Bukitmakmur.id – Harga minyak acuan dunia melonjak signifikan sebesar 8% hingga menembus angka di atas US$ 100 per barel pada Senin (13/4/2026). Lonjakan harga minyak ini terjadi menyusul pengumuman resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana blokade Selat Hormuz setelah perundingan dengan pihak Iran menemui jalan buntu.
Situasi ini memicu kekhawatiran global terkait krisis energi yang kian nyata. Selain itu, para pelaku pasar energi merespons kebijakan tersebut dengan kepanikan masif, mengingat peran penting jalur tersebut dalam rantai pasokan dunia.
Dampak Lonjakan Harga Minyak di Pasar Global
Data pasar menunjukkan kenaikan drastis pada komoditas energi utama pada Senin (13/4/2026). Harga minyak Brent melesat 8,4% menjadi US$ 103,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan kenaikan 8,9% ke level US$ 105,12 per barel.
Tidak hanya minyak mentah, data Bloomberg melaporkan kenaikan harga gas berjangka Eropa hingga hampir 18%. Kondisi ini memperburuk situasi ekonomi internasional yang sebelumnya sudah menanggung beban tekanan inflasi sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026.
Para trader di seluruh dunia saat ini berebut untuk mengamankan kargo minyak mentah siap kirim di tengah stok yang kian mengetat. Alhasil, banyak kilang minyak di berbagai negara mengalami kesulitan logistik yang luar biasa.
Rencana Blokade Selat Hormuz oleh AS
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi penerapan blokade ini mulai Senin (13/4/2026) pukul 10.00 waktu New York. Kebijakan ini menyasar secara eksklusif kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.
Presiden Donald Trump menegaskan ketegasannya melalui pernyataan resmi yang Bloomberg kutip pada Senin (13/4/2026). Ia menyatakan bahwa militer AS bakal menghancurkan setiap pihak Iran yang melepaskan tembakan ke arah kapal mereka atau kapal milik sipil.
Tabel Perbandingan Kenaikan Komoditas Energi
| Komoditas | Kenaikan | Harga Akhir (USD) |
|---|---|---|
| Minyak Brent | 8,4% | 103,21 |
| WTI | 8,9% | 105,12 |
Selain melakukan blokade, Trump mempertimbangkan langkah lanjutan berupa serangan militer terbatas. Aksi ini menunjukkan eskalasi ketegangan yang kian frontal antara Washington dan Teheran pasca kegagalan negosiasi di Islamabad.
Pentingnya Selat Hormuz Bagi Pasokan Migas
Selat Hormuz memegang peran krusial sebagai jalur pengiriman migas utama dari Teluk Persia menuju pasar global. Sebelum perang pecah, rute ini memuat sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Meski Iran sudah membatasi akses sejak konflik dimulai, blokade total kali ini menciptakan ancaman yang jauh lebih besar.
Teheran selama ini menekan pihak AS dengan cara memungut pembayaran bagi kapal-kapal tertentu yang melintas. Hal ini membuat banyak pihak di Washington merasa frustrasi karena lalu lintas kapal tetap berada di bawah level normal.
Di sisi lain, pengamat dari Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, meragukan efektivitas ambisi Washington tersebut. Mona menilai langkah blokade ini justru menyulitkan situasi dan tidak memberikan solusi praktis bagi gangguan pasokan yang terjadi.
Kegagalan Diplomasi AS dan Iran
Perundingan antara delegasi AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan berarti. Padahal, dunia sempat menaruh harapan besar pada keberlangsungan gencatan senjata yang disepakati pekan lalu.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Washington menuntut komitmen penuh Iran agar tidak mengembangkan senjata nuklir. Sayangnya, pihak Iran melalui kantor berita Tasnim menyebut tuntutan tersebut sebagai permintaan yang berlebihan.
Alhasil, dua buah kapal yang sempat melintas di selat memilih untuk berbalik arah secara mendadak setelah berita kegagalan negosiasi tersebar luas. Ketidakpastian politik ini membuat tren harga energi terus bergerak fluktuatif di pasar internasional.
Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa stabilitas pasokan energi dunia masih bergantung pada dinamika geopolitik yang sulit diprediksi. Seluruh mata dunia kini tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz, sembari menunggu langkah diplomatik atau militer selanjutnya yang mungkin diambil oleh kedua belah pihak.