Bukitmakmur.id – Pola asuh anak menjadi pusat perdebatan hangat di media sosial sepanjang tahun 2026 menyusul gaya pengasuhan kreator konten Denise Chariesta. Prof Dr Rose Mini Agoes Salim, M.Psi, Guru Besar Ilmu Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, menyoroti esensi pertumbuhan anak yang sering pihak tertentu abaikan di tengah riuhnya opini warganet.
Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan berfungsi sebagai penjelajah ulung di lingkungan sekitar. Orang tua wajib memberikan stimulasi yang tepat selama masa keemasan atau golden age karena fase ini sangat krusial bagi perkembangan kemampuan mereka di masa depan.
Memahami pola asuh anak di masa golden age
Pengalaman masa kecil membentuk dasar informasi yang anak miliki dalam dirinya. Prof Romy menegaskan bahwa pengalaman tersebut memperkaya dan mengembangkan kompetensi intelektual maupun emosional buah hati sejak usia dini.
Faktanya, orang tua memegang tanggung jawab besar untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam memori anak. Pengalaman yang orang tua berikan harus bersifat positif guna meningkatkan potensi diri, bukan justru membiarkan perilaku buruk berkembang tanpa kendali.
Menariknya, para ahli sering mengaitkan perdebatan konten pengasuhan yang dianggap kurang edukatif atau provokatif dengan tanggung jawab filter ini. Orang tua harus memastikan setiap paparan lingkungan mendukung perkembangan karakter anak secara maksimal.
Strategi orang tua dalam merespons perilaku anak
Salah satu poin krusial dalam dinamika keluarga adalah cara merespons perilaku ekspresif anak seperti menangis keras atau berteriak. Prof Romy menyarankan orang tua agar tidak terburu-buru menghakimi atau membiarkan perilaku tersebut tanpa pemahaman yang mendalam.
Sebenarnya, ada pesan tersirat di balik setiap perilaku ekspresif yang anak tunjukkan. Orang tua perlu menanyakan penyebab anak berteriak agar mereka memahami apa yang sebenarnya ingin anak sampaikan melalui aksinya tersebut.
Langkah bijak saat anak menunjukkan emosi
- Identifikasi apakah ada pesan atau kebutuhan yang ingin anak sampaikan.
- Pastikan kondisi fisik anak dalam keadaan sehat atau tidak sedang merasakan sakit.
- Ajak anak untuk belajar mengekspresikan diri dengan cara yang lebih tepat dan terukur.
Tentu saja, proses ini memerlukan kesabaran ekstra dari pihak orang tua. Dengan melakukan pendekatan, orang tua membantu anak mengelola emosi mereka secara lebih sehat sesuai perkembangan psikologis di tahun 2026.
Kapan menjadi bos dan kapan menjadi teman
Banyak perdebatan muncul mengenai kapan orang tua harus bersikap tegas layaknya bos dan kapan harus memposisikan diri sebagai teman. Menurut Prof Romy, keseimbangan antara kedua peran ini menjadi kunci utama kesuksesan pengasuhan.
Orang tua menjalankan peran sebagai ‘bos’ atau sosok otoritas saat memberikan batasan filter terhadap pengalaman negatif yang berpotensi merusak masa depan anak. Keputusan tegas diperlukan agar anak tidak menyerap perilaku yang tidak edukatif.
Di sisi lain, orang tua bisa mengambil peran sebagai teman saat anak membutuhkan ruang untuk bereksplorasi dan menceritakan rasa ingin tahunya yang besar. Hubungan emosional yang hangat membantu anak merasa aman untuk mengeksplorasi lingkungan mereka secara terbuka.
Tabel panduan stimulasi positif tahun 2026
| Kondisi Anak | Peran Orang Tua |
|---|---|
| Eksplorasi lingkungan baru | Teman pendukung (stimulasi) |
| Ekspresi emosi berlebihan/tantrum | Pemandu/Bos (filter perilaku) |
| Kebutuhan mendapatkan ilmu baru | Pemberi akses pengalaman positif |
Setiap orang tua memiliki tantangan unik dalam menerapkan pola asuh yang efektif. Fokus terhadap masa keemasan anak tetap menjadi prioritas utama agar mereka bisa tumbuh dengan kemampuan yang optimal dan kepribadian yang matang.
Pada akhirnya, kualitas komunikasi antara orang tua dan anak menjadi penentu keberhasilan pendidikan di rumah. Teruslah belajar dan menyesuaikan diri agar setiap langkah pengasuhan memberikan dampak positif jangka panjang bagi perkembangan anak tercinta.