Beranda » Berita » Produksi Freeport Indonesia Melambat signifikan pada 2026

Produksi Freeport Indonesia Melambat signifikan pada 2026

Bukitmakmur.id – PT Freeport Indonesia mencatat penurunan volume produksi mineral utama yang cukup tajam selama periode tahun 2026. Data menunjukkan angka produksi tembaga, emas, dan perak mengalami kontraksi hingga mendekati 50 persen dibandingkan capaian produksi tahun 2024 lalu.

Kondisi ini muncul seiring tantangan operasional hulu yang memengaruhi aktivitas tambang bawah tanah milik perseroan secara berkelanjutan. Gangguan operasional sepanjang tahun 2026 menjadi faktor utama yang memicu perlambatan kinerja produksi tambang kelas dunia tersebut.

Analisis Penurunan Produksi Freeport Indonesia 2026

Laporan terbaru tahun 2026 memaparkan angka produksi yang cukup jika kita bandingkan dengan periode tahun 2024. Perusahaan mencatat produksi tembaga sebesar 1,01 miliar pound pada 2026, padahal angka tersebut mencapai 1,79 miliar pound pada 2024.

Tren serupa juga terjadi pada emas dan perak. Produksi emas merosot hingga 937 ribu ounce, jauh turun dari capaian 1,86 juta ounce pada tahun 2024. Sementara itu, produksi perak turun menjadi 4,42 juta ounce dari sebelumnya 7,07 juta ounce pada periode yang sama.

Komoditas Produksi 2024 Produksi 2026
Tembaga 1,79 miliar pound 1,01 miliar pound
Emas 1,86 juta ounce 937 ribu ounce
Perak 7,07 juta ounce 4,42 juta ounce

Emas mencatat penurunan paling tajam dengan angka hampir menyentuh 50 persen. Komoditas tembaga dan perak menyusul dengan kontraksi signifikan. Capaian ini benar-benar mencerminkan tekanan besar pada produktivitas tambang, khususnya pada blok Grasberg yang menjadi tulang punggung operasional Freeport.

Baca Juga:  Panduan Cara Jual Emas Antam Agar Mendapatkan Harga Buyback Tertinggi

Dampak Gangguan Operasional terhadap Tambang Bawah Tanah

Gangguan operasional selama tahun 2026 memicu perlambatan ini secara langsung. Insiden pada area tambang bawah sempat menghentikan sebagian besar aktivitas produksi perusahaan. Alhasil, dinamika ini memaksa manajemen untuk melakukan penyesuaian target volume produksi.

Selain insiden tersebut, proses transisi metode penambangan juga memengaruhi efisiensi. Perusahaan mengubah fokus metode dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah. Peralihan ini memerlukan waktu panjang agar mesin dan mampu mencapai kapasitas optimal secara stabil.

Hambatan pada Sektor Hilirisasi Mineral

Dampak dari penurunan produksi ini merambah hingga ke sektor hilir perusahaan. Keterbatasan pasokan konsentrat membuat operasi smelter dan fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) tidak berjalan maksimal sepanjang tahun 2026. Padahal, pemerintah sangat mengandalkan kedua fasilitas ini dalam strategi besar hilirisasi mineral .

Meski menghadapi tantangan berat, perusahaan tetap menjalankan upaya pemulihan secara bertahap. Tim manajemen memulai restart operasi pada beberapa area tambang yang tidak terdampak insiden. Langkah ini bertujuan untuk memulihkan alur pasokan konsentrat segera mungkin.

Proyeksi Kinerja di Masa Depan

Perusahaan menyiapkan kapasitas produksi lebih besar dari tambang bawah tanah untuk beberapa tahun ke depan. Pengembangan ini bertujuan untuk mengembalikan kejayaan setelah selesai membangun seluruh fasilitas hilirisasi yang dibutuhkan. Dengan demikian, perusahaan bisa meningkatkan nilai tambah produk mineral secara signifikan di dalam negeri.

Ke depan, perusahaan akan sangat bergantung pada keberhasilan stabilisasi operasi tambang bawah tanah. Manajemen juga mempercepat langkah ramp-up produksi di area utama seperti Grasberg Block Cave. Jika proses percepatan ini berjalan sesuai rencana, volume produksi kemungkinan akan kembali meningkat dan memperbaiki perusahaan secara menyeluruh.

Baca Juga:  Armada Logistik Laut Pertamina Patra Niaga Jaga Ketahanan Energi 2026

Upaya konsisten dalam mengatasi kendala operasional menjadi kunci bagi perusahaan untuk melewati masa sulit ini. Dedikasi tim teknis dalam menstabilkan akan menentukan seberapa cepat Freeport kembali ke tingkat produktivitas normal di tahun-tahun mendatang.