Bukitmakmur.id – Prof. Dessie Wanda, Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Infeksi pada Anak di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, menyoroti urgensi penanganan penyakit infeksi pada anak sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan dunia per 2026. Penyakit ini menempatkan anak-anak sebagai kelompok paling berisiko karena sistem imun mereka masih dalam proses pematangan.
Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) selama kurun waktu 2020 hingga 2026 menunjukkan lonjakan tren kasus berbahaya bagi anak. Kelompok penyakit infeksi yang kini membayangi kesehatan anak mencakup pneumonia, diare, tuberkulosis, serta HIV. Faktanya, kasus pneumonia mencatat peningkatan tajam hampir dua kali lipat pada 2026 jika publik membandingkannya dengan catatan tahun sebelumnya.
Penyebab Utama Peningkatan Penyakit Infeksi pada Anak
Prof. Dessie mengungkapkan bahwa berbagai faktor eksternal turut memperburuk kondisi kesehatan anak di tahun 2026 ini. Perubahan iklim yang semakin tidak menentu mengubah pola penyebaran penyakit secara global. Selain itu, karakteristik sosiokultural serta perilaku manusia memegang peranan vital dalam menentukan tingkat risiko paparan infeksi.
Pandemi COVID-19 yang melanda beberapa tahun terakhir juga meninggalkan dampak jangka panjang yang signifikan. Salah satunya, penurunan tajam pada cakupan imunisasi dasar anak di Indonesia. Alhasil, banyak anak kehilangan perlindungan terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dokter cegah, seperti influenza, campak, hingga cacar air, terutama saat musim hujan tiba.
Integrasi Budaya dalam Perawatan Kesehatan
Upaya medis modern kini menghadapi tantangan berupa keterikatan masyarakat pada tradisi tertentu. Prof. Dessie Wanda mengintegrasikan ilmu keperawatan modern dengan Culture Care Theory dari pakar keperawatan Amerika Serikat, Madeleine Leininger. Pendekatan ini mengakui bahwa efektivitas pengobatan anak sangat tergantung pada konteks budaya keluarga.
Tindakan keperawatan tidak selalu harus mengubah total budaya pasien di lapangan. Tenaga medis perlu melakukan langkah akomodasi atau negosiasi agar pengasuhan tetap berjalan tanpa melanggar prinsip budaya yang keluarga anut. Menariknya, strategi ini membantu perawat mendapatkan kepercayaan dari komunitas yang selama ini menutup diri terhadap medis.
Studi Kasus Penanganan Medis Berbasis Budaya
Prof. Dessie membagikan sejumlah pengalaman lapangan yang menunjukkan betapa krusialnya pendekatan budaya dalam praktik keperawatan. Salah satu contoh nyata muncul dari keterlibatan tenaga kesehatan dengan masyarakat Badui Dalam. Masyarakat ini memegang teguh pantangan penggunaan teknologi modern seperti kendaraan hingga tindakan medis tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Tim medis menangani kasus seorang anak Badui Dalam yang mengalami patah tulang. Awalnya, keluarga bersikeras memilih pengobatan tradisional melalui tukang urut lokal. Namun, kondisi anak tersebut justru memburuk seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, tim melakukan langkah culture care negotiation bersama pemangku adat setempat.
| Kategori Kasus | Pendekatan yang Tim Lakukan |
|---|---|
| Patah Tulang Badui Dalam | Negosiasi adat untuk perawatan di klinik terdekat |
| Tradisi Sei di NTT | Pendekatan edukatif untuk mengurangi risiko infeksi |
Negosiasi tersebut membuahkan hasil positif bagi kesehatan sang anak. Melalui pendekatan ini, anak mendapatkan perawatan medis yang sangat ia perlukan di klinik terdekat dari komunitas tanpa melanggar aturan adat yang berlaku. Faktanya, keberanian perawat dalam bernegosiasi menyelamatkan nyawa pasien tanpa harus memicu konflik sosial.
Mengelola Tradisi yang Berisiko bagi Kesehatan Anak
Selain kasus Badui Dalam, Prof. Dessie juga menyinggung tradisi Sei di Nusa Tenggara Timur. Masyarakat setempat melakukan prosesi pengasapan bagi ibu dan bayi baru lahir selama berhari-hari. Mereka meyakini praktik ini memberikan perlindungan spiritual dan fisik bagi sang buah hati sejak lahir.
Akan tetapi, paparan asap terus-menerus memicu risiko infeksi saluran pernapasan pada bayi dan ibu yang rentan. Oleh karena itu, perawat harus masuk ke ruang privat keluarga bukan untuk melarang, melainkan untuk memberikan edukasi secara persuasif. Tindakan ini menghormati nilai budaya sekaligus memberikan pemahaman mengenai dampak buruk bagi kesehatan pernapasan anak.
Pemerintah sendiri telah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi, termasuk tetap menahan kenaikan harga BBM bersubsidi sepanjang 2026. Anggaran ini menjadi pendukung aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat agar tetap terjaga dengan baik. Dengan demikian, sinkronisasi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran budaya masyarakat menjadi kunci menekan angka kematian anak.
Intinya, penanganan penyakit infeksi membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Tenaga medis, keluarga, dan tokoh masyarakat harus bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman bagi pertumbuhan anak. Pada akhirnya, upaya preventif seperti imunisasi dan edukasi kesehatan budaya akan menjadi investasi terbaik bagi masa depan generasi penerus bangsa.