Bukitmakmur.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan hingga menembus angka Rp 17.000. Pelemahan rupiah 2026 ini terjadi seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap potensi meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah, khususnya setelah kelompok Houthi menyatakan dukungan kepada Iran dalam konflik melawan AS-Israel.
Mengutip data dari Bloomberg, rupiah melemah sebesar 22 poin atau setara dengan 0,13 persen, sehingga mencapai posisi Rp 17.002 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 30 Maret 2026. Pada hari perdagangan sebelumnya, nilai mata uang Garuda tercatat berada di level Rp 16.979 per dolar AS. Lantas, apa saja faktor penentu nasib rupiah hingga bisa menyentuh level tersebut?
Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Rupiah Melemah
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pasar masih sangat waspada terhadap potensi eskalasi perang antara Iran dan aliansinya. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman, dengan dukungan dari Iran, telah melancarkan serangan terhadap Israel pada akhir pekan lalu. Langkah ini berpotensi membuka front baru dalam konflik, mengingat kemampuan Houthi untuk menyerang di wilayah Laut Merah.
Ibrahim menambahkan, Iran telah menyatakan kesiapannya untuk menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat. Hal ini diperkuat oleh laporan yang menyebutkan bahwa Washington telah mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Ketidakpastian Kebijakan The Fed Tekan Rupiah
Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi Amerika Serikat dan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), turut memberikan sentimen eksternal yang membebani nilai tukar rupiah. Data ekonomi terbaru menunjukkan adanya peningkatan kekhawatiran di kalangan konsumen AS terhadap kondisi perekonomian.
Universitas Michigan melaporkan bahwa sentimen konsumen pada bulan Maret 2026 mengalami penurunan dari 55,5 menjadi 53,3, berada di bawah perkiraan awal yaitu 54. Tidak hanya itu, ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan juga mengalami kenaikan signifikan dari 3,4 persen pada Februari menjadi 3,8 persen. Sementara itu, ekspektasi inflasi untuk periode lima tahun mendatang masih tetap stabil di angka 3,2 persen.
Nah, kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa The Fed akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih ketat untuk mengendalikan inflasi. Pasar saat ini memperkirakan bahwa langkah selanjutnya dari The Federal Reserve adalah menaikkan suku bunga, terutama mengingat skenario harga energi yang tinggi.
Trump dan Negosiasi dengan Iran
Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan kepada wartawan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Akan tetapi, ia tidak memberikan tenggat waktu yang jelas dan juga memperingatkan adanya potensi serangan lebih lanjut terhadap Teheran.
Dampak Perpanjangan Tenggat Waktu Serangan Iran
Trump, pada pekan lalu, memperpanjang tenggat waktu untuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April 2026. Iran sendiri sebagian besar menolak gagasan pembicaraan langsung dengan AS sejak dimulainya perang pada akhir Februari 2026.
Lantas, bagaimana kelanjutan negosiasi ini akan memengaruhi stabilitas rupiah?
BI Perkuat Instrumen Repo Valas Jaga Rupiah
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memperkuat instrumen repo valas. Instrumen ini memungkinkan BI untuk melakukan intervensi di pasar valas guna menjaga volatilitas rupiah tetap terkendali.
Selain itu, BI juga terus memantau perkembangan situasi global dan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia. Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus dilakukan untuk memastikan efektivitas kebijakan yang diambil.
Kesimpulan
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Eskalasi konflik di Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan The Fed, dan sentimen negatif dari data ekonomi AS memberikan tekanan pada rupiah. Meski begitu, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Kita berharap, langkah-langkah yang diambil dapat membuahkan hasil positif dan menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah ketidakpastian global.