Bukitmakmur.id – Polres Kota Yogyakarta menangkap lima tersangka pelaku penipuan berkedok penggalangan dana yang beroperasi di sekitar Stasiun Tugu pada Sabtu, 28 Maret 2026. Penangkapan dilakukan setelah aksi mereka viral di media sosial dan memicu keresahan publik yang signifikan terhadap keamanan penumpang kereta api.
Kelima pelaku terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki yang ditangkap di kawasan simpang tiga Jalan Pasar Kembang, masih dalam area sekitar stasiun. Petugas kepolisian mengungkap modus operandi mereka yang terstruktur dan sistematis dalam menjalankan skema penipuan ini.
Modus Penipuan Donasi Palsu di Stasiun Tugu
Dalam menjalankan aksinya, para pelaku penipuan donasi palsu menawarkan sumbangan dengan dalih membantu keluarga prasejahtera, difabel, hingga yayasan sosial. Mereka mematok nominal tertentu, sekitar Rp 100 ribu, sambil memberikan iming-iming produk seperti kopi atau minuman tradisional sebagai imbalan.
Pendekatan mereka sangat terstruktur dengan menggunakan teknologi pembayaran digital. Penawaran donasi dilakukan sambil menyodorkan kode QRIS kepada calon korban, menciptakan tekanan sosial agar target mereka merasa wajib untuk merespons ajakan tersebut.
Sistem Pembagian Hasil dan Barang Bukti yang Disita
Polisi mengungkapkan adanya sistem pembagian hasil yang rapi di antara para pelaku, menunjukkan operasi terorganisir dengan struktur manajemen yang jelas. Petugas kepolisian menyita sejumlah barang bukti berupa minuman, kopi, dan uang tunai hasil penggalangan dana palsu tersebut.
Hasil penyelidikan menunjukkan dana yang terkumpul dari skema penipuan donasi palsu ini cukup signifikan. Beberapa pelaku kemudian diserahkan ke dinas sosial untuk pembinaan lebih lanjut sesuai dengan prosedur penanganan kasus sosial.
Viral di Media Sosial, Warganet Melaporkan Pengalaman Serupa
Kasus penipuan donasi ini mencuat setelah keluhan dari penumpang kereta api menyebar viral di berbagai platform media sosial. Salah satu laporan berasal dari akun TikTok Olania yang mengaku didatangi langsung oleh orang tak dikenal menawarkan proposal donasi sambil menyodorkan QRIS, dengan pendekatan yang terasa memaksa.
Penumpang tersebut menjelaskan bahwa metode pendekatan para pelaku menciptakan ketidaknyamanan bagi pengguna jasa kereta api. Menariknya, unggahan tersebut memicu respons luas dari warganet yang mengaku mengalami kejadian serupa di berbagai waktu dan lokasi.
Sejumlah warganet meminta aparat keamanan segera menertibkan praktik penipuan donasi palsu yang telah mengganggu kenyamanan publik di kawasan transportasi. Momentum viral ini akhirnya mendorong polres Yogyakarta untuk melakukan operasi penangkapan secara masif.
Respons PT KAI dan Upaya Pencegahan
PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 6 Yogyakarta menyatakan bahwa aktivitas penipuan donasi palsu tersebut terjadi di luar area resmi stasiun. Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menegaskan bahwa seluruh kegiatan di dalam stasiun wajib memiliki izin tertulis dan tidak boleh mengganggu pelayanan penumpang.
Berdasarkan penelusuran internal KAI, kejadian penipuan donasi palsu berada di luar kewenangan langsung perusahaan karena terjadi di wilayah publik di sekitar stasiun, bukan di dalam terminal. Meski begitu, petugas pengamanan KAI telah memberikan teguran kepada para oknum tersebut sebagai langkah preventif guna menghindari eskalasi gangguan.
KAI mendorong adanya sinergi kuat antara pihak perusahaan dengan aparat penegak hukum untuk menindak tegas aktivitas yang meresahkan masyarakat. Kolaborasi ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang kereta api di seluruh area operasi.
Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat
PT KAI mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan yang berkembang di ruang publik, khususnya di kawasan transportasi yang ramai seperti stasiun kereta api. Kesadaran konsumen terhadap praktik penipuan menjadi pertahanan pertama melawan oknum yang terus mencari modus operandi baru.
Modus penawaran donasi dengan teknologi QRIS menjadi tren baru yang memanfaatkan empati sosial masyarakat untuk tujuan penipuan. Penumpang kereta api sebaiknya melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum merespons ajakan donasi yang datang dari orang tak dikenal, terutama yang dilakukan dengan pendekatan mendadak atau memaksa di area transportasi publik.
Kasus penipuan donasi palsu yang melibatkan lima pelaku ini menjadi pengingat penting bagi otoritas dan masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan. Pelaporan kepada pihak kepolisian atau petugas stasiun segera setelah mengalami pendekatan mencurigakan dapat membantu mengidentifikasi dan menghentikan sindikat penipuan sebelum mereka merugikan lebih banyak korban.
Aksi penangkapan lima pelaku penipuan donasi palsu menunjukkan komitmen polres Yogyakarta dalam melindungi keamanan publik dan kenyamanan penumpang kereta api. Koordinasi antara kepolisian, PT KAI, dan pelaporan dari masyarakat menjadi kunci dalam mengungkap dan menghentikan sindikat penipuan yang beroperasi di sekitar pusat transportasi umum.