Bukitmakmur.id – Shell Malaysia berupaya keras memulihkan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai stasiun pengisian setelah muncul laporan kelangkaan stok bagi pelanggan. Perusahaan ritel minyak dan gas ini mengambil langkah cepat guna menjaga kelancaran pasokan di seluruh jaringan ritel mereka tepat setelah pemerintah Malaysia mengumumkan kenaikan harga diesel secara resmi.
Situasi pasar yang dinamis memicu lonjakan permintaan dalam waktu singkat sehingga mengganggu keseimbangan pasokan di beberapa lokasi SPBU. Shell Malaysia mengakui tantangan ini dan memprioritaskan upaya pemulihan demi menjaga keberlanjutan distribusi BBM bagi masyarakat, sebagaimana laporan The Edge pada Jumat (10/4/2026).
Dampak Kenaikan Stok BBM Shell Malaysia dan Penyesuaian Logistik
Pihak perusahaan kini melakukan penyesuaian intensif terhadap sistem distribusi serta logistik untuk merespons perubahan pola permintaan konsumen. Meskipun Shell Malaysia belum merinci sejauh mana gangguan pasokan berlangsung, pengelola SPBU menegaskan komitmen perusahaan untuk mengelola situasi lapangan agar dampak bagi pelanggan tetap minimal.
Kementerian Keuangan Malaysia pada 8 April 2026 secara resmi mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar yang signifikan di seluruh negeri. Keputusan ini mendorong kenaikan harga diesel di Semenanjung Malaysia hingga mencapai rekor tertinggi di angka 6,72 ringgit Malaysia atau setara Rp28.963 per liter.
Tidak hanya diesel, harga RON97 juga mengalami lonjakan sebesar 40 sen menjadi 5,35 ringgit Malaysia, atau sekitar Rp23.058 per liter. Pemerintah menjelaskan bahwa perubahan harga ini mencerminkan rata-rata harga mingguan yang berlaku di pasar.
Di sisi lain, kebijakan ini belum mencerminkan perkembangan ekonomi global terkini secara menyeluruh. Konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, terus memberikan tekanan pada pasar minyak internasional dan memengaruhi penetapan harga di dalam negeri.
Manajemen Modal Kerja di Tengah Fluktuasi Harga
Operator SPBU kini menghadapi tantangan dalam mengelola modal kerja antara kegiatan penjualan BBM dan pengisian ulang stok pasokan. Hal ini terjadi akibat tekanan subsidi pemerintah yang meningkat seiring lonjakan harga BBM non-subsidi, sementara harga BBM bersubsidi tetap terjaga.
Pemerintah Malaysia mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk membantu meringankan beban masyarakat. Berikut adalah rincian perbandingan harga yang berlaku setelah pengumuman kebijakan tersebut:
| Jenis BBM | Harga (Ringgit) | Harga (Rupiah) |
|---|---|---|
| Diesel | 6,72 | Rp28.963 |
| RON97 | 5,35 | Rp23.058 |
| RON95 (Subsidi) | 1,99 | Rp8.576 |
Faktanya, fluktuasi harga global menciptakan ketidakpastian tinggi terhadap keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi geopolitik ini secara langsung menyentuh harga minyak mentah Brent yang diperdagangkan sekitar 98 dolar AS atau setara Rp390 per barel pada Kamis.
Adanya kondisi ekonomi yang volatil menuntut ketelitian Pemerintah dalam menetapkan kebijakan BBM ke depan. Para ahli ekonomi menyarankan pemerintah untuk berhati-hati dalam menanggapi dinamika global agar stabilitas energi tetap terjaga bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, Shell Malaysia akan terus memantau situasi pasar agar pasokan BBM kembali normal di seluruh jaringan stasiun pengisian. Langkah mitigasi ini menjadi krusial agar kebutuhan energi konsumen tetap terpenuhi meski di tengah tantangan harga dan logistik yang bersifat dinamis sepanjang tahun 2026 ini.