Bukitmakmur.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan program mudik ke Jakarta berhasil mendorong peningkatan signifikan jumlah wisatawan dan pengguna transportasi umum selama periode Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026. Lonjakan mobilitas ini mencerminkan antusiasme masyarakat untuk mengunjungi dan beraktivitas di Ibu Kota.
Data yang dihimpun Pemprov DKI menunjukkan tren positif dari dua sektor utama. Pertama, kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi unggulan melonjak drastis. Kedua, pengguna moda transportasi publik seperti MRT dan LRT mengalami peningkatan nyata.
“Program Mudik ke Jakarta tidak hanya mendorong pergerakan ekonomi, tetapi juga meningkatkan penggunaan transportasi publik secara signifikan,” kata Pramono kepada wartawan pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Lonjakan Pengguna Transportasi Publik Jakarta
Pengguna MRT mencapai angka 135.117 penumpang, meningkat sekitar 59 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya diri menggunakan transportasi massal untuk mobilitas mereka di Jakarta.
Selain itu, LRT mencatat 9.987 penumpang dengan peningkatan sekitar 6 persen. Kombinasi kedua moda transportasi ini membuktikan efektivitas kebijakan integrasi transportasi publik yang Pemprov DKI terapkan.
Menariknya, pertumbuhan pengguna MRT yang mencapai 59 persen jauh melampaui pertumbuhan LRT. Fakta ini mengindikasikan bahwa rute MRT memiliki daya tarik lebih besar bagi pengunjung dan warga yang mudik ke Jakarta.
Rekor Kunjungan di Destinasi Wisata Unggulan
Sektor pariwisata juga menunjukkan performa luar biasa selama musim liburan Lebaran 2026. Kawasan Monas mencatat 126.790 pengunjung, sementara Taman Margasatwa Ragunan menerima 222.991 pengunjung yang jauh lebih tinggi.
Tidak hanya itu, kawasan Ancol juga ramai dengan sekitar 155.000 pengunjung selama masa libur Lebaran. “Angka-angka ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk menikmati Jakarta sebagai destinasi wisata sekaligus kota aktivitas,” ujar Pramono.
Data kunjungan wisata menunjukkan bahwa program mudik ke Jakarta berhasil menggerakkan sektor pariwisata secara menyeluruh. Tiga destinasi utama tersebut menjadi bukti nyata bahwa Jakarta mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.
Nilai Transaksi Program Mudik Capai Rekor Tertinggi
Hingga sebelum perayaan Lebaran, nilai transaksi program mudik ke Jakarta mencapai sekitar Rp21 triliun. Angka ini mencakup pengeluaran untuk tiket transportasi, akomodasi, belanja, dan berbagai aktivitas pariwisata lainnya.
Pramono optimis target yang lebih tinggi masih bisa tercapai. “Kami berharap hingga 31 Maret dapat melampaui Rp25 triliun,” tambahnya. Proyeksi ini menunjukkan bahwa momentum ekonomi dari program mudik terus berlanjut hingga akhir periode yang ditetapkan.
Dengan nilai transaksi yang besar, program mudik ke Jakarta menjadi salah satu pendorong ekonomi digital dan offline yang signifikan bagi Ibu Kota. Alhasil, berbagai sektor bisnis dari perhotelan hingga ritel mengalami peningkatan omset berkat lonjakan kunjungan ini.
Pelayanan Publik Tetap Optimal Meski Mobilitas Melonjak
Pramono menekankan bahwa peningkatan mobilitas ini tetap diimbangi dengan pelayanan publik berkualitas tinggi. “Selama periode mudik hingga Lebaran, pelayanan publik berjalan baik dan tidak ada keluhan signifikan dari masyarakat,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan sumber daya manusia Jakarta mampu menangani lonjakan beban kerja tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Oleh karena itu, program mudik ke Jakarta bukan hanya berhasil secara ekonomi, tetapi juga operasional.
Kebijakan Fleksibilitas Kerja Pascaliburan Lebaran
Lebih lanjut, Pemprov DKI menerapkan kebijakan fleksibilitas kerja sesuai arahan pemerintah pusat pada periode transisi pascaliburan Lebaran. Skema work from office (WFO) dan work from anywhere (WFA) masih berlaku untuk memberikan ruang adaptasi bagi pegawai dan institusi.
“Pengaturan ini bertujuan menjaga keberlanjutan layanan publik agar tetap berjalan baik. Kami memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu meski ada fleksibilitas kerja,” tutur Pramono. Kebijakan ini dirancang untuk mencegah overload sistem pelayanan publik setelah periode libur yang padat.
Dengan menerapkan kombinasi WFO dan WFA, Pemprov DKI mencoba menciptakan keseimbangan antara kebutuhan operasional dan kesejahteraan pegawai. Strategi ini diharapkan dapat mempertahankan produktivitas sambil memberikan waktu penyesuaian bagi aparatur.
Jakarta Tetap Terbuka untuk Semua Pengunjung dan Pekerja
Pramono juga menegaskan bahwa Jakarta tetap membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin datang dan bekerja. Akan tetapi, pembukaan ini tetap memperhatikan kesiapan dan kapasitas masing-masing individu maupun institusi.
“Jakarta terbuka bagi siapa saja, tetapi harus diimbangi kesiapan dan kapasitas untuk bekerja. Kami ingin setiap orang yang datang dapat berkontribusi positif,” pungkasnya. Pernyataan ini mencerminkan visi Pemprov DKI untuk menjaga kualitas kontribusi setiap individu yang masuk ke Jakarta.
Dengan penekanan pada kontribusi positif, Pramono mengajak seluruh stakeholder untuk memastikan bahwa program mudik dan kebijakan mobilitas Jakarta tidak hanya meningkatkan angka wisatawan, tetapi juga kualitas pengalaman serta manfaat berkelanjutan bagi kota.