapat terdaftar sebagai penerima.
Baca Juga:  Cek Bansos PKH dan BPNT 2026 Online Tanpa Antri, Begini Caranya!

Meskipun demikian, Kemensos terus berupaya untuk memperbaiki sistem desil DTSEN agar lebih akurat dan tepat sasaran dalam menentukan penerima bansos di Indonesia.

FAQ Seputar Desil DTSEN

  1. Apa Kegunaan Desil DTSEN Bagi Penerima Bansos?
    Desil DTSEN menjadi acuan utama Kemensos dalam menentukan siapa saja yang berhak menerima berbagai jenis bantuan sosial seperti PKH, BPNT, KIP, BLT, dan lain-lain. Kelompok desil 1-3 (30% termiskin) adalah sasaran utama penerima bansos.
  2. Bagaimana Cara Mengecek Desil DTSEN Seseorang?
    Cara mengecek desil DTSEN seseorang adalah dengan mengakses database Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) milik Kemensos. Setiap penduduk yang masuk dalam database DTKS akan tercatat desil DTSENnya.
  3. Apakah Desil DTSEN Selalu Akurat?
    Tidak selalu akurat. Masih ditemukan banyak kasus ketidaktepatan sasaran dalam penentuan desil DTSEN, seperti penduduk miskin yang seharusnya masuk desil 1-3 tapi masuk desil 4-10, atau sebaliknya penduduk tidak miskin yang masuk desil 1-3. Kemensos terus berupaya memperbaiki akurasi data DTKS.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk informasi, bukan saran finansial profesional. Bukitmakmur.id tidak bekerja sama dengan pemerintah/instansi terkait.

Nah, sekarang Anda sudah memahami apa itu desil DTSEN dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerima bantuan sosial di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat! Silakan berbagi pengalaman atau pertanyaan Anda terkait desil DTSEN dan bansos di kolom komentar.