Beranda » Berita » Real Madrid vs Bayern Munchen: Sejarah Panjang Raksasa Eropa

Real Madrid vs Bayern Munchen: Sejarah Panjang Raksasa Eropa

Bukitmakmur.idReal Madrid menjamu Bayern Munchen pada leg pertama perempat Liga Champions 2025/2026 di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu (8/4) dini hari WIB. Pertandingan ini menjadi babak terbaru persaingan klasik dua raksasa Eropa yang sudah berlangsung selama lima dekade penuh sejak 1976.

Kedua kesebelasan mencatat pertemuan panjang sejak edisi pertama UEFA European Cup musim 1975/1976. Saat itu, Bayern Munchen memenangkan babak semifinal dan mengunci gelar juara di partai final sebelum menggondol trofi tersebut tiga kali berturut-turut.

Real Madrid vs Bayern Munchen: Sejarah Rivalitas 50 Tahun

Sejak pertemuan perdana setengah abad lalu, dan Bayern Munchen sudah saling beradu taktik sebanyak 28 kali. Los Blancos memenangkan 13 pertandingan, sementara Die Roten mengumpulkan 11 kemenangan dan empat laga lainnya berakhir imbang. Pergulatan ini konsisten menghadirkan drama panas setiap kali kedua klub bertemu di panggung tertinggi Benua Biru.

Tren menunjukkan Real Madrid lebih mendominasi dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Kenyataannya, Bayern Munchen terakhir kali menyingkirkan Real Madrid saat fase semifinal Liga Champions 2011/2012 melalui drama adu yang melelahkan. Sejak saat itu, setiap perjumpaan melawan Los Blancos kerap menghentikan langkah klub Jerman tersebut menuju ambisi juara.

Kini, kesempatan Bayern Munchen untuk membalikkan kutukan sejarah terbuka lebar. Statistik tim asuhan Vincent Kompany memberikan bukti nyata kekuatan mereka musim ini dengan performa impresif di berbagai kompetisi domestik maupun internasional.

Statistik Perbandingan Kekuatan

Kategori Detail
Total Pertemuan 28 Laga
Kemenangan Madrid 13 Kali
Kemenangan Bayern 11 Kali
Hasil Imbang 4 Kali
Baca Juga:  Hasil Bali United vs PSBS Biak: Serdadu Tridatu Pesta Gol

Performa Bayern Munchen di Musim 2026

Vincent Kompany berhasil membawa Bayern Munchen tampil dominan dengan hanya mencatat dua kekalahan dari 43 pertandingan di semua kompetisi. Bahkan di panggung Liga Champions, Harry Kane dan kawan-kawan hanya menelan satu kekalahan saat kontra Arsenal. Mereka bahkan menunjukkan taring tajam saat melibas Atalanta dengan agregat 10-2 di babak 16 besar.

Tidak hanya itu, Die Roten tetap tampil konsisten meskipun Jamal Musiala sedang dalam fase pemulihan . Menariknya, mereka memetik tiga kemenangan dari empat laga terakhir tanpa kehadiran sang gelandang serang. Kehadiran pemain muda berusia 18 tahun, Lennant Karl, memberikan dimensi serangan baru bagi tim.

Lennant Karl berperan sebagai motor serangan yang mematikan dan memperkaya opsi taktik Kompany selain bersandar pada Serge Gnabry. Meski Harry Kane diragukan tampil karena cedera pergelangan kaki, Nicolas Jackson siap mengisi peran juru gedor utama sejak peluit awal berbunyi.

Tantangan Arbeloa di Kubu Real Madrid

menghadapi tantangan berat dalam menjaga stabilitas skuad Real Madrid musim ini. Hingga 18 laga memimpin, sang pelatih muda masih berjuang menemukan formasi terbaik di tengah badai cedera pemain bintang. Fakta kekalahan 1-2 kontra Albacete di Copa del Rey menjadi noda hitam bagi debut kepelatihan Arbeloa.

Selain itu, kekalahan akhir pekan lalu saat menghadapi RCD Mallorca semakin menegaskan adanya masalah mendasar dalam skema permainan Real Madrid. Arbeloa harus memutar otak setelah empat pemain pilar yakni Rodrygo, Dani Ceballos, Thibaut Courtois, dan Ferland Mendy menepi karena cedera. Kehilangan sosok vital ini menuntut rotasi pemain secara cermat.

Pihak manajemen menyiapkan solusi darurat untuk mengisi posisi yang kosong. Andriy Lunin memegang peran kiper utama menggantikan Courtois, sementara Alvaro Carreras mengisi bek kiri. Di lini tengah, Thiago Pitarch mendapat tanggung jawab besar menggantikan peran Ceballos. Kestabilan sektor pertahanan akan mendapat ujian berat saat menghadapi trisula maut Bayern yakni Michael Olise, Nicolas Jackson, dan Luis Diaz.

Baca Juga:  Hukuman Mati Palestina: Israel Sahkan UU Kontroversial 2026

Pertandingan ini menyajikan pertaruhan gengsi sekaligus pembuktian bagi kedua pelatih. Apakah Bayern Munchen mampu menghapus kutukan lima dekade, atau justru Real Madrid menunjukkan mental juara di Santiago Bernabeu?