Bukitmakmur.id – Bank Sampoerna mencatat kenaikan signifikan pada Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga mencapai Rp 13,44 triliun sepanjang periode 2026. Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengungkapkan keberhasilan ini saat memberikan keterangan resmi di Jakarta pada Selasa (14/4/2026).
Pencapaian angka tersebut memperkuat posisi likuiditas perusahaan di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional. Manajemen bank meyakini bahwa pertumbuhan ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat dan nasabah terhadap layanan keuangan mereka selama tahun 2026.
Strategi Bank Sampoerna Memperkuat DPK
Bank Sampoerna melakukan berbagai upaya strategis untuk memastikan dana nasabah terus tumbuh secara stabil. Salah satu langkah konkret adalah peningkatan komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mampu mereka bukukan hingga mencapai 22,73% per 2026. Angka ini melonjak tajam jika membandingkan dengan posisi akhir tahun 2024 yang hanya menyentuh angka 16,12%.
Peningkatan komposisi dana murah tersebut memberikan dampak positif bagi struktur pendanaan perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, Henky Suryaputra menegaskan bahwa tren kenaikan ini membantu memperkuat komposisi rasio dana murah korporasi secara signifikan. Nasabah kini memberikan kepercayaan lebih besar kepada bank dalam mengelola arus kas serta simpanan mereka.
Tidak hanya fokus pada penghimpunan dana, pihak bank juga menjaga efisiensi operasional secara ketat. Dengan demikian, mereka mampu menyeimbangkan antara kebutuhan likuiditas dan pemberian layanan perbankan yang prima bagi nasabah setia.
Dukungan Berkelanjutan bagi Sektor UMKM
Bank Sampoerna menempatkan UMKM sebagai pilar krusial dalam struktur ekonomi nasional Indonesia pada 2026. Apabila terjadi perlambatan ekonomi yang menggerus sektor ini, dampak negatifnya akan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat secara luas. Akibatnya, bank memilih untuk mengambil peran proaktif sebagai mitra pendukung utama bagi para pelaku usaha kecil dan menengah.
Perusahaan terus memberikan dukungan melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan bagi sektor UMKM. Komitmen tersebut terlihat jelas dari portofolio penyaluran kredit per Desember 2026 yang menempatkan UMKM pada komposisi sebesar 57,16% dari total kredit yang perusahaan salurkan. Langkah ini membuktikan keseriusan bank dalam menjaga roda ekonomi tetap berputar di sektor akar rumput.
Selain pembiayaan langsung, bank juga melakukan pendampingan intensif kepada para pelaku UMKM. Bank Sampoerna berkolaborasi dengan berbagai mitra strategis demi memastikan pertumbuhan usaha yang mereka bina bersifat tahan lama dan berkelanjutan. Strategi kolaboratif ini menjadi kunci utama agar UMKM mampu bertahan di tengah ketidakpastian pasar.
Tantangan Ekonomi Global dan Respons Perbankan
Henky Suryaputra menyampaikan bahwa situasi ekonomi tahun 2026 memiliki tantangan tersendiri bagi industri perbankan nasional. Kondisi global dan domestik menghadirkan hambatan seperti perlambatan permintaan dalam negeri yang cukup terasa. Fenomena ini tampak nyata dari moderasi konsumsi rumah tangga serta pertumbuhan kredit yang lebih terbatas, terutama pada segmen UMKM.
Meski menghadapi tantangan tersebut, bank tetap menjaga optimisme dengan menerapkan tata kelola yang prudent. Bank senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap langkah penyaluran kredit berkualitas. Dengan cara ini, risiko kegagalan kredit mampu mereka tekan demi melindungi kesehatan aset perusahaan di masa depan.
Sebagai gambaran, bank mencatat rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross berada pada level 3,79% per akhir tahun 2026. Sementara itu, rasio NPL Net berada di angka 2,28%. Data statistik ini menunjukkan perbaikan kualitas aset jika dibandingkan dengan performa akhir tahun 2024.
Tabel Perbandingan Kinerja Bank Sampoerna
| Indikator Kinerja | Posisi Akhir 2026 |
|---|---|
| Total DPK | Rp 13,44 Triliun |
| Porsi Dana Murah (CASA) | 22,73% |
| NPL Gross | 3,79% |
| NPL Net | 2,28% |
Menariknya, pencapaian rasio NPL yang lebih baik dibanding tahun 2024 menunjukkan ketangguhan manajerial bank. Seluruh elemen internal bekerja keras memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan lancar tanpa mengabaikan aspek keamanan dana masyarakat. Pada akhirnya, konsistensi ini menjadi fondasi utama bagi Bank Sampoerna dalam melangkah ke tahun-tahun berikutnya.
Keberhasilan bank menghimpun DPK sebesar Rp 13,44 triliun pada 2026 membuktikan bahwa strategi berorientasi pada UMKM serta manajemen risiko yang hati-hati membuahkan hasil positif. Pihak manajemen optimistis bahwa dukungan berkelanjutan bagi sektor usaha kecil akan terus memperkuat posisi keuangan perusahaan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.