Bukitmakmur.id – Nilai tukar rupiah terus melanjutkan tren pelemahan di atas posisi Rp17.000 per dolar AS selama sepekan terakhir. Ketidakpastian global yang muncul akibat eskalasi konflik di Timur Tengah menekan performa mata uang domestik hingga penutupan perdagangan Jumat, 10 April 2026, pada level Rp17.104 per dolar AS dengan koreksi sebesar 14 poin atau sekitar 0,08 persen.
Para pelaku pasar memprediksi pergerakan rupiah akan terus berfluktuasi pada pekan depan yaitu 13 April 2026. Proyeksi menunjukkan mata uang lokal menempati rentang Rp17.110 hingga Rp17.160 per dolar AS. Ibrahim Assuaibi selaku Pengamat Mata Uang dan Komoditas menyatakan bahwa dalam sepekan ke depan, rupiah bakal bergerak pada kisaran Rp17.040 hingga Rp17.200 per dolar AS.
Analisis Rupiah bertahan di level Rp17 ribuan
Pelemahan nilai tukar rupiah ini mengundang perhatian serius dari para analis ekonomi. Berbagai sentimen negatif dari pihak eksternal memengaruhi kestabilan pasar keuangan Indonesia secara drastis. Faktor utama pemicu kondisi ini adalah dinamika konflik antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel yang semakin memanas sejak akhir Februari 2026.
Meskipun pihak Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan, kondisi lapangan tetap rapuh. Pertempuran masih sering terjadi setelah pengumuman kesepakatan tersebut. Selain itu, Israel sempat memberikan sinyal pembukaan jalur diplomatik melalui pembicaraan langsung dengan Lebanon, namun ketegangan geopolitik di kawasan Teluk belum mereda sepenuhnya.
Gangguan Selat Hormuz memicu tekanan ekonomi
Penutupan Selat Hormuz di tengah konflik aktif mengganggu jalur pelayaran internasional secara signifikan. Lalu lintas kapal melalui selat vital tersebut merosot jauh di bawah 10 persen dari volume normal pada Kamis kemarin. Pihak otoritas Teheran memperingatkan kapal-kapal untuk tetap berada di perairan teritorial mereka untuk menghindari risiko lebih lanjut.
Terdapat beberapa tantangan besar yang para ahli soroti terkait situasi ini. Pertama, Pakistan memiliki keterbatasan pengaruh untuk mendorong kesepakatan damai permanen guna membuka kembali jalur strategis tersebut. Kedua, keinginan Iran untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas mendapat penolakan keras dari negara-negara Barat dan badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Posisi penutupan 10 April 2026 | Rp17.104 per dolar AS |
| Prediksi rentang pekan depan | Rp17.040 – Rp17.200 per dolar AS |
Dampak kerusakan infrastruktur energi
Jalur distribusi utama untuk minyak dan gas ini praktis tidak berfungsi sejak konflik bermula pada 28 Februari 2026. Laporan JPMorgan mengindikasikan sekitar 50 aset infrastruktur di kawasan teluk mengalami kerusakan berat akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam pekan. Kapasitas penyulingan minyak sebesar 2,4 juta barel per hari kini terhenti total.
Kondisi infrastruktur yang rusak parah tersebut membatasi pasokan energi global secara masif. Hal ini kemudian memberikan tekanan tambahan bagi pasar modal dan mata uang di banyak negara berkembang. Pasar juga mencermati rilis data inflasi konsumen atau consumer price index (CPI) Amerika Serikat untuk menentukan kebijakan moneter bank sentral Amerika, The Federal Reserve.
Proyeksi kebijakan ekonomi ke depan
Para ekonom memprediksi lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah akan mendorong kenaikan CPI utama Amerika Serikat. Kenaikan harga ini berpotensi merubah arah kebijakan bank sentral negeri Paman Sam tersebut. Dengan demikian, pelaku pasar keuangan perlu bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
Pemerintah dan otoritas moneter Indonesia tentu terus memantau pergerakan rupiah agar tetap terjaga di tengah tekanan eksternal yang kuat. Meskipun rupiah bertahan di level Rp17 ribuan, langkah antisipatif tetap menjadi kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Ketahanan ekonomi nasional perlu dukungan kuat agar volatilitas pasar keuangan tidak berdampak lebih buruk bagi stabilitas harga domestik.